Pages

Monday, April 23, 2012

Untuk Kekasihku


Untuk kekasihku yang berada di salah satu tempat di bumi ini. Jarak memisahkan kita, dia yang membuat kita jauh. Mimpi, dia juga membuatku jauh darimu. Karenanya aku harus pergi dari sisimu meski hati kita masih tertaut oleh sebuah hubungan.
Kamu ingat butiran air mata saat aku pergi? Aku tahu kamu sama sekali tak menginginkan aku pergi, tidak dari sisi ataupun hati dan pikiranmu. Aku tahu apa yang bergejolak dalam hatimu, karena aku juga merasakannya.
Sejak hari itu kita hanya selalu ‘berdua’ di dunia maya. Mengunjungi setiap waktu hanya untuk mengetahui bagaimana kabar masing-masing. Kita masih saling mengerti meski melalui dunia maya. Kita masih seperti biasanya, bahkan mungkin dunia maya benar-benar menjadi dunia kedua kita. Kita masih saling menjaga, saling mengatakan bahwa kita rindu sambil menggenggam cinta. Sampai suatu hari kamu merobek hatiku.
“Duakan saja aku, sayang.” Katamu di malam gerimis itu, tepat enam bulan sejak aku pergi.
Kenapa? Apa kamu sudah melupakan aku? Atau kamu juga punya pria lain disana? Apa kamu sudah membagi tempat kesayanganmu kepada oranglain? Pertanyaan semacam itu terus muncul dan memenuhi otakku.
“Tak mungkin. Aku hanya ingin bersamamu bukan yang lain.” Bagaikan omongan anak kecil yang sedang belajar bicara, ucapanku sambil menahan perih itu hanya diabaikan olehmu.
Tak tahukah kamu, aku tak ingin kamu melukai perasaanmu sendiri. Ini memang berat, aku juga merasakannya. Memang, aku dulu buaya darat, tapi sekarang tidak. Tidak denganmu. Aku hanya ingin jadi yang terbaik untukmu.
Kamu terlalu baik untuk kulukai. Terlalu indah untuk kucabik perasaanmu. Kamu terlalu cantik. Kamu terlalu.........aku tak bisa lagi menyebutkannya. Terlalu banyak hal baik padamu, dan aku benar-benar mencintaimu. Semua kesederhanaanmu.
Aku juga tak ingin melukai perasaan gadis lain. Kamu tahu ini juga takkkan mudah untukku. Menjalani hubungan dengan orang yang tak ku kenal. Aku tak mungkin membiarkan gadis itu perlahan menggantikan posisimu.
“Lakukan saja, aku hanya tak ingin kamu kesepian disana.” Kamu terus membujuk. Tak pernah puas dengan jawabanku yang selalu saja menolak untuk melakukannya.
“Lakukan saja, dia hanya pendampingmu.” Aku tahu sebenarnya kamu tak pernah menginginkan ini, aku tahu kamu hanya ingin terdengar kuat padahal hatimu tercabik.
“Bagaimana kalau dia memanggilku ‘sayang’ dan setiap hari dia mengirim kalimat ‘I love you’?  Dan bagaimana jika dia benar-benar jatuh cinta padaku? Apa kamu juga rela?” Sunyi. Aku masih menunggu jawabanmu, berharap kamu akan mengatakan membatalkan keinginan konyolmu itu.
Perlahan suaramu kembali terdengar dari ujung telpon. Sedikit bergetar dan aku tahu kamu terluka, sangat terluka oleh keinginanmu sendiri. “Yang penting kamu menjaga hatimu untukku.”
Setelah hari itu aku mulai menjalin hubungan dengan seorang gadis. Kamu tahu, aku merasakan sakit saat mengatakan padanya aku mencintainya. Kamu tahu kan, itu hanya kata-kata dari bibirku bukan dari hatiku, bahkan mataku tak pernah mengatakan aku mencintainya.
Aku tak mau lagi membayangkan bagaimana ekspresimu. Aku harap kamu masih ingat, aku tak ingin melihatmu menangis lagi. Aku tak pernah berniat untuk menyakitimu, ini semua karena kamu yang menginginkan.
Kita masih bersatu. Kita masih bersama dan saling percaya. Inikah caramu agar aku menjaga hati ini untukmu? Inikah caramu menguji kesetiaanku, pasangan yang lebih muda darimu? Inikah caramu membuatku agar lebih dewasa?
Terserah bagaimana kamu memberinya nama. Aku juga tak pernah curiga denganmu. Aku tahu kamu juga bisa menjaga hati untukku.
Sayang, jika boleh aku ucapkan keinginan ini, aku ingin berhenti. Keluar dari kepura-puraan dan kembali hanya denganmu. Aku ingin berhenti membohongi gadis itu. Kembali ke masa kita yang dulu.

