7 April 2012
Dear, Ebi
Hai, Bi,
semoga kamu masih baik-baik aja. Aku tahu sekarang kamu lagi galau sambil
menikmati suara serak dan tenggorokan serak. Aku juga tahu kalau sekarang kamu
lagi mikir, mau ikut acara anak-anak itu atau nggak. Ya, memang semua itu
tawaran yang cukup menggiurkan. Aku tahu itu. Sangat menggiurkan, apalagi
mereka yang menjadi oknum (dari pengamatanku) tampak sangat lihai dalam
menggaet orang lain. Gambarannya mirip seorang calo tiket konser yang tampak
meyakinkan bahwa kamu bisa nonton konser itu di barisan paling depan dengan
bantuan mereka.
Maaf, bukannya
aku mau sok suci atau apa. Aku juga nggak berharap kamu ikut gerakanku yang
menolak mentah-mentah acara itu. Aku tahu kamu sudah cukup dewasa untuk memilih
mana yang baik dan mana yang tidak untukmu. Menurutku kamu cukup tahu dan cukup
mengerti konsekuensi yang akan kamu terima karena melakukan suatu hal.
Satu hal yang
ingin aku katakan melalui surat ini, Bi, pikirkan lagi keputusan yang akan kamu
ambil itu matang-matang. Jangan sampai akhirnya kamu menyesal karena apa yang
kamu lakukan. Aku nggak akan menganggapmu alay sekalipun kamu butuh shalat istiharah
untuk menentukan hal ini. Terserah cara apa yang kamu pakai untuk mengambil
keputusan, pesanku jangan gegabah. Pikirkan semuanya dengan pikiran tenang,
jangan grusah-grusuh karena resikonya menurutku nggak bisa dibilang kecil.
Tentang hasil,
aku paham kamu pengen mempersembahkan yang terbaik untuk orangtua dan
saudaramu. Aku, bahkan seluruh manusia ingin mempersembahkan yang terbaik untuk
orang yang dikasihinya. Tapi, akan lebih baik lagi jika sesuatu terbaik yang
kita persembahkan itu juga didapat dari suatu jalan yang baik tidak hanya
menurut kita tapi juga menurut orang lain. Dengan begitu, kita tidak hanya
membahagiakan dan membuat bangga orang yang kita sayang (orangtua) tapi juga
mereka di luar sana.
Oke, Bi,
sekian suratku kali ini, semoga kamu dimudahkan dalam mengambil keputusan yang
terbaik. Jika pada akhirnya kamu memilih untuk tidak melakukan hal itu, semoga
kamu memiliki kekuatan untuk berdalih di depan mereka untuk membatalkan
rencanamu mengikuti acara itu. Aku ingin melihatmu tegas mengatakan bahwa kamu
membatalkan rencana awalmu.
Aku tahu siapa
kamu yang dulu. Bi, tapi kalau kamu menerima tawaran itu, mungkin aku akan
merasa telah kehilangan orang sepertimu. Ingat selalu ada pilihan dalam hidup,
semua terserah kamu mau pilih yang mana.
Your (best)
friend, Cicit J

No comments:
Post a Comment