Hai, kawan blogger, postingan
kali ini spesial pake abon buat adek tercinte, Dhean. Hmm, suka duka
jadi kakak terasa banget gara-gara dia. Dulu pas zamannya baru aja bisa naik
sepeda tanpa roda bantu (kanan-kiri) ngrengek-ngrengek punya adik. Tanpa maksud
untuk minta adik jenis apa yang sebenarnya aku inginkan. Yang jelas punya adik
aja.
Di balik sebuah cerita yang
belum kuungkapkan di hadapan orangtuaku, aku menerima kehadirannya. Hmmm,
walaupun harus patah hati di usia sepuluh tahun sih. Tapi, okelah, ini juga
anugrah. Menerima kurang dan lebihnya dia. Juga cantik dan nakalnya dia yang
sama-sama nggak ketulungan.
Kali ini aku mau cerita tentang
nggak enaknya dulu aja, kawan. Kebetulan juga karena sikapnya akhir-akhir ini
yang maksa aku untuk selalu bilang ‘argh’.