With smile
Janahs

Simpang Tangga


Aku masih saja mencari sosokmu. Selalu mencari jalan agar bisa menemukanmu diantara temanmu. Mencari kesempatan untuk bisa menatap mata tajammu itu diantara banyaknya pengagum ragamu.
Aku selalu mencari alasan agar bisa melewati tangga, meski kadang tanpa tujuan. Menapaki setiap anaknya seraya berharap semoga aku beruntung menemukanmu. Tak terhalang oleh tirai yang kadang terlalu sombong karena berdekatan denganmu sehingga menyembunyikan parasmu dariku. Setiap langkahku adalah untukmu.
Persimpangan tangga itu, adalah tempat favoritku.

Sunday, April 22, 2012

Katakan Saja


Hallooo... *teriakserak kali ini untuk pertama kalinya saya post tentang hal yang tidak saya sukai. Ini hanya salah satunya. Ya, saya masih punya banyak tapi saya syukuri keberadaan mereka. Setidaknya dengan adanya mereka, itu berarti membuka peluang bagi saya untuk melihat bagaimana saya. Apakah saya sudah lebih baik atau justru saya seharusnya belajar dari mereka.

Suatu Hari Nanti, Bisa Saja


Suatu hari nanti pasti akan datang. Saat semuanya berubah. Bisa saja semuanya berubah jauh dari sekarang. Entah aku mengingkannya atau tidak, bahkan mungkin kamu masih ingin mengingatnya tapi aku tidak. Walaupun tak pernah ada yang tahu kapan saat itu datang.
Suatu hari nanti bisa saja bayanganmu akan hilang dari ingatanku. Tergerus oleh waktu yang tak pernah berhenti mengalir. Bayanganmu akan ikut menghuni folder ingatan lama dalam otakku.
Bisa saja

Saturday, April 14, 2012

Demam Ujian #PS


U-J-I-A-N belakangan ini menjadi kata yang sering diucapkan. Sesuatu yang menjadi akbar karena akan diikuti oleh beribu-ribu pelajar negeri ini. Ya, ujian musiman yang lebih dikenal dengan Ujian Nasional ini akan dilaksanakan serentak pada tanggal 16 April lusa untuk pelajar SMA, sedangkan untuk SMP dan SD akan dilaksanakan sesuai jadwal yang sudah ada.
Persiapan untuk mengikuti ujian ini umumnya sudah 99,99 % final, dalam artian semuanya sudah siap tinggal menunggu waktu untuk mengamalkan semua ilmu yang telah didapat dalam mengerjakan soal. Dibalik semangat belajar yang meningkat, ada saja kegiatan-kegiatan yang menurut saya tidak penting tapi dilakukan. Mungkin ini adalah pelampiasan dari rasa galau yang mereka hadapi jelang ujian.
Salah satunya adalah berkirim pesan, menyebarkan lebih tepatnya. Saya menyebutnya dengan pesan sesat. Kenapa begitu?

Mereka Mengingat 'Kita'


