Konyol. Sekonyol komedi penuh nuansa humor yang sering memadati jadwal TV swasta. Sekonyol bumbu-bumbu humor dalam pembicaraan yang garing. Cuma ngalor-ngidul-ngetan-ngulon (sambil nunjuk arah) :D Sekonyol hal-hal aneh yang dilakukan orang-orang yang stres gara-gara masalah hidup. Dan satu yang pasti, sekonyol hasil foto yang akan ada di dalam sebuah buku. Titik yang paling menyedihkan adalah “buku itu akan ada sepanjang masa”. Sekali lagi “SEPANJANG MASA”. Mengiringi langkah sang pemilik menapaki masa depan yang cerah.
Huuh...gak tau harus ngomong apa lagi. Bayang-bayang menjadi model
dadakan yang penuh kekonyolan masih saja memadati lalu lintas pikiran dalam
otak. Menimbulkan kemacetan yang sangat padat. Sementara memori-memori lain
membentuk antrean panjang. Beradu suara klakson hingga nyaris seperti keramaian
yang diciptakan sebuah pawai. Beberapa menggemborkan gasnya keras-keras penuh
kemarahan. Semuanya ingin memori konyol ini segera lenyap. Hilang tanpa ada
sisa. Tapi yang ada justru ini.
Seolah memori konyol ini ingin selalu mengulangi pertunjukannya. Ia
selalu menekan tombol replay. Tak peduli dengan apa kemarahan memori lain yang
tengah meneriakinya. Tak peduli makian apa yang didapatnya. Semua itu bagai
teriakan tak berguna. Bahkan saking konyolnya, memori konyol ini justru
menganggap itu adalah sebuah sambutan.
Memori konyol kembali menayangkan pertunjukannya tentang “teriak
kuda”. Ada dua orang anak berseragam putih abu-abu di sana. Tepatnya di dalam
ruangan UKS yang sempit dan jauh dari kata mewah. *Mau tau siapa yang ada di
sana? Itu aku. Dengan temanku tentu saja.*
Memori konyol melanjutkan slide-slidenya yang tetap saja, tak
seharusnya mengadakan pertunjukan. Dua anak itu, mendadak bingung harus
melakukan apa. Apalagi setelah mendapati seorang pemuda bertopi menyuruh mereka
untuk berpose. *Pose? Foto di hp-ku aja dipenuhi foto awan di langit biru.*
Yang ada bukan segera berpose atau apalah itu namanya, tapi malah kebingungan
apa yang harus dilakukan.
“Kalian gini aja, ambil perban trus buat bercanda.” Kata si cameraman sambil mengutak-atik
kameranya. *Yaiyalah masak ngutak-atik papan catur?*
Dan dengan keterpaksaan yang sangat mendalam, salah satu dari personil
model UKS dadakan itu membuka bungkusan perban. Sesuai dengan arahan, maka
terjadilah praktek pembunuhan *gilag serem banget. Tapi kalau mau tahu apa
jadinya, lihatlah setelah UN.*
Selain adegan pembunuhan, mereka juga harus berteriak ‘kuda’. Entah
apa maksudnya, tapi yang jelas agar tak ada yang dibuat-buat. Agar ada yang
natural di hasilnya nanti. 10 kali teriakan dan harus diulang dari awal. *Lebih
gampang ngarahin daripada diarahin.*
Melelahkan, tapi ini harus dilakukan. Taruhannya adalah, lembaran
bergambar pahlawan yang harus keluar dari dompet. Jadi, mau nggak mau,
sekalipun harus teriak ‘kuda’ seratus kali ya harus dilaksanakan. Kecuali mau
hasil yang lebih konyol lagi dan lebih tak karuan.
Perlahan tapi pasti, tayangan konyol yang membosankan itu mengabur.
Sedikit demi sedikit dan mulai hilang tak meninggalkan sisa. Pertunjukan
berakhir. Seolah film horor baru saja usai, lenyap dari layar lebar di depan
persimpangan jalan. Memori-memori lain berteriak gembira, membunyikan klakson
dengan suasana hati yang berbeda. Kebosanan yang mengancam diiringi ketakutan
itu kini lenyap sudah.
Lalu lintas kembali normal. Giliran memori khayal penuh mimpi
mengandung motivasi tinggi yang kini menghadirkan pertunjukannya. Semuanya
tenang, menyunggingkan senyum termanis penuh optimis dan ambisi untuk
mewujudkannya. Meski tak dapat dipungkiri, memori itu mungkin akan mengulang
kembali pertunjukannya. Tapi yang ada sekarang hanyalah rasa percaya bahwa apa
yang ada dalam pertunjukan masa depan itu akan segera menemui waktunya untuk
terwujud.

No comments:
Post a Comment