Untuk
kekasihku yang berada di salah satu tempat di bumi ini. Jarak memisahkan kita,
dia yang membuat kita jauh. Mimpi, dia juga membuatku jauh darimu. Karenanya aku
harus pergi dari sisimu meski hati kita masih tertaut oleh sebuah hubungan.
Kamu ingat
butiran air mata saat aku pergi? Aku tahu kamu sama sekali tak menginginkan aku
pergi, tidak dari sisi ataupun hati dan pikiranmu. Aku tahu apa yang bergejolak
dalam hatimu, karena aku juga merasakannya.
Sejak hari itu
kita hanya selalu ‘berdua’ di dunia maya. Mengunjungi setiap waktu hanya untuk
mengetahui bagaimana kabar masing-masing. Kita masih saling mengerti meski
melalui dunia maya. Kita masih seperti biasanya, bahkan mungkin dunia maya
benar-benar menjadi dunia kedua kita. Kita masih saling menjaga, saling
mengatakan bahwa kita rindu sambil menggenggam cinta. Sampai suatu hari kamu
merobek hatiku.
“Duakan saja
aku, sayang.” Katamu di malam gerimis itu, tepat enam bulan sejak aku pergi.
Kenapa? Apa kamu
sudah melupakan aku? Atau kamu juga punya pria lain disana? Apa kamu sudah
membagi tempat kesayanganmu kepada oranglain? Pertanyaan semacam itu terus
muncul dan memenuhi otakku.
“Tak mungkin. Aku
hanya ingin bersamamu bukan yang lain.” Bagaikan omongan anak kecil yang sedang
belajar bicara, ucapanku sambil menahan perih itu hanya diabaikan olehmu.
Tak tahukah
kamu, aku tak ingin kamu melukai perasaanmu sendiri. Ini memang berat, aku juga
merasakannya. Memang, aku dulu buaya darat, tapi sekarang tidak. Tidak denganmu.
Aku hanya ingin jadi yang terbaik untukmu.
Kamu terlalu
baik untuk kulukai. Terlalu indah untuk kucabik perasaanmu. Kamu terlalu
cantik. Kamu terlalu.........aku tak bisa lagi menyebutkannya. Terlalu banyak
hal baik padamu, dan aku benar-benar mencintaimu. Semua kesederhanaanmu.
Aku juga tak
ingin melukai perasaan gadis lain. Kamu tahu ini juga takkkan mudah untukku. Menjalani
hubungan dengan orang yang tak ku kenal. Aku tak mungkin membiarkan gadis itu
perlahan menggantikan posisimu.
“Lakukan saja,
aku hanya tak ingin kamu kesepian disana.” Kamu terus membujuk. Tak pernah puas
dengan jawabanku yang selalu saja menolak untuk melakukannya.
“Lakukan saja,
dia hanya pendampingmu.” Aku tahu sebenarnya kamu tak pernah menginginkan ini,
aku tahu kamu hanya ingin terdengar kuat padahal hatimu tercabik.
“Bagaimana
kalau dia memanggilku ‘sayang’ dan setiap hari dia mengirim kalimat ‘I love you’?
Dan bagaimana jika dia benar-benar jatuh
cinta padaku? Apa kamu juga rela?” Sunyi. Aku masih menunggu jawabanmu,
berharap kamu akan mengatakan membatalkan keinginan konyolmu itu.
Perlahan suaramu
kembali terdengar dari ujung telpon. Sedikit bergetar dan aku tahu kamu
terluka, sangat terluka oleh keinginanmu sendiri. “Yang penting kamu menjaga
hatimu untukku.”
Setelah hari
itu aku mulai menjalin hubungan dengan seorang gadis. Kamu tahu, aku merasakan
sakit saat mengatakan padanya aku mencintainya. Kamu tahu kan, itu hanya
kata-kata dari bibirku bukan dari hatiku, bahkan mataku tak pernah mengatakan
aku mencintainya.
Aku tak mau
lagi membayangkan bagaimana ekspresimu. Aku harap kamu masih ingat, aku tak
ingin melihatmu menangis lagi. Aku tak pernah berniat untuk menyakitimu, ini
semua karena kamu yang menginginkan.
Kita masih
bersatu. Kita masih bersama dan saling percaya. Inikah caramu agar aku menjaga
hati ini untukmu? Inikah caramu menguji kesetiaanku, pasangan yang lebih muda
darimu? Inikah caramu membuatku agar lebih dewasa?
Terserah bagaimana
kamu memberinya nama. Aku juga tak pernah curiga denganmu. Aku tahu kamu juga
bisa menjaga hati untukku.
Sayang, jika
boleh aku ucapkan keinginan ini, aku ingin berhenti. Keluar dari kepura-puraan
dan kembali hanya denganmu. Aku ingin berhenti membohongi gadis itu. Kembali ke
masa kita yang dulu.
With smile
Janahs



