Takkan ada yang mampu membantah
keraguanku pada cinta yang terlalu muda ini. Mata yang baru menemukan dirimu di
akhir pertemuan. Getar yang baru muncul ketika kita beranjak menemui
perpisahan. Tangan yang baru saja menjabat, tapi itu yang terakhir. Hasrat
untuk mencarimu tapi kita sudah berjalan masing-masing.
Menurutmu, pantaskah kalau aku
menyalahkan waktu? Yang berjalan angkuh tanpa menunggu reaksi yang berarti
dariku. Yang tidak mengizinkan aku mengenalmu lebih jauh lagi melalui serpihan
hari kita.
Mungkin juga aku yang salah. Aku yang
tak pernah datang padamu saat kamu baru disini. Aku yang percaya begitu saja
bahwa kamu adalah orang yang dinginnya mengalahkan kutub. Aku yang begitu malu
sehingga tak pernah meneriakkan namamu diantara ayunan pompom, meskipun aku
ingin. Aku yang terlalu naif untuk sekedar mengakui bahwa aku penasaran.
Ingin menyerah saja. Tapi, kamu justru
menarikku.
“Dia yang tadi duduk disini kan?”
tanyamu pada seorang gadis populer di sampingmu. Dia mengangguk mantap padamu
ketika kamu menunjuk tempat dudukku.
Percuma. Rencanaku berantakan ketika
ekor mata ini tak sengaja melihatmu sedang menunjukku. Mencoba bernegosiasi
dengan hati bahwa bukan aku yang kamu tunjuk.
Baru sedetik aku membayangkan
bagaimana penasarannya kamu padaku. Tapi, belasan menit kemudian aku dihantui
perbedaan yang berani membentang di antara kita. Apa ini berarti aku tak
berjodoh denganmu? Atau justru ini yang akan menyatukan kita nanti?
Entahlah, semua masih terlalu rancu
untuk sekedar dibicarakan. Terlalu kabur untuk kucari dimana benang merah di
antara kita. Sekarang biar saja waktu yang bertindak. Biarkan dia memisahkan
kita dan suatu hari nanti biarkan dia yang mempertemukan kita. Ketika kamu
sudah tahu apa yang ingin kamu cari dariku. Saat aku sudah punya apa yang kamu
mau.
Terlalu jauh untuk ku katakan, aku
mencintaimu.