Kenapa tidak dari dulu aku sering
kesini, gerutuku sambil menikmati semilir angin yang perlahan menggerakkan daun
cemara. Menciptakan suara yang khas saat daun-daun di atas sana saling beradu
karena angin. Pandanganku tak lepas dari bangku pojok di kelasmu dulu,
singgasana kesayanganmu. Dari pangkuan kursi kayu ini memang langsung bisa
melihat dengan jelas isi kelasmu.
“Aku hanya akan duduk di dua bangku
yang ku pilih di kelasku.” Itu kalimat pertamamu, Ryan saat bertemu denganku di
ruang ujian nomor 10. “Yang jelas tidak di barisan depan seperti ini.” Lanjutmu
sambil tergesa-gesa mengeluarkan alat ujian. Sementara aku masih diam dan belum
berniat untuk menanggapi kata-katamu.
“Hanya di bangku pojok paling
belakang, dan di bangku nomor dua dari belakang, itu pun harus dekat dengan
jendela yang rendah.” Ryan mengambil paksa kartu ujianku.
Saat itu, aku hanya mampu menunduk,
karena takut kamu akan menertawakan namaku.
“Bintang Tanubrata.” Katamu tegas.
“Nama yang indah, tapi aku mau panggil kamu cantik aja.” Terpaksa, kulayangkan
senyum yang ku rasa paling konyol padamu. Habis mau apa lagi? Dia lancang
mengatakan itu.
Jantungku mulai berdenyut lebih
kencang, setelah sadar bahwa di belakang sana, Riana pasti sedang menatap ke
bangkuku. Tepat dua bangku setelahku, disanalah gadis manis yang telah lama
mengagumi Ryan berada. Aku tak bisa seenaknya saja dengan fans Ryan yang satu
ini, karena dia sahabatku.
Semuanya masih seperti dulu, saat
kamu masih disini. Sekolah berakhir jam dua dan akan sepi tepat pukul tiga
sore. Segelas minuman dingin menemaniku di bangku kayu. Sambil membaca novel,
sesekali wajahku berpaling ke singgasanamu. Lebih tepatnya aku lebih banyak
melihatnya daripada novel. Kulihat candamu dalam ilusi, senyum indah dan mata
yang indah di balik kacamata itu.
Tak banyak yang berubah di sini,
tidak tempat ini dan tidak bagaimana diriku terhadapmu. Kamu tahu tak pernah
ada yang berubah hingga waktu itu tiba, saat aku jatuh pada kesalahan yang
sama. Katamu aku akan jatuh cinta pada orang yang duduk di singgasanamu. Jujur
saja aku tak mau percaya itu, karena aku akan menunggumu.
Sekarang ada dia disini. Seseorang
yang sepertinya berusaha merebut perhatianku dengan cara-cara yang tak bermutu.
Biar ku kenalkan padamu, Dika, itulah namanya. Jauh dari inisial nama yang ku
suka kan? Aku suka nama dengan inisial R sedangkan dia berinisial D. Dia baru
pindah saat tahun ajaran terakhir dimulai. Entahlah darimana asalnya yang jelas
dia sering menjadi bahan pembicaraan orang-orang di sekolah ini. Sama sepertimu
dulu, ia menjadi artis sekolah bahkan dalam waktu yang lebih singkat darimu.
Hanya modal tampang dan hampir semua berteriak suka padanya.
“Lala, nggak pulang?” tanya Gitta
dengan suara centilnya.
“Belum, sebentar lagi, ini masih
baca.” Kuperlihatkan sampul novel yang tengah ku baca.
Aku mendesah lega saat gadis
berperawakan tinggi besar itu kemudian melintas pergi. Karena akan lain
ceritanya saat ia berhasil memergokiku yang sebenarnya hanya duduk di bangku
kayu dan melihat bangku pojok di dalam
kelas sana, sambil sesekali menyeruput jus dari gelas yang sudah mulai
mengembun.
“Dik, aku ambil tas dulu. Terserah
mau nunggu atau ke parkiran dulu.” Suara itu benar-benar berat dan menggelegar.
Membuyarkan lamunanku yang masih berkutat dengan halusinasi.
Dika berdiri di koridor sekolah
dengan melipat tangannya di depan dada, tepat segaris dengan bangku kayu yang
kududuki. Kubereskan barang-barangku dari kursi kayu masih dengan perasaan
diawasi yang membuaru. Kuberanikan diri untuk melihat Dika yang berdiri di sana
dengan tatapan burung elang. Tajam dan siap menukik mangsa pada saat yang telah
diperhitungkan. Mungkin ini salah satu caranya memikat begitu banyak perempuan
di sekolah ini. Tatapannya yang khas dan sering dielu-elukan.
