Pages

Friday, January 6, 2012

Kamu dan Dia



Kenapa tidak dari dulu aku sering kesini, gerutuku sambil menikmati semilir angin yang perlahan menggerakkan daun cemara. Menciptakan suara yang khas saat daun-daun di atas sana saling beradu karena angin. Pandanganku tak lepas dari bangku pojok di kelasmu dulu, singgasana kesayanganmu. Dari pangkuan kursi kayu ini memang langsung bisa melihat dengan  jelas isi kelasmu.
“Aku hanya akan duduk di dua bangku yang ku pilih di kelasku.” Itu kalimat pertamamu, Ryan saat bertemu denganku di ruang ujian nomor 10. “Yang jelas tidak di barisan depan seperti ini.” Lanjutmu sambil tergesa-gesa mengeluarkan alat ujian. Sementara aku masih diam dan belum berniat untuk menanggapi kata-katamu.
“Hanya di bangku pojok paling belakang, dan di bangku nomor dua dari belakang, itu pun harus dekat dengan jendela yang rendah.” Ryan mengambil paksa kartu ujianku.
Saat itu, aku hanya mampu menunduk, karena takut kamu akan menertawakan namaku.
“Bintang Tanubrata.” Katamu tegas. “Nama yang indah, tapi aku mau panggil kamu cantik aja.” Terpaksa, kulayangkan senyum yang ku rasa paling konyol padamu. Habis mau apa lagi? Dia lancang mengatakan itu.
Jantungku mulai berdenyut lebih kencang, setelah sadar bahwa di belakang sana, Riana pasti sedang menatap ke bangkuku. Tepat dua bangku setelahku, disanalah gadis manis yang telah lama mengagumi Ryan berada. Aku tak bisa seenaknya saja dengan fans Ryan yang satu ini, karena dia sahabatku.

Semuanya masih seperti dulu, saat kamu masih disini. Sekolah berakhir jam dua dan akan sepi tepat pukul tiga sore. Segelas minuman dingin menemaniku di bangku kayu. Sambil membaca novel, sesekali wajahku berpaling ke singgasanamu. Lebih tepatnya aku lebih banyak melihatnya daripada novel. Kulihat candamu dalam ilusi, senyum indah dan mata yang indah di balik kacamata itu.
Tak banyak yang berubah di sini, tidak tempat ini dan tidak bagaimana diriku terhadapmu. Kamu tahu tak pernah ada yang berubah hingga waktu itu tiba, saat aku jatuh pada kesalahan yang sama. Katamu aku akan jatuh cinta pada orang yang duduk di singgasanamu. Jujur saja aku tak mau percaya itu, karena aku akan menunggumu.
Sekarang ada dia disini. Seseorang yang sepertinya berusaha merebut perhatianku dengan cara-cara yang tak bermutu. Biar ku kenalkan padamu, Dika, itulah namanya. Jauh dari inisial nama yang ku suka kan? Aku suka nama dengan inisial R sedangkan dia berinisial D. Dia baru pindah saat tahun ajaran terakhir dimulai. Entahlah darimana asalnya yang jelas dia sering menjadi bahan pembicaraan orang-orang di sekolah ini. Sama sepertimu dulu, ia menjadi artis sekolah bahkan dalam waktu yang lebih singkat darimu. Hanya modal tampang dan hampir semua berteriak suka padanya.
“Lala, nggak pulang?” tanya Gitta dengan suara centilnya.
“Belum, sebentar lagi, ini masih baca.” Kuperlihatkan sampul novel yang tengah ku baca.
Aku mendesah lega saat gadis berperawakan tinggi besar itu kemudian melintas pergi. Karena akan lain ceritanya saat ia berhasil memergokiku yang sebenarnya hanya duduk di bangku kayu dan melihat bangku pojok  di dalam kelas sana, sambil sesekali menyeruput jus dari gelas yang sudah mulai mengembun.
“Dik, aku ambil tas dulu. Terserah mau nunggu atau ke parkiran dulu.” Suara itu benar-benar berat dan menggelegar. Membuyarkan lamunanku yang masih berkutat dengan halusinasi.
Dika berdiri di koridor sekolah dengan melipat tangannya di depan dada, tepat segaris dengan bangku kayu yang kududuki. Kubereskan barang-barangku dari kursi kayu masih dengan perasaan diawasi yang membuaru. Kuberanikan diri untuk melihat Dika yang berdiri di sana dengan tatapan burung elang. Tajam dan siap menukik mangsa pada saat yang telah diperhitungkan. Mungkin ini salah satu caranya memikat begitu banyak perempuan di sekolah ini. Tatapannya yang khas dan sering dielu-elukan.

