Pages

Saturday, April 14, 2012

Demam Ujian #PS


U-J-I-A-N belakangan ini menjadi kata yang sering diucapkan. Sesuatu yang menjadi akbar karena akan diikuti oleh beribu-ribu pelajar negeri ini. Ya, ujian musiman yang lebih dikenal dengan Ujian Nasional ini akan dilaksanakan serentak pada tanggal 16 April lusa untuk pelajar SMA, sedangkan untuk SMP dan SD akan dilaksanakan sesuai jadwal yang sudah ada.
Persiapan untuk mengikuti ujian ini umumnya sudah 99,99 % final, dalam artian semuanya sudah siap tinggal menunggu waktu untuk mengamalkan semua ilmu yang telah didapat dalam mengerjakan soal. Dibalik semangat belajar yang meningkat, ada saja kegiatan-kegiatan yang menurut saya tidak penting tapi dilakukan. Mungkin ini adalah pelampiasan dari rasa galau yang mereka hadapi jelang ujian.
Salah satunya adalah berkirim pesan, menyebarkan lebih tepatnya. Saya menyebutnya dengan pesan sesat. Kenapa begitu?

Mereka Mengingat 'Kita'


Hei, kamu, tahukah kamu apa yang ku alami hari ini? Rasanya aneh! Hari ini aku sejenak kembali ke lembaran lama. Ya, lembaran yang itu. Sebuah lembar yang menceritakan tentang teman, persahabatan, study, dan cinta di suatu tempat dalam duniaku, mungkin juga duniamu.
Rasanya seperti berada dalam dunia yang penuh masa pengulangan. Seperti saat kita memutar kembali film yang pernah kita tonton untuk kesekian kalinya. Sampai kita hafal bagaimana adegan selanjutnya, kalimat berikutnya, dan empati yang terukir dalam benak kita.
Aku menanggungnya sendiri hari ini, tanpa kamu. Mereka memandangku seolah aku sedang berjalan denganmu. Menggandeng tanganmu dan tersenyum dalam setiap langkah.  Mereka masih sama, menanyakan kita, bukan hanya aku atau kamu. Kita. Merasa tak sanggup? Kupastikan iya.
Sempat mencoba biasa tanpa status itu. Bahkan menganggapmu tidak hadir dalam hidupku. Tapi mereka menanyakan apa yang pernah terjadi, lagi. Saat namamu disebut dengan jelas dan menanyakan padaku, itulah yang paling aneh. Tak sadarkah mereka kita tidak tinggal di rumah yang sama? Entahlah.
Apa kesimpulanmu? Itu berarti mereka memang memikirkan kita. Mereka menganggap kita bersama, selama itu. Aku memang sering bertemu denganmu dalam lingkungan baru, tapi kita tidak bersama. Bagiku tak masalah, karena aku juga tak menginginkannya. Seandainya kita pernah bersama dan sekarang keadaannya lebih buruk dari sekarang, aku juga tak mau. Itu harga yang terlalu mahal untuk bisa kubayar. Lebih baik begini. Meski apa yang mereka katakan berbeda dengan kenyataan yang ada. Meski itu berarti kita mengizinkan mereka untuk selalu memimpikan kita. 


with smile, 
Janahs
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...