Ribuan bintang menemaniku malam
ini. Tidak dengan kenangan, karena aku terlalu sibuk untuk memikirkan
kenyataan. Bahwa Dika memang memiliki pesona hampir seperti Ryan. Karismanya
begitu kuat, terlihat amat berwibawa dan dia sedikit pantas menjadi kalangan
eksekutif di sekolah. Dia berhasil membuat banyak orang tertarik dengan
olahraga yang sebelumnya tak punya begitu banyak penggemar. Dia berhasil
membuat banyak gadis teriak kegirangan mengiringi langkahnya. Tapi sayang
kemampuannya mengendalikan diri masih harus diperhitungkan.
Kenangan tentangmu di tengah ujian
semester itu muncul dalam benakku yang sebenarnya sedang kesepian.
“Menjadi yang terkenal memang tidak
mudah.” Kalimat Ryan mengalun pelan dalam pikiranku. Tak perlu waktu lama, aku
langsung mengiyakan kalimat itu. “Menjadi terkenal berarti populer dan itu
sedikit merepotkan.”
“Kenapa?” sengaja kupalingkan wajah
ke arahmu.
“Menjadi terkenal tak semudah
membalikkan telapak tangan.”
“Karena sulit untuk membuat orang
simpatik dan akhirnya fanatik?” kataku sambil memiringkan kepala, sampai kamu
bisa melihat bagaimana penasarannya aku.
“Bukan itu yang membuat terkenal
sulit. Untuk itu, kamu tinggal tunjukkan apa kelebihanmu dengan caramu.”
“Lalu?”
“Menjaga setiap perilakumu tetap
istimewa tanpa memandang waktu, itulah yang sulit. Ibarat matahari semua planet
akan berorbit padamu.” Tak sedikitpun kupalingkan pandanganku dari wajahmu saat
itu. Begitu indah seolah memang tak ada yang mampu mengunggulimu lagi.
Mungkin, seharusnya Dika belajar
darimu, Ryan. Belajar menjadi diri sendiri diatas tuntutan sekian banyak orang.
Tak perlu terlihat sempurna. Dika berbeda darimu, jadi itulah salah satu alasan
kenapa aku tidak berpaling darimu untuk mengagumi dia.
Ku tapakkan kakiku dengan sedikit
semangat yang menurun. Pelajaran hari ini sama sekali tak ada yang menarik,
bukan pelajarannnya tapi pengajar dan bagaimana mengajarnya. Yah, tapi tak
mungkin pindah sekolah karena hal ini. Belum tentu di sekolah lain akan lebih
baik.
Tepat di koridor utama, sekian
banyak siswa berjejal di depan mading sekolah. Entahlah apa lagi yang terjadi,
tapi setelah melihat gelagat mereka, aku sedikit menduga ada hubungannya dengan
murid baru itu. Terdengar teriakan-teriakan tak percaya di sana, semua penuh
ekspresi, bahkan ada diantara mereka yang hanya mampu ternganga di depan
mading. Sama sekali tanpa melakukan apapun, dan ku rasa dia sudah mati rasa di
sana.
“Kenapa ini harus terjadi?” tanya
seorang gadis berkepang dengan kesal. Tampak sekali aura kemarahan dari air
mukanya.
“Sudahlah, mungkin kali ini dia
memang belum bisa menjadi bagian dari hidupmu.” Sambut seorang lainnya sambil
memegang bahu si gadis berkepang. Meskipun sebenarnya ia juga tampak sama
kesalnya.
Sementara aku masih menyimpan rasa
penasaran dan hanya mampu berdiri tanpa gerakan berarti. Seseorang menarikku
hingga kurasakan jantungku nyaris copot dibuatnya.
“Apa kamu juga melihatnya?” Riana
menarikku ke kerumunan mading dan menunjukkan sebuah foto yang tertempel rapi
dengan judul ‘Sang Pangeran bersama Putri pujaannya’.
“Sepertinya.....” Aku berusaha
keluar dari kerumunan sementara Riana justru menahan langkahku dengan isyaat
untuk menjelaskan. “Ikutlah ke kelasku kalau kamu ingin mendengar cerita
lengkapnya.” Ku paksa diriku keluar dari kerumunan, sebagian orang meneriakiku
karena merasa terganggu.
Ku ceritakan apa yang terjadi di
tempar kursus kemarin pada Riana. Menghadirkan cerita untuk Riana memang
susah-susah gampang, tapi karena ini menyangkut tokoh idolanya, hanya butuh
sedikit dramatisir dan dia takkan melepaskan perhatian.