Hei, kamu, tahukah kamu apa yang ku alami hari ini? Rasanya aneh! Hari ini aku sejenak kembali ke lembaran lama. Ya, lembaran yang itu. Sebuah lembar yang menceritakan tentang teman, persahabatan, study, dan cinta di suatu tempat dalam duniaku, mungkin juga duniamu.
Rasanya seperti berada dalam dunia yang penuh masa pengulangan. Seperti saat kita memutar kembali film yang pernah kita tonton untuk kesekian kalinya. Sampai kita hafal bagaimana adegan selanjutnya, kalimat berikutnya, dan empati yang terukir dalam benak kita.
Aku menanggungnya sendiri hari ini, tanpa kamu. Mereka memandangku seolah aku sedang berjalan denganmu. Menggandeng tanganmu dan tersenyum dalam setiap langkah.  Mereka masih sama, menanyakan kita, bukan hanya aku atau kamu. Kita. Merasa tak sanggup? Kupastikan iya.
Sempat mencoba biasa tanpa status itu. Bahkan menganggapmu tidak hadir dalam hidupku. Tapi mereka menanyakan apa yang pernah terjadi, lagi. Saat namamu disebut dengan jelas dan menanyakan padaku, itulah yang paling aneh. Tak sadarkah mereka kita tidak tinggal di rumah yang sama? Entahlah.
Apa kesimpulanmu? Itu berarti mereka memang memikirkan kita. Mereka menganggap kita bersama, selama itu. Aku memang sering bertemu denganmu dalam lingkungan baru, tapi kita tidak bersama. Bagiku tak masalah, karena aku juga tak menginginkannya. Seandainya kita pernah bersama dan sekarang keadaannya lebih buruk dari sekarang, aku juga tak mau. Itu harga yang terlalu mahal untuk bisa kubayar. Lebih baik begini. Meski apa yang mereka katakan berbeda dengan kenyataan yang ada. Meski itu berarti kita mengizinkan mereka untuk selalu memimpikan kita. 


with smile, 
Janahs

Friday, April 13, 2012

Suatu Saat Tentang Hari Ini


Tempat ini tiba-tiba berubah, menjadi aneh dan seolah tak terkendali. Wajah-wajah yang beberapa menit lalu penuh dengan canda dalam setiap kata yang terucap musnah. Ya, entah kemana perginya keceriaan itu. Dengan mudah tergantikan oleh raut wajah penyesalan seraya memohon.
Mereka sudah mulai mengubah raut wajah, memaksanya bermetamorfosis dalam waktu secepat kilatan cahaya. Membuatnya mudah terpengaruh oleh apa yang lain lakukan. Tapi,  aku masih berdiri dalam ketidakberdayaan. Tidak berdaya akan kata maaf yang mungkin akan menimbulkan rasa aneh ketika menyentuh telinga. Tidak berdaya untuk tidak tenggelam dalam suasana. Tidak berdaya membendung air mata yang tiba-tiba saja mendesak untuk menetes. Aku merasa tidak berdaya untuk bertemu dengan beberapa orang, aku takut akan rubuh di hadapan mereka.
Secercah cahaya bersinar, mencoba bertarung dengan matahari yang mencoba berusaha malampaui gedung. Senyum itu, ya senyum yang menyimpul manis di bibir tipismu itu. Senyuman yang pernah ku cari, itukah dia?

Tentang Sepotong Rindu


Matahari begitu angkuh hari ini, cahayanya menusuk hingga ke dalam kulit. Panas, tapi mengingat senyumnya adalah hal yang menyejukkan. Bayang tentang gadis cilik yang jauh dariku itu mampu mengubah cahaya matahari seolah tak mampu menyentuh tubuhku.
Gadis cilik itu, entah bagaimana kabarnya kini. Aku memang terus mencarinya, menelusuri kehadirannya melalui dunia maya. Tapi yang kudapat selalu seperti ini, kecewa dan membuka kuncup-kuncup rindu yang baru. Mekar dengan begitu cepat, tampak semakin besar dan menyedihkan. Tak perlu waktu lama, kuncup-kuncup yang bermekaran tadi cepat merambat ke otak dan menghiasi pikiran.

H- Ujian


Esempe – sebagai pelajar SMA, sebentar lagi aku mau mengikuti yang namanya ujian akbar, yaitu Ujian Nasional. Ujian yang akan digelar serentak di Indonesia ini akan dimulai pada tanggal 16 April besok.
Terinspirasi dari acara maaf-maafan yang dilakukan anak-anak seangkatan di sekolah tadi, langsung flashback ke masa sebelum UN esempe. Kalau nggak salah dulu maaf-maafannya H-4 ujian, ya biasa aja muter-muter minta maaf sekalian minta do’a. Inget kan sama cerita tentang M-u-s-e? Iya, tentang tiga sahabat-sahabatku itu.

