| ilustration by google |
Aku tahu itu siluetmu, Rez. Meski
matahari terlalu sombong sampai cahayanya hanya menunjukkan seberkas bayangan
hitam, tapi aku tahu itu kamu. Sesekali kamu tampak menunjukkan teknik dribble yang kamu kuasai. Ya, aku hafal
semua tentang dirimu meski aku terpejam pun aku akan tahu.
Kamu duduk di sampingku, ikut
memandang matahari yang hendak pulang ke peraduannya sambil sesekali memutar
bola dengan jari telunjukmu. Botol yang kuserahkan tadi telah kamu habiskan
isinya sekali tenggak. Tiba-tiba telunjukmu mengarah ke burung-burung yang
seolah melintas di tengah badan matahari. Katamu mereka sungguh pemberani.
Melawan sesuatu yang begitu mempesona dan besar agar sampai ke tujuan mereka.
Seandainya
kamu tahu, Rez, aku sama seperti mereka. Aku juga berani seperti mereka,
melawan semua kelebihanmu. Bahkan sekarang aku lebih berani dari mereka.
Kamu menarik tanganku, setengah menyeret
badanku yang enggan beralih dari tempat dudukku. Tatapanmu menyiratkan bahwa
kamu ingin aku beranjak dan mengikuti kemana pun kakimu ingin melangkah. Aku
beranjak dan melangkah seiring langkah kakimu, menikmati genggaman dan senyum
yang tak pernah sedetik pun hilang dari wajahmu. Kamu kembali menunjuk apapun
yang kamu suka kemudian tersenyum puas dibuatnya. Aku senang melihatmu seperti
ini.
“Lihatlah pelangi itu.” Aku menatap
dan tersenyum padamu. “Ayo lihatlah pelangi itu, lakukan itu untukku.”
Iya,
iya, Rez, aku melihatnya bahkan akulah yang tadi menciptakannya untukmu. Agar
kamu bisa melepas lelah dengannya.
“Kamu tahu, pelangi itu indah, dia tak
hanya satu warna dan disana kamu bisa meyelipkan mimpimu.” Kamu tersenyum lagi
dan semakin membuatku nyaman olehnya.
Sebenarnya aku enggan menjawab, tapi
kamu menunggu sebuah kalimat muncul dari mulutku. “Ya, dia memang indah.”
kataku dengan sedikit desahan. “Tapi, tahukah kamu, Rez? Walaupun mereka
mempunyai banyak warna dan kamu hanya satu warna, aku akan lebih memilihmu.
Bagiku kamu lebih berwarna dan kamu nyata, sedangkan pelangi ia hanya pembiasan
yang mudah hilang.”
Senyummu kembali menyumbangkan warna
untuk hidupku, Rez. Kembali senyum itu lagi yang membuatku nyaman.
Aku senang bisa melihatmu latihan
basket lagi. Seolah tak peduli terik matahari yang ingin menggerogoti
semangatmu. Tapi kamu selalu menang bertarung dengannya, kamu terus mendribble
bola meski ia terus berteriak inginkan kamu berhenti. Aku memandangi gerakanmu
dari sini, sesekali kamu sedikit berlari dan dalam hitungan ketiga bola tepat
mengenai kotak ring seraya melompat. Bola yang ingin menuruti arah grafitasi
itu kamu lemparkan kepadaku.
“Mainlah, temani aku berlatih dan
mencetak point.” Sungguh, itukah caramu membujuk? Kamu berhasil membuatku
berasumsi bahwa hanya aku yang kamu inginkan untuk menemani setiap langkahmu.
“Aku akan mengajarimu.” Katamu sambil
merebut bola dari pantulan yang setengah hati kulakukan. Lay up. Ya, kamu
mengajarkan sesuatu yang belum pernah berhasil kulakukan. Belum sekalipun, dan
sekarang aku seolah menjadi siswa perempuan terhebat yang bisa mencetak skor
dengan teknik lay up.
