Kenapa tidak dari dulu aku sering
kesini, gerutuku sambil menikmati semilir angin yang perlahan menggerakkan daun
cemara. Menciptakan suara yang khas saat daun-daun di atas sana saling beradu
karena angin. Pandanganku tak lepas dari bangku pojok di kelasmu dulu,
singgasana kesayanganmu. Dari pangkuan kursi kayu ini memang langsung bisa
melihat dengan jelas isi kelasmu.
“Aku hanya akan duduk di dua bangku
yang ku pilih di kelasku.” Itu kalimat pertamamu,