Pages

Thursday, January 5, 2012

Teriak 'kuda'




Konyol. Sekonyol komedi penuh nuansa humor yang sering memadati jadwal TV swasta. Sekonyol bumbu-bumbu humor dalam pembicaraan yang garing. Cuma ngalor-ngidul-ngetan-ngulon (sambil nunjuk arah) :D Sekonyol hal-hal aneh yang dilakukan orang-orang yang stres gara-gara masalah hidup. Dan satu yang pasti, sekonyol hasil foto yang akan ada di dalam sebuah buku. Titik yang paling menyedihkan adalah “buku itu akan ada sepanjang masa”. Sekali lagi “SEPANJANG MASA”. Mengiringi langkah sang pemilik menapaki masa depan yang cerah.
Huuh...gak tau harus ngomong apa lagi. Bayang-bayang menjadi model dadakan yang penuh kekonyolan masih saja memadati lalu lintas pikiran dalam otak. Menimbulkan kemacetan yang sangat padat. Sementara memori-memori lain membentuk antrean panjang. Beradu suara klakson hingga nyaris seperti keramaian yang diciptakan sebuah pawai. Beberapa menggemborkan gasnya keras-keras penuh kemarahan. Semuanya ingin memori konyol ini segera lenyap. Hilang tanpa ada sisa. Tapi yang ada justru ini.
Seolah memori konyol ini ingin selalu mengulangi pertunjukannya. Ia selalu menekan tombol replay. Tak peduli dengan apa kemarahan memori lain yang tengah meneriakinya. Tak peduli makian apa yang didapatnya. Semua itu bagai teriakan tak berguna. Bahkan saking konyolnya, memori konyol ini justru menganggap itu adalah sebuah sambutan.
Memori konyol kembali menayangkan pertunjukannya tentang “teriak kuda”. Ada dua orang anak berseragam putih abu-abu di sana. Tepatnya di dalam ruangan UKS yang sempit dan jauh dari kata mewah. *Mau tau siapa yang ada di sana? Itu aku. Dengan temanku tentu saja.*
Memori konyol melanjutkan slide-slidenya yang tetap saja, tak seharusnya mengadakan pertunjukan. Dua anak itu, mendadak bingung harus melakukan apa. Apalagi setelah mendapati seorang pemuda bertopi menyuruh mereka untuk berpose. *Pose? Foto di hp-ku aja dipenuhi foto awan di langit biru.* Yang ada bukan segera berpose atau apalah itu namanya, tapi malah kebingungan apa yang harus dilakukan.
“Kalian gini aja, ambil perban trus buat bercanda.” Kata si cameraman sambil mengutak-atik kameranya. *Yaiyalah masak ngutak-atik papan catur?*
Dan dengan keterpaksaan yang sangat mendalam, salah satu dari personil model UKS dadakan itu membuka bungkusan perban. Sesuai dengan arahan, maka terjadilah praktek pembunuhan *gilag serem banget. Tapi kalau mau tahu apa jadinya, lihatlah setelah UN.*
Selain adegan pembunuhan, mereka juga harus berteriak ‘kuda’. Entah apa maksudnya, tapi yang jelas agar tak ada yang dibuat-buat. Agar ada yang natural di hasilnya nanti. 10 kali teriakan dan harus diulang dari awal. *Lebih gampang ngarahin daripada diarahin.*
Melelahkan, tapi ini harus dilakukan. Taruhannya adalah, lembaran bergambar pahlawan yang harus keluar dari dompet. Jadi, mau nggak mau, sekalipun harus teriak ‘kuda’ seratus kali ya harus dilaksanakan. Kecuali mau hasil yang lebih konyol lagi dan lebih tak karuan.
Perlahan tapi pasti, tayangan konyol yang membosankan itu mengabur. Sedikit demi sedikit dan mulai hilang tak meninggalkan sisa. Pertunjukan berakhir. Seolah film horor baru saja usai, lenyap dari layar lebar di depan persimpangan jalan. Memori-memori lain berteriak gembira, membunyikan klakson dengan suasana hati yang berbeda. Kebosanan yang mengancam diiringi ketakutan itu kini lenyap sudah.
Lalu lintas kembali normal. Giliran memori khayal penuh mimpi mengandung motivasi tinggi yang kini menghadirkan pertunjukannya. Semuanya tenang, menyunggingkan senyum termanis penuh optimis dan ambisi untuk mewujudkannya. Meski tak dapat dipungkiri, memori itu mungkin akan mengulang kembali pertunjukannya. Tapi yang ada sekarang hanyalah rasa percaya bahwa apa yang ada dalam pertunjukan masa depan itu akan segera menemui waktunya untuk terwujud. 

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...