Tempat ini
tiba-tiba berubah, menjadi aneh dan seolah tak terkendali. Wajah-wajah yang
beberapa menit lalu penuh dengan canda dalam setiap kata yang terucap musnah. Ya,
entah kemana perginya keceriaan itu. Dengan mudah tergantikan oleh raut wajah
penyesalan seraya memohon.
Mereka sudah
mulai mengubah raut wajah, memaksanya bermetamorfosis dalam waktu secepat
kilatan cahaya. Membuatnya mudah terpengaruh oleh apa yang lain lakukan. Tapi, aku masih berdiri dalam ketidakberdayaan. Tidak
berdaya akan kata maaf yang mungkin akan menimbulkan rasa aneh ketika menyentuh
telinga. Tidak berdaya untuk tidak tenggelam dalam suasana. Tidak berdaya
membendung air mata yang tiba-tiba saja mendesak untuk menetes. Aku merasa
tidak berdaya untuk bertemu dengan beberapa orang, aku takut akan rubuh di
hadapan mereka.
Secercah cahaya
bersinar, mencoba bertarung dengan matahari yang mencoba berusaha malampaui
gedung. Senyum itu, ya senyum yang menyimpul manis di bibir tipismu itu. Senyuman
yang pernah ku cari, itukah dia?