Thursday, April 12, 2012

UJIAN


Ujian ujian ujian nasional, deket banget udah di depan mata. Dia lagi natap, beneran tatapannya tuh sumpah deh bikin ngrasa aneh-aneh. Kalo dihitung pake penggaris ni ya, tiga senti dari mata, kejauhan nggak? kalau kejauhan tiga mili dari mata deh. Haduh ini mau ketemu ujian nasional aja kaya mau ketemu pujaan hati. Rasanya campur aduk jadi satu, inget udah jadi satu masih dicampur pula. Mirip es campur.

Sunday, April 8, 2012

Dhita



Hai guys, dimanapun kalian berada. Apa kabar? Aku harap sih baik-baik aja supaya bisa baca postingan di blog ini. Kalau sampai kalian nggak baca, liat aja apa yang bakal terjadi. *Emang apa, nona?* Nggak ada apa-apa sih. Hahaa #gariing
Oke, di kesempatan kali ini aku sekedar posting tentang kerinduan terhadap sesorang. Wiih, keren amat yak nyebutnya ‘seseorang’, sebelum kalian sempat mikir ini kerinduan ke pacar, aku kasih penjelasan dulu, ini cuma teman. Tepatnya teman dunia maya, bukan bukan, bukan cowok, cewek dan masih anak kecil. *desahanpembaca
Langsung aja ya, daripada kebanyakan basa-basi. Ini dia perjalanan perkenalan dengan gadis bernama belakang Dhita yang dikemas dengan sedikit alay.

Saturday, April 7, 2012

Surat Sahabat



7 April 2012
Dear, Ebi
Hai, Bi, semoga kamu masih baik-baik aja. Aku tahu sekarang kamu lagi galau sambil menikmati suara serak dan tenggorokan serak. Aku juga tahu kalau sekarang kamu lagi mikir, mau ikut acara anak-anak itu atau nggak. Ya, memang semua itu tawaran yang cukup menggiurkan. Aku tahu itu. Sangat menggiurkan, apalagi mereka yang menjadi oknum (dari pengamatanku) tampak sangat lihai dalam menggaet orang lain. Gambarannya mirip seorang calo tiket konser yang tampak meyakinkan bahwa kamu bisa nonton konser itu di barisan paling depan dengan bantuan mereka.
Maaf, bukannya aku mau sok suci atau apa. Aku juga nggak berharap kamu ikut gerakanku yang menolak mentah-mentah acara itu. Aku tahu kamu sudah cukup dewasa untuk memilih mana yang baik dan mana yang tidak untukmu. Menurutku kamu cukup tahu dan cukup mengerti konsekuensi yang akan kamu terima karena melakukan suatu hal.
Satu hal yang ingin aku katakan melalui surat ini, Bi, pikirkan lagi keputusan yang akan kamu ambil itu matang-matang. Jangan sampai akhirnya kamu menyesal karena apa yang kamu lakukan. Aku nggak akan menganggapmu alay sekalipun kamu butuh shalat istiharah untuk menentukan hal ini. Terserah cara apa yang kamu pakai untuk mengambil keputusan, pesanku jangan gegabah. Pikirkan semuanya dengan pikiran tenang, jangan grusah-grusuh karena resikonya menurutku nggak bisa dibilang kecil.
Tentang hasil, aku paham kamu pengen mempersembahkan yang terbaik untuk orangtua dan saudaramu. Aku, bahkan seluruh manusia ingin mempersembahkan yang terbaik untuk orang yang dikasihinya. Tapi, akan lebih baik lagi jika sesuatu terbaik yang kita persembahkan itu juga didapat dari suatu jalan yang baik tidak hanya menurut kita tapi juga menurut orang lain. Dengan begitu, kita tidak hanya membahagiakan dan membuat bangga orang yang kita sayang (orangtua) tapi juga mereka di luar sana.
Oke, Bi, sekian suratku kali ini, semoga kamu dimudahkan dalam mengambil keputusan yang terbaik. Jika pada akhirnya kamu memilih untuk tidak melakukan hal itu, semoga kamu memiliki kekuatan untuk berdalih di depan mereka untuk membatalkan rencanamu mengikuti acara itu. Aku ingin melihatmu tegas mengatakan bahwa kamu membatalkan rencana awalmu.  
Aku tahu siapa kamu yang dulu. Bi, tapi kalau kamu menerima tawaran itu, mungkin aku akan merasa telah kehilangan orang sepertimu. Ingat selalu ada pilihan dalam hidup, semua terserah kamu mau pilih yang mana.