Sesekali ku lihat luapan emosi yang
berbeda-beda di wajah Riana. Tak pernah sekalipun berhenti pada satu titik emosi
ketika ia menikmati drama dalam imajinasinya. Memang, ku ceritakan
sedetail-detailnya. Bagaimana pembicaraan hangat terjalin antara Dika dan Vilia
terjadi. Bagaimana Dika menawarkan diri untuk mengantar gadis tercantik di
sekolah itu pulang, sebagai klimaks kuceritakan saat Dika memperlakukan Vilia
bak seorang putri kerajaan yang ringkih. Segalanya harus serba pelan agar tak
ada satu hal pun yang lecet.
Kejadian di sekolah tadi menjadi
seperti drama yang memang tak pantas ditonton. Banyak orang menjadi lesu, kaum
pembolos mendadak mengalami peningkatan, dan parahnya semua itu hanya karena
Dika mengantar Vilia pulang. Apa yang salah? Bukankah mereka memang telah lama
dikabarkan menjalin hubungan khusus. Dan seharusnya mereka bangga karena
idolanya bisa punya pacar seorang putri sekolah.
Poselku berdering tepat saat aku
berhasil menyelesaikan tugas esai. Sederet angka tampak di layar ponselku.
Tanpa ragu ku angkat saja meski sama sekali tak tahu siapa yang ada di ujung
sana.
“Sekarang, kamu tahu kan bagaimana
berartinya aku bagi orang-orang di sekolah?” Orang di ujung telpon sana
langsung menonjokku dengan kalimatnya bahkan sebelum aku sempat mengatakan
‘halo’.
“Maaf, ini siapa ya?” tanyaku
basa-basi, ya sebatas formalitas.
“Hahaha..... mustahil kalau kamu
tidak mengenal siapa aku. Bagaimana mungkin kamu tidak mengenal suara orang
yang selalu kamu tatap tempat duduknya?”
Hatiku berdebar, jantungku berdegup
kencang, keringat dingin mengucur deras dari pori-pori kulitku. Hampir semua
tak terkendali, termasuk otakku. Hanya satu nama yang ada dalam pikiranku,
Ryan, dan itu berputar terus dalam otak hingga pusing menyergap.
“Nggak mungkin.” Itu kalimat
terakhirku sebelum akhirnya tanpa sengaja aku memencet tombol untuk mengakhiri
telepon.
Jujur saja, telpon itu bagaikan
pukulan keras bagiku. Tidak tadi saat yang ada dalam pikiranku adalah Ryan.
Tidak juga sekarang saat Dika berkelebat dalam ingatanku, karena dia berhasil
membuat hampir seisi sekolah heboh. Ryan tak mungkin menelponku sebelum waktu
yang ia tentukan datang. Tapi Dika, mungkin saja dia sekarang menaruh dendam
karena aku adalah orang yang masih kokoh pendirian tidak terjamah oleh pesona
kampungannya itu. tapi darimana dia tahu nomorku sementara kami sama sekali
belum pernah bertukar nomor hp.
Hari ini pertama diadakan class
meeting. Kegiatan membosankan yang diadakan setiap akhir semester. Yah,
meskipun secara tidak langsung memang menurunkan kadar stres saat berteriak
menyemangati sebuah tim di lapangan. Tapi sepertinya tidak untuk semester ini,
saat kebanyakan orang berpusat pada gravitasi yang diciptakan Dika selama enam
bulan terakhir. Tentu saja, ini salah satu alasan yang membuat acara ini
menjadi lebih menyebalkan dari semester-semester sebelumnya.
Parah, pertandingan pertama yang
digelar adalah basket. Setelah sempat kalah pamor dengan volly, akhirnya
olahraga ini kembali melejit. Bukan karena prestasinya dalam turnamen sudah
berhasil mengalahkan olahraga lain, hanya saja ada artis lapangan baru
sekarang. Tribun penonton sudah mulai disesaki oleh pendukung masing-masing
tim. Sempat ku lihat di tengah tribun utama, spanduk besar bertuliskan nama
Dika dengan serentetan kalimat semangat di bawahnya.
Andai saja Ryan melihatnya
sekarang. Mungkin ia hanya akan berkata “Apa yang mereka lakukan takkan
sebanding dengan apa yang akan mereka dapatkan.” Karena menurutnya tak ada
satupun artis sekolah yang bisa adil.
Mereka lebih fanatik dari tahunmu.