Ribuan bintang menemaniku malam ini. Tidak dengan kenangan, karena aku terlalu sibuk untuk memikirkan kenyataan. Bahwa Dika memang memiliki pesona hampir seperti Ryan. Karismanya begitu kuat, terlihat amat berwibawa dan dia sedikit pantas menjadi kalangan eksekutif di sekolah. Dia berhasil membuat banyak orang tertarik dengan olahraga yang sebelumnya tak punya begitu banyak penggemar. Dia berhasil membuat banyak gadis teriak kegirangan mengiringi langkahnya. Tapi sayang kemampuannya mengendalikan diri masih harus diperhitungkan.  
Kenangan tentangmu di tengah ujian semester itu muncul dalam benakku yang sebenarnya sedang kesepian.
“Menjadi yang terkenal memang tidak mudah.” Kalimat Ryan mengalun pelan dalam pikiranku. Tak perlu waktu lama, aku langsung mengiyakan kalimat itu. “Menjadi terkenal berarti populer dan itu sedikit merepotkan.”
“Kenapa?” sengaja kupalingkan wajah ke arahmu.
“Menjadi terkenal tak semudah membalikkan telapak tangan.”
“Karena sulit untuk membuat orang simpatik dan akhirnya fanatik?” kataku sambil memiringkan kepala, sampai kamu bisa melihat bagaimana penasarannya aku.
“Bukan itu yang membuat terkenal sulit. Untuk itu, kamu tinggal tunjukkan apa kelebihanmu dengan caramu.”
“Lalu?”
“Menjaga setiap perilakumu tetap istimewa tanpa memandang waktu, itulah yang sulit. Ibarat matahari semua planet akan berorbit padamu.” Tak sedikitpun kupalingkan pandanganku dari wajahmu saat itu. Begitu indah seolah memang tak ada yang mampu mengunggulimu lagi.
Mungkin, seharusnya Dika belajar darimu, Ryan. Belajar menjadi diri sendiri diatas tuntutan sekian banyak orang. Tak perlu terlihat sempurna. Dika berbeda darimu, jadi itulah salah satu alasan kenapa aku tidak berpaling darimu untuk mengagumi dia.

Ku tapakkan kakiku dengan sedikit semangat yang menurun. Pelajaran hari ini sama sekali tak ada yang menarik, bukan pelajarannnya tapi pengajar dan bagaimana mengajarnya. Yah, tapi tak mungkin pindah sekolah karena hal ini. Belum tentu di sekolah lain akan lebih baik.
Tepat di koridor utama, sekian banyak siswa berjejal di depan mading sekolah. Entahlah apa lagi yang terjadi, tapi setelah melihat gelagat mereka, aku sedikit menduga ada hubungannya dengan murid baru itu. Terdengar teriakan-teriakan tak percaya di sana, semua penuh ekspresi, bahkan ada diantara mereka yang hanya mampu ternganga di depan mading. Sama sekali tanpa melakukan apapun, dan ku rasa dia sudah mati rasa di sana.
“Kenapa ini harus terjadi?” tanya seorang gadis berkepang dengan kesal. Tampak sekali aura kemarahan dari air mukanya.
“Sudahlah, mungkin kali ini dia memang belum bisa menjadi bagian dari hidupmu.” Sambut seorang lainnya sambil memegang bahu si gadis berkepang. Meskipun sebenarnya ia juga tampak sama kesalnya.
Sementara aku masih menyimpan rasa penasaran dan hanya mampu berdiri tanpa gerakan berarti. Seseorang menarikku hingga kurasakan jantungku nyaris copot dibuatnya.
“Apa kamu juga melihatnya?” Riana menarikku ke kerumunan mading dan menunjukkan sebuah foto yang tertempel rapi dengan judul ‘Sang Pangeran bersama Putri pujaannya’.
“Sepertinya.....” Aku berusaha keluar dari kerumunan sementara Riana justru menahan langkahku dengan isyaat untuk menjelaskan. “Ikutlah ke kelasku kalau kamu ingin mendengar cerita lengkapnya.” Ku paksa diriku keluar dari kerumunan, sebagian orang meneriakiku karena merasa terganggu.
Ku ceritakan apa yang terjadi di tempar kursus kemarin pada Riana. Menghadirkan cerita untuk Riana memang susah-susah gampang, tapi karena ini menyangkut tokoh idolanya, hanya butuh sedikit dramatisir dan dia takkan melepaskan perhatian.
Sesekali ku lihat luapan emosi yang berbeda-beda di wajah Riana. Tak pernah sekalipun berhenti pada satu titik emosi ketika ia menikmati drama dalam imajinasinya. Memang, ku ceritakan sedetail-detailnya. Bagaimana pembicaraan hangat terjalin antara Dika dan Vilia terjadi. Bagaimana Dika menawarkan diri untuk mengantar gadis tercantik di sekolah itu pulang, sebagai klimaks kuceritakan saat Dika memperlakukan Vilia bak seorang putri kerajaan yang ringkih. Segalanya harus serba pelan agar tak ada satu hal pun yang lecet.