Your (best) friend, Cicit J

Wednesday, April 4, 2012

Rez


ilustration by google

Aku tahu itu siluetmu, Rez. Meski matahari terlalu sombong sampai cahayanya hanya menunjukkan seberkas bayangan hitam, tapi aku tahu itu kamu. Sesekali kamu tampak menunjukkan teknik dribble yang kamu kuasai. Ya, aku hafal semua tentang dirimu meski aku terpejam pun aku akan tahu.
Kamu duduk di sampingku, ikut memandang matahari yang hendak pulang ke peraduannya sambil sesekali memutar bola dengan jari telunjukmu. Botol yang kuserahkan tadi telah kamu habiskan isinya sekali tenggak. Tiba-tiba telunjukmu mengarah ke burung-burung yang seolah melintas di tengah badan matahari. Katamu mereka sungguh pemberani. Melawan sesuatu yang begitu mempesona dan besar agar sampai ke tujuan mereka.
Seandainya kamu tahu, Rez, aku sama seperti mereka. Aku juga berani seperti mereka, melawan semua kelebihanmu. Bahkan sekarang aku lebih berani dari mereka.

Tuesday, April 3, 2012

With Twitter




I want a tweet, i want a tweet now
I want a tweet, i want a tweet right now
I need a tweet, i need a tweet now
I need a tweet, gotta gotta gotta tweet right now

Sepenggal lirik dari Potenzio feat Daniel tadi menggambarkan aku banget. Yup! Aku mulai kecanduan social network berlambang burung yang dikenal dengan twitter. Hobi baru, ngetwit hal-hal yang nggak remeh dan nggak bisa diremehkan *benerin kerah baju. Bukan sombong atau apa, tapi aku emang nggak biasa ngetwit hal-hal yang pribadi. Contoh : Lagi nungguin pacar, lama banget sih datengnya?. Itu bukan aku banget. *emang kamu punya pacar, Cit? #galau
Selama beberapa bulan ini berselancar di twitter, ada dua kalimat yang aku suka pengguna twitter yang lain. Apa itu?

Monday, April 2, 2012

Permohonan dan Perjanjian


1 April 2012
Dear Mr. CB

Hai Mr. CB, ini kejutan untukmu. Ya pasti kamu tahu kenapa. Orang yang tidak pernah menyapamu lagi tiba-tiba menulis surat tepat di tanggal satu, untukmu. Perjuangan besar untuk ini, tapi aku tak mempedulikannya demi kamu.
Hei, sebelumnya aku ingin menyampaikan maaf padamu. Maaf karena selama ini aku terlalu merasa susah untuk tersenyum padamu. Maaf untuk muka masam yang selama ini selalu kusuguhkan padamu. Dan yang terakhir maaf karena selama ini aku menganggapmu adalah orang lain. Orang lain yang telah meninggalkanku demi perjalanan menuju masa depannya. Sama sepertimu sekarang.
Surat ini sengaja aku tulis untukmu karena aku juga ingin mengukir janji padamu. Biar kamu sendiri yang menjadi saksi bahwa aku ingin merubah apa yang ada selama ini.
Dengar Mr.CB, ini ikrarku. Saya, Siti Nurjanah a.k.a Cicit dengan ini menyatakan saya akan bersikap biasa saja dengan anda. Tidak ada lagi muka masam di depan anda (bukan berarti selalu senyum). Tidak lagi membuang muka ketika tiba-tiba bertemu dengan anda. Tidak ada lagi perilaku yang selama ini sering anda temui. Saya akan berusaha untuk biasa saja.
Jika kamu melihat aku khilaf dan kembali melakukannya aku siap menerima teguran bahkan perlakuan yang sama. Dengan ikrar tadi berarti aku akan serius dengan apa yang telah aku ucapkan. Karena itu pula aku akan berusaha semaksimal mungkin untuk menepatinya.
Sekian surat untukmu kali ini, lain waktu aku akan menulis beberapa surat lagi untukmu. Selamat melanjutkan perjalanan menuju masa depanmu yang insya Allah cerah, secerah wajahmu. :)


Salam sayang dari kerajaan ungu
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...