U-J-I-A-N
belakangan ini menjadi kata yang sering diucapkan. Sesuatu yang menjadi akbar
karena akan diikuti oleh beribu-ribu pelajar negeri ini. Ya, ujian musiman yang
lebih dikenal dengan Ujian Nasional ini akan dilaksanakan serentak pada tanggal
16 April lusa untuk pelajar SMA, sedangkan untuk SMP dan SD akan dilaksanakan
sesuai jadwal yang sudah ada.
Persiapan
untuk mengikuti ujian ini umumnya sudah 99,99 % final, dalam artian semuanya
sudah siap tinggal menunggu waktu untuk mengamalkan semua ilmu yang telah
didapat dalam mengerjakan soal. Dibalik semangat belajar yang meningkat, ada
saja kegiatan-kegiatan yang menurut saya tidak penting tapi dilakukan. Mungkin ini
adalah pelampiasan dari rasa galau yang mereka hadapi jelang ujian.
Salah satunya
adalah berkirim pesan, menyebarkan lebih tepatnya. Saya menyebutnya dengan
pesan sesat. Kenapa begitu? Karena isi pesan yang umumnya di-forward ke orang lain ini, mengecewakan
dan memaksa. Pesan ini biasanya mulai beredar sekitar H-7 ujian, saat pikiran
siswa sudah tidak bisa lagi fokus pada pelajaran namun mereka masih harus
mengejar beberapa materi untuk dikuasai.
Sejak pertama
saya mendapat pesan ini di tahun 2009, jelang ujian nasional SMP, format
pesannya belum berubah. Diawali dengan pembukaan yang manis, bisa berupa
kalimat motivasi atau doa, baik yang ditulis dengan bahasa Arab maupun bahasa
Indonesia. Tapi, hati-hatilah ketika sudah menurunkan layar pesan itu, ada
kejutan disana.
Kasus yang
paling banyak saya temukan, diakhiri dengan “Sebarkan ke .... orang, jangan
berhenti di kamu”. Yang paling menyebalkan dan biasanya membuat si pembaca
menjadi resah dan merasa hidupnya putus (untuk yang masih labil) adalah ancaman
tidak lulus jika tidak menyebarkannya atau tidak boleh kembali ke pengirim.
Menurut saya itu tidak masuk akal, karena yang biasanya dilakukan orang yang
mau ujian adalah minta maaf dan berlaku baik ke oranglain, tapi ini justru
sebaliknya.
Dalam masalah
pesan ini, ada tiga macam orang yang menanggapinya. Pertama, orang yang
membacanya dengan seksama, meresapi semua kata yang tertera lengkap, dari awal
hingga akhir. Kemudian ketika sampai di bagian akhir pesan, ia akan resah
karena ancaman. Tipe ini, mereka tidak lagi memikirkan berapa banyak pulsa yang
terbuang karena menyebarkan pesan itu. Bahkan, (mungkin) jika pengirim pertama
mengatakan kirim ke lima puluh orang, dia akan melakukannya.
Kedua, orang
yang membacanya berdasarkan kalimat pertama. Tipe ini sudah sangat hafal dengan
susunan pesannya. Ketika ia merasa ada yang tidak beres dengan pesan itu, maka
ia akan mengabaikan pesan itu dan langsung menghapusnya sebelum selesai
membaca. Setelah itu ia akan melupakan apa yang pernah ia baca. Tak peduli berapa
banyak pesan serupa yang datang padanya, ia akan bertindak sama. Namun, bukan
berarti tipe ini tidak pernah terjebak lagi, mereka masih mungkin terjebak
dalam buaian kalimat yang menjebak.
Ketiga, orang
yang sangat pemberani dan sangat cuek. Orang ini akan membacanya lengkap, tapi
mengabaikannya. Tidak menyebarkan pesan dan jarang menghapus pesan yang ia
terima. Ia sangat percaya dengan pertolongan Tuhan, ia percaya Tuhan akan lebih
menyayangi orang-orang yang memanfaatkan hartanya (pulsa) dengan baik. Satu lagi,
jika beruntung, si pengirim pesan justru akan mendapat ceramah pencerahan dari
orang tipe ini. Biasanya tidak panjang, tapi tepat sasaran.
Itulah tipe
orang yang pernah saya temui. Jujur, saya adalah tipe orang yang kedua dan
ketiga, tergantung dari bagaimana isinya.
Berkaitan
dengan pesan yang kita bahas tadi, saya memiliki beberapa nasihat dan tips.
Untuk bisa terhindar dari pesan sesat itu, atau minimal agar pesan itu tidak
menambah kegalauan jelang ujian, ada baiknya menjadi tipe kedua. Tidak perlu
terlalu serius menanggapi pesan itu, percayalah bahwa kesuksesan adalah
anugerah Tuhan bukan anugerah SMS.
Ketika pesan
sesat itu menggunakan kalimat yang begitu menukik, sehingga membuat tidak
nyaman, ketahuilah itu hanya pengecoh. Jangan biarkan diri kalian kalah dengan
mental si pembuat pesan atau membiarkan diri kalian ikut-ikutan galau bersama
mereka. Ujian hanya harus ditaklukkan dengan menggunakan ilmu yang kita
pelajari selama ini. Toh kalau kita semangat menyebarkan pesan itu sampai lupa
belajar dan tenggelam dalam galau juga tidak akan menyumbang nilai.
Untuk pesan
yang menyangkut doa, ditulis dengan bahasa apapun, teruskanlah pesan itu.
Bukan, bukan dengan ancaman di bagian akhirnya. Beranilah untuk membuat
tindakan, edit pesan dan hapus semua ancaman yang ada disana. Kalian bisa
membuatnya seolah kalian ingin mereka mengamini doa kalian, atau membuatnya
menjadi doa bersama. Itu lebih baik, setidaknya kalian membantu teman untuk
lebih mendekatkan diri pada Tuhan. Ada baiknya, memberanikan diri untuk
mengatakan ke di pengirim bahwa kalian tidak menyukai pesan semacam itu.
Yang paling
penting sebelum ujian adalah pikiran yang fresh.
Lupakan semua hal yang datang mengusik ketenangan batin, termasuk pesan itu.
Jika kalian memang benar-benar tidak mampu untuk membuka pesan itu, cara paling
ampuh adalah matikan ponsel kalian. Cara ini juga bisa membantu kalian untuk
lebih tenggelam dalam acara belajar. Tanpa terganggu jeritan ponsel yang kadang
berisi pesan tak penting tadi.
Sekian
cuap-cuap pagi dari saya kali ini.
With smile,
Janahs
No comments:
Post a Comment