Kamu mulai mendribble bola basketmu
lagi seraya berucap “Seandainya aku memiliki lapangan basket indoor, kamu tak
perlu kepanasan lagi saat menemaniku.” Aku hanya tersenyum menggapi tatapan
penuh harapmu.
“Ah, aku juga ingin bisa kembali
bermain basket dengan ayahku. Tapi itu mimpi belaka.”
Kamu menggenggam tanganku lagi,
membuatku percaya dengan tatapanmu. Membuatku percaya bahwa kakimu akan membawa
kita ke tempat yang indah.
“Lihat ke langit sana, ayo lihat.” Katamu
sambil menggoyangkan tubuhku yang tertunduk, lelah.
“Iya, aku melihatnya, Rez. Aku suka.” Kulihat
senyummu kembali mengembang dan tanpa disadari lenganmu sukses bersandar di
pundakku.
“Mana yang lebih kamu suka, bulan atau
bintang?” Pertanyaan itu menyambar bagai petir. Aku takut kalau pilihanku
berbeda denganmu.
“Bintang.” Jawabku lirih. “Itu bintang
yang ku pilih, aku selalu bisa menemukannya. Tak peduli musim yang berganti aku
selalu bisa menemukannya.” Kataku sambil mengarahkan jariku ke lautan bintang
di atas sana.
“Hmmm...aku juga menyukainya.” Sesaat diam
tercipta. “Dia terang, dan selalu ada saat aku butuhkan. Dia seolah selalu
berada di sampingku saat aku ingin menceritakan harimu.” Untuk pertama kalinya
tanganmu mengenggam tanganku sangat erat dan tatapan tajammu seolah meruntuhkan
seluruh pertahananku.
“Dia seperti kamu.” Simple. Hanya itu
yang kamu ucapkan dan berhasil membuatku tersipu.
Aku menunggumu di lapangan basket,
sengaja menghadap ke matahari. Ingin membuktikan indahnya cahaya matahari yang
membias di belakang papan ring. Ya, penilaianmu tak pernah salah, Rez, indah
memang.
Brukk! Entah kenapa kamu tiba-tiba
membanting tasmu di sampingku hingga aku sempat terlonjak dibuatnya. Aku sempat
memandangmu dengan tatapan menyelidik. Percuma. Tak ada yang bisa kusimpulkan. Hanya
saja kamu terlihat sangat kosong dan berantakan. Entah kemana perginya
senyummu, entah kemana semua keceriaanmu.
Kamu menjatuhkan diri di depanku. Menunduk
muram, membiarkanku menilik apa yang sebenarnya terjadi. Sebulir air membasahi
punggung tanganku yang masih terpaut dengan tanganmu. Air matakah itu, Rez?
Kenapa?
“Aku takut.” Kalimatmu masih tetap melahirkan
tanda tanya bagiku. “Aku takut tidak bisa membuatnya bahagia.” Kembali air mata
turun di punggung tanganku.
Kenapa
kamu berani menangis di depanku? Kenapa kamu terkesan sama sekali tidak
menyembunyikan apapun dariku. Ya, kamu membuatku berharap lagi, Rez. Untuk sekaian
kalinya.
“Aku tahu kamu bisa melakukan yang
terbaik untuknya. Kamu tak perlu takut, Rez. Aku percaya kamu bisa, sama
seperti ibumu yang percaya kamu bisa melakukan apa yang terbaik dan menjadi
penjaganya.”
Berhasil! Kamu menyuguhkan senyummu
lagi. Senyum yang sempat tertutup oleh kegalauan hatimu.
Aku beranjak dan mengulurkan tangan
untuk mengajakmu. Aku hanya terus mengajak tanpa mengatakan akan kemana kakiku
mengantarmu kali ini. Jalanan yang sungguh tak terduga, banyak keajaiban yang
membuatmu tersenyum dan menunjukkannya padaku.
“Anak itu seperti aku dulu.” Kamu
membawa mataku memandang seorang anak yang sedang berusaha keras merebut bola
yang didribble oleh ayahnya. Sementara itu, seseorang yang tampak lebih besar
hanya memandang dari jauh sambil merangkul seorang ibu yang menyunggingkan
senyum.