Kejadian di sekolah tadi menjadi seperti drama yang memang tak pantas ditonton. Banyak orang menjadi lesu, kaum pembolos mendadak mengalami peningkatan, dan parahnya semua itu hanya karena Dika mengantar Vilia pulang. Apa yang salah? Bukankah mereka memang telah lama dikabarkan menjalin hubungan khusus. Dan seharusnya mereka bangga karena idolanya bisa punya pacar seorang putri sekolah.
Poselku berdering tepat saat aku berhasil menyelesaikan tugas esai. Sederet angka tampak di layar ponselku. Tanpa ragu ku angkat saja meski sama sekali tak tahu siapa yang ada di ujung sana.
“Sekarang, kamu tahu kan bagaimana berartinya aku bagi orang-orang di sekolah?” Orang di ujung telpon sana langsung menonjokku dengan kalimatnya bahkan sebelum aku sempat mengatakan ‘halo’.
“Maaf, ini siapa ya?” tanyaku basa-basi, ya sebatas formalitas.
“Hahaha..... mustahil kalau kamu tidak mengenal siapa aku. Bagaimana mungkin kamu tidak mengenal suara orang yang selalu kamu tatap tempat duduknya?”
Hatiku berdebar, jantungku berdegup kencang, keringat dingin mengucur deras dari pori-pori kulitku. Hampir semua tak terkendali, termasuk otakku. Hanya satu nama yang ada dalam pikiranku, Ryan, dan itu berputar terus dalam otak hingga pusing menyergap.
“Nggak mungkin.” Itu kalimat terakhirku sebelum akhirnya tanpa sengaja aku memencet tombol untuk mengakhiri telepon.
Jujur saja, telpon itu bagaikan pukulan keras bagiku. Tidak tadi saat yang ada dalam pikiranku adalah Ryan. Tidak juga sekarang saat Dika berkelebat dalam ingatanku, karena dia berhasil membuat hampir seisi sekolah heboh. Ryan tak mungkin menelponku sebelum waktu yang ia tentukan datang. Tapi Dika, mungkin saja dia sekarang menaruh dendam karena aku adalah orang yang masih kokoh pendirian tidak terjamah oleh pesona kampungannya itu. tapi darimana dia tahu nomorku sementara kami sama sekali belum pernah bertukar nomor hp.

Hari ini pertama diadakan class meeting. Kegiatan membosankan yang diadakan setiap akhir semester. Yah, meskipun secara tidak langsung memang menurunkan kadar stres saat berteriak menyemangati sebuah tim di lapangan. Tapi sepertinya tidak untuk semester ini, saat kebanyakan orang berpusat pada gravitasi yang diciptakan Dika selama enam bulan terakhir. Tentu saja, ini salah satu alasan yang membuat acara ini menjadi lebih menyebalkan dari semester-semester sebelumnya.
Parah, pertandingan pertama yang digelar adalah basket. Setelah sempat kalah pamor dengan volly, akhirnya olahraga ini kembali melejit. Bukan karena prestasinya dalam turnamen sudah berhasil mengalahkan olahraga lain, hanya saja ada artis lapangan baru sekarang. Tribun penonton sudah mulai disesaki oleh pendukung masing-masing tim. Sempat ku lihat di tengah tribun utama, spanduk besar bertuliskan nama Dika dengan serentetan kalimat semangat di bawahnya.
Andai saja Ryan melihatnya sekarang. Mungkin ia hanya akan berkata “Apa yang mereka lakukan takkan sebanding dengan apa yang akan mereka dapatkan.” Karena menurutnya tak ada satupun artis sekolah yang bisa adil.
Mereka lebih fanatik dari tahunmu. Mereka bisa saja dengan suka rela menyumbangkan segala perasaan mereka hanya untuk sakit hati karena tak dianggap. Terkadang ku dengar mereka membandingkanmu dengan anak baru itu. Tentang perbedaan takdir dan sikap kalian. Dika terlanjur mendapat predikat anak orang kaya yang makmur karena motornya, dan dia sama sekali tidak terlihat sederhana.

