Tempat ini
tiba-tiba berubah, menjadi aneh dan seolah tak terkendali. Wajah-wajah yang
beberapa menit lalu penuh dengan canda dalam setiap kata yang terucap musnah. Ya,
entah kemana perginya keceriaan itu. Dengan mudah tergantikan oleh raut wajah
penyesalan seraya memohon.
Mereka sudah
mulai mengubah raut wajah, memaksanya bermetamorfosis dalam waktu secepat
kilatan cahaya. Membuatnya mudah terpengaruh oleh apa yang lain lakukan. Tapi, aku masih berdiri dalam ketidakberdayaan. Tidak
berdaya akan kata maaf yang mungkin akan menimbulkan rasa aneh ketika menyentuh
telinga. Tidak berdaya untuk tidak tenggelam dalam suasana. Tidak berdaya
membendung air mata yang tiba-tiba saja mendesak untuk menetes. Aku merasa
tidak berdaya untuk bertemu dengan beberapa orang, aku takut akan rubuh di
hadapan mereka.
Secercah cahaya
bersinar, mencoba bertarung dengan matahari yang mencoba berusaha malampaui
gedung. Senyum itu, ya senyum yang menyimpul manis di bibir tipismu itu. Senyuman
yang pernah ku cari, itukah dia? Kamu membawanya kembali hari ini untukku? Sungguh,
aku sangat merindukannya, aku ingin memeluk dan takkan melepasnya lagi. Aku ingin
memilikinya dalam setiap langkahku, meski aku belum menginginkan kamu
bersanding denganku.
Mungkin aku
dan kamu sama-sama pernah saling jahat. Ingatkah kamu, atau kamu justru sudah
lupa beberapa waktu lalu ada yang hilang setiap kita bertemu? Ya, waktu itu aku
selalu menghilangkan senyum di depanmu, bertingkah sok angkuh, bahkan aku tak
mengizinkan mataku bertemu pandang denganmu. Begitu juga denganmu, kamu juga
melakukannya. Aku takkan menyalahkanmu, aku hanya ingin berterima kasih karena
kamu membawa senyum itu kembali pagi ini. Bahkan, kamu berhasil membuatku
sedikit terbahak.
Uluran tanganmu,
berhasil membuatku lega. Aku sempat khawatir kalau hatiku mulai berbelok arah
menujumu. Jujur, aku belum menginginkannya terjadi. Tidak untuk sekarang. Tapi,
tadi adalah bukti nyata yang ku dapatkan. Semuanya wajar.
Aku tahu,
suatu saat nanti entah kapan itu, meski samar, kamu akan mengingat hari ini. Begitu
juga aku. Mungkin kamu akan mengingatku sebagai seorang teman yang pernah
bertemu denganmu gara-gara benda berbentuk kubus. Mungkin kamu akan mengingatku
sebagai orang yang pernah (seperti) memusuhimu meski tanpa sebab. Atau mungkin
kamu hanya mengingatku sebagai teman yang berdiri di samping seorang gadis yang
juga pernah berlaku tanpa sebab padamu. Terserahlah, apapun yang kamu ingin
ingat dariku.
Tapi, jika aku
boleh memilih, aku ingin kamu mengingatku sebagai gadis yang terlalu berani. Sok
kenal dan sok akrab karena benda kubus di hari pertama kita bertemu. Seseorang yang
berani mengajakmu ngobrol tentang benda unik itu meski kita sama sekali belum
berkenalan, bahkan jabat tangan pun terlewatkan.
Sementara aku,
aku akan mengingatmu sebagai seseorang yang cukup membuatku bertanya. Bertanya
tentang apapun yang tak sempat lagi kutanyakan setelah hari pertama kita
bertemu. Satu yang pasti, aku mengingatmu karena disanalah gadis yang kusegani
berada. Dia memang tidak bersamamu sekarang, tapi melihatmu adalah
kebahagiaanya. Kamu dan dia adalah satu paket yang dikirimkan Tuhan agar aku
mengingat, salah satunya hari ini. Dan bahwa aku mengenal gadis itu karenamu.
Ingatlah, hari
ini takkan pernah terlupakan. Ia hanya tersembunyi di antara urusan-urusan lain
yang memenuhi otak kita di kehidupan selanjutnya. Ia hanya akan terhimpit oleh
kenangan baru yang mendesaknya untuk semakin jauh dari permukaan. Tapi, ia akan
dengan mudahnya kembali ke permukaan ketika sesuatu merangsangnya.
Ketika kamu
tidak sibuk, resapi apa yang disuguhkan alam, nikmati aromanya dan kamu akan
menemukan hari ini. Kamu juga bisa membuka playlist
di ponselmu, menemukan sebuah lagu tentang hari ini dan mulai menikmati
lantunannya yang senada dengan kenangan ini. Suatu saat, kenangan ini juga akan
menyapamu tanpa kamu panggil pun. Dia akan selalu ada, dalam celah pikiranmu
juga dalam hatimu.
with smile,
Janahs
No comments:
Post a Comment