Mereka bisa saja dengan suka rela menyumbangkan segala perasaan mereka hanya
untuk sakit hati karena tak dianggap. Terkadang ku dengar mereka
membandingkanmu dengan anak baru itu. Tentang perbedaan takdir dan sikap kalian.
Dika terlanjur mendapat predikat anak orang kaya yang makmur karena motornya,
dan dia sama sekali tidak terlihat sederhana.
Aku kembali duduk disini, di kursi
kayu, tepat di bawah pohon cemara nomor tiga. Sudah terlalu sore sekarang, yang
ada hanya angin sore yang sesekali menggoyangkan daun-daun pohon cemara. Gesek
suaranya sungguh menenangkan, seperti katamu dulu sebelum pergi. Tak salah jika
kamu meninggalkan tempat ini untukku. Bangku di depan kelasmu sana, itulah
tempat kedua yang katamu boleh menjadi milikku juga, meskipun kenyataannya,
tentu saja siapapun boleh duduk disana
“Kamu dengar gesekan suara itu.”
Ryan mengambil sesuatu dari tasnya.
“Hemm...” sengaja aku hanya
bergumam. Tak ada yang lebih indah dari suaramu saat itu.
“Suara itu akan membawamu kembali
ke kenangan kita.”
“Yang mana?”
“Ayolah, aku sudah menganggapmu
adik, dan itu yang terbaik untuk kita.” Aku berani sumpah demi apapun, suara
Ryan bergetar, ada aura ketakutan di dalamnya. Dan itu satu-satunya yang
membuatku merasa bahwa dia serius dengan ucapannya.
“Tenanglah, kak. Memang tak ada
yang bisa menggantikan posisimu sebagai kakak.” Senyum tipis menyungging manis
di bibir pinknya.
Kenagan itu akan selalu hidup di
sini. Di hatiku, kursi kayu, dan tentu saja di sekolah ini. Tak ada yang mampu
menghapusnya. Ku layangkan pandanganku menuju singgasana di mantan kelasmu.
Dalam ilusiku masih kulihat dirimu yang melambaikan tangan padaku. Seperti yang
dulu sering kau lakukan saat dengan sengaja kulangkahkan kaki melewati muka
kelasmu. Yah, duduk disini memang akan dan selalu membangkitkan
kenangan-kenanganku bersamamu. Sesekali kupandangi layar ponselku, tapi nihil,
tak ada apapun di sana.
“Sudahlah, untuk apa selalu menatap
tempat yang sama?” Suara itu mengingatkanku pada suara Ryan. Tanpa pikir
panjang kupalingkan wajahku ke belakang.
“Kenapa? Kamu kira aku Ryan?” Suara
itu mengalun dengan nada mengejek dari mulut Dika. Kekesalan yang mengakibatkan
wajahku cemberut justru membuatnya menghadirkan tawa renyah.
“Jangan sok tahu.”
“Aku emang tahu dan aku salut
karena ternyata kamu sama sekali belum tertarik padaku, padahal.....”
“Aku nggak akan semudah itu
tertarik dengan artis belagu sepertimu.” Kulayangkan tatapan mengejek pada
Dika. Ia duduk disampingku tanpa permisi. Ditaruhnya lengannya yang lumayan
berotot di belakang kepalaku. Membuatku risih dan segera ingin pergi.
“Tapi aku seseoarang yang dikirim
Ryan untuk menggantikannya.”
“Sebagai artis sekolah. Itu untuk
orang lain, bagiku tak semudah itu meletakkan hati pada yang lain.”
“Yap. Dan sebagai orang untuk
mengujimu.” Aku hanya menatap Dika heran. Sama sekali tak ada yang membuatku
mengerti tentang apa yang dikatakannya dari tadi.
“Gimana, cantik, udah punya idola
baru sekarang?” Sebuah tangan dengan sensasi agak kasar itu menutup kedua
mataku. Tak mungkin salah lagi ini tangan Ryan.
“Kenapa yang dikirim artis
nggak mutu gini sih?” kataku seraya
melayangkan tinju ke lengan Dika.
“Kak, aku duluan ya, mau jemput
Vilia, kita kan mau double date.”
“Kakak?”
“Dia adik aku.” Ryan menatapku
dengan tatapan meyakinkan, meskipun itu hanya membuatku semakin merasa ia
bercanda. “Ya, dia adik kandungku.” Ryan memperlihatkan foto bersamanya dengan Dika
seperti seorang polisi yang menunjukkan identitas pada buronan. Aku hanya
bingung menatap Ryan dan Dika bergantian, sementara mereka menertawakanku tanpa
rasa bersalah.
###
No comments:
Post a Comment