Aku kembali duduk disini, di kursi kayu, tepat di bawah pohon cemara nomor tiga. Sudah terlalu sore sekarang, yang ada hanya angin sore yang sesekali menggoyangkan daun-daun pohon cemara. Gesek suaranya sungguh menenangkan, seperti katamu dulu sebelum pergi. Tak salah jika kamu meninggalkan tempat ini untukku. Bangku di depan kelasmu sana, itulah tempat kedua yang katamu boleh menjadi milikku juga, meskipun kenyataannya, tentu saja siapapun boleh duduk disana
“Kamu dengar gesekan suara itu.” Ryan mengambil sesuatu dari tasnya.
“Hemm...” sengaja aku hanya bergumam. Tak ada yang lebih indah dari suaramu saat itu.
“Suara itu akan membawamu kembali ke kenangan kita.”
“Yang mana?”
“Ayolah, aku sudah menganggapmu adik, dan itu yang terbaik untuk kita.” Aku berani sumpah demi apapun, suara Ryan bergetar, ada aura ketakutan di dalamnya. Dan itu satu-satunya yang membuatku merasa bahwa dia serius dengan ucapannya.
“Tenanglah, kak. Memang tak ada yang bisa menggantikan posisimu sebagai kakak.” Senyum tipis menyungging manis di bibir pinknya.
Kenagan itu akan selalu hidup di sini. Di hatiku, kursi kayu, dan tentu saja di sekolah ini. Tak ada yang mampu menghapusnya. Ku layangkan pandanganku menuju singgasana di mantan kelasmu. Dalam ilusiku masih kulihat dirimu yang melambaikan tangan padaku. Seperti yang dulu sering kau lakukan saat dengan sengaja kulangkahkan kaki melewati muka kelasmu. Yah, duduk disini memang akan dan selalu membangkitkan kenangan-kenanganku bersamamu. Sesekali kupandangi layar ponselku, tapi nihil, tak ada apapun di sana.
“Sudahlah, untuk apa selalu menatap tempat yang sama?” Suara itu mengingatkanku pada suara Ryan. Tanpa pikir panjang kupalingkan wajahku ke belakang.
“Kenapa? Kamu kira aku Ryan?” Suara itu mengalun dengan nada mengejek dari mulut Dika. Kekesalan yang mengakibatkan wajahku cemberut justru membuatnya menghadirkan tawa renyah.
“Jangan sok tahu.”
“Aku emang tahu dan aku salut karena ternyata kamu sama sekali belum tertarik padaku, padahal.....”
“Aku nggak akan semudah itu tertarik dengan artis belagu sepertimu.” Kulayangkan tatapan mengejek pada Dika. Ia duduk disampingku tanpa permisi. Ditaruhnya lengannya yang lumayan berotot di belakang kepalaku. Membuatku risih dan segera ingin pergi.
“Tapi aku seseoarang yang dikirim Ryan untuk menggantikannya.”
“Sebagai artis sekolah. Itu untuk orang lain, bagiku tak semudah itu meletakkan hati pada yang lain.”
“Yap. Dan sebagai orang untuk mengujimu.” Aku hanya menatap Dika heran. Sama sekali tak ada yang membuatku mengerti tentang apa yang dikatakannya dari tadi.
“Gimana, cantik, udah punya idola baru sekarang?” Sebuah tangan dengan sensasi agak kasar itu menutup kedua mataku. Tak mungkin salah lagi ini tangan Ryan.
“Kenapa yang dikirim artis nggak  mutu gini sih?” kataku seraya melayangkan tinju ke lengan Dika.
“Kak, aku duluan ya, mau jemput Vilia, kita kan mau double date.”
“Kakak?”
“Dia adik aku.” Ryan menatapku dengan tatapan meyakinkan, meskipun itu hanya membuatku semakin merasa ia bercanda. “Ya, dia adik kandungku.” Ryan memperlihatkan foto bersamanya dengan Dika seperti seorang polisi yang menunjukkan identitas pada buronan. Aku hanya bingung menatap Ryan dan Dika bergantian, sementara mereka menertawakanku tanpa rasa bersalah.
###

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...