“Kamu tahu, Rez, itu sangat indah. Aku
ingin merasakannya.” Aku mencoba menebak reaksimu melalui ekor mataku. “Aku ingin
melihatmu bergulat dengan anak kecil seperti itu, dan aku akan menjadi pemandu
sorak di pinggir lapangan.”
Anggukan ambigu, itulah yang berhasil
kutangkap saat kita bertemu pandang.
“Lihat!” katamu sambil menunjuk balon
udara berwarna orange bermotif. Mirip seperti bola basket raksasa yang membelah
angkasa. “Bisakah kita pergi dengan balon udara itu?”
Aku hanya mengangguk.
Tahukah
kamu, Rez, aku merasa seolah menjadi seorang ibu yang berhasil menuruti kemauan
anaknya. Aku puas bisa melihat senyum itu, bahkan sekarang aku menguasai
bagaimana membuatnya muncul di wajahmu kapanpun aku mau.
“Kamu mau memberiku kejutan?” katamu
sambil memandang panorama yang terbentang luas. Pegunungan yang seolah
menciptakan batas bumi.
Aku hanya mengangguk lagi, sengaja
membuatmu penasaran. “Kalau begitu, boleh aku menutup matamu? Sebentar saja.” Hanya
anggukan yang tercipta.
Perlahan aku menuntunnya, menyusuri
lorong yang tak pernah ia tahu seramnya. Menyusuri kenangan lama dan takkan
kubiarkan ia mengintipnya sedikitpun. Aku takut dia akan ingat, atau kembali.
“Kita sudah sampai?” tanyamu
penasaran. Aku hanya berdeham menjawab pertanyaanmu. “Dengan siapa kita disini?”
“Kamu bisa melihatnya sebentar lagi. Peganglah
ini dulu.” Tanyaku sambil memberikan bola basket ke tangannya.
“Rez, masih mau bermain dengan ayah?”
kalimat itu sedikit membuatmu kaget dan membuka mata. Aku tahu kamu akan
menatapku. Iya, itu untukmu, Rez.
“Baiklah, ayah, sekarang aku yakin
bisa mengalahkan ayah.”
Aku memandangimu dengan lelaki itu
dari ujung lapangan. Membiarkanmu tenggelam dalam permainan. Dengan mudah kamu
menciptakan gerakan-gerakan gesit bahkan pengecoh yang membuat ayahmu
kewalahan. Pertandingan berakhir dengan adegan pelukan, aku tak mampu lagi
menerjemahkan kegembiraanmu.
Kamu berlari menghampiriku sambil
mendribble bola, seolah aku adalah lawan yang akan menghalangi larimu. Sedikit
zig-zag, melangkah, kemudian melompat setinggu mungkin hingga bola masuk ke ring
dan kamu bisa menggelantung di bibir ring.
Turun dari sana tanpa sengaja kamu
sedikit kehilangan kendali hingga memelukku. Bukan pelukan kepada pacar yang
penuh hasrat, tapi mirip pelukan adik kakak atau pelukan yang ditujukan kepada
orang yang diinginkan hinggga akhir hayat. Perlahan dan menjaga.
“Sejak kemarin, kamu tak pernah
menjelaskan tempat apa yang kamu tunjukkan. Aku ingin kesana lagi, aku ingin
mengunjunginya untuk kedua bahkan keseratus kalinya lagi. Apa nama tempat itu
dan dimana kita?” Aku hanya tersenyum menanggapi pertanyaanmu.
Bukankah
saat ini hanya di tempat ini aku bisa begitu dekat bahkan merasa saling
memiliki denganmu. Tak tahukah kamu, Rez, kita tengah berada di mana? Kita sedang
berada di mimpiku, mimpi yang sempurna karena kehadiranmu. Karena inilah aku
bisa mewujudkan apa yang kamu inginkan, tanpa memikirkan mungkin atau tidak aku
untuk melakukannya dan membuatmu bahagia.
note: baca aja nggak usah mikir aneh-aneh. thanks
No comments:
Post a Comment