Pages

Wednesday, April 4, 2012

Rez


ilustration by google

Aku tahu itu siluetmu, Rez. Meski matahari terlalu sombong sampai cahayanya hanya menunjukkan seberkas bayangan hitam, tapi aku tahu itu kamu. Sesekali kamu tampak menunjukkan teknik dribble yang kamu kuasai. Ya, aku hafal semua tentang dirimu meski aku terpejam pun aku akan tahu.
Kamu duduk di sampingku, ikut memandang matahari yang hendak pulang ke peraduannya sambil sesekali memutar bola dengan jari telunjukmu. Botol yang kuserahkan tadi telah kamu habiskan isinya sekali tenggak. Tiba-tiba telunjukmu mengarah ke burung-burung yang seolah melintas di tengah badan matahari. Katamu mereka sungguh pemberani. Melawan sesuatu yang begitu mempesona dan besar agar sampai ke tujuan mereka.
Seandainya kamu tahu, Rez, aku sama seperti mereka. Aku juga berani seperti mereka, melawan semua kelebihanmu. Bahkan sekarang aku lebih berani dari mereka.
Kamu menarik tanganku, setengah menyeret badanku yang enggan beralih dari tempat dudukku. Tatapanmu menyiratkan bahwa kamu ingin aku beranjak dan mengikuti kemana pun kakimu ingin melangkah. Aku beranjak dan melangkah seiring langkah kakimu, menikmati genggaman dan senyum yang tak pernah sedetik pun hilang dari wajahmu. Kamu kembali menunjuk apapun yang kamu suka kemudian tersenyum puas dibuatnya. Aku senang melihatmu seperti ini.
“Lihatlah pelangi itu.” Aku menatap dan tersenyum padamu. “Ayo lihatlah pelangi itu, lakukan itu untukku.”
Iya, iya, Rez, aku melihatnya bahkan akulah yang tadi menciptakannya untukmu. Agar kamu bisa melepas lelah dengannya.
“Kamu tahu, pelangi itu indah, dia tak hanya satu warna dan disana kamu bisa meyelipkan mimpimu.” Kamu tersenyum lagi dan semakin membuatku nyaman olehnya.
Sebenarnya aku enggan menjawab, tapi kamu menunggu sebuah kalimat muncul dari mulutku. “Ya, dia memang indah.” kataku dengan sedikit desahan. “Tapi, tahukah kamu, Rez? Walaupun mereka mempunyai banyak warna dan kamu hanya satu warna, aku akan lebih memilihmu. Bagiku kamu lebih berwarna dan kamu nyata, sedangkan pelangi ia hanya pembiasan yang mudah hilang.”
Senyummu kembali menyumbangkan warna untuk hidupku, Rez. Kembali senyum itu lagi yang membuatku nyaman.

Aku senang bisa melihatmu latihan basket lagi. Seolah tak peduli terik matahari yang ingin menggerogoti semangatmu. Tapi kamu selalu menang bertarung dengannya, kamu terus mendribble bola meski ia terus berteriak inginkan kamu berhenti. Aku memandangi gerakanmu dari sini, sesekali kamu sedikit berlari dan dalam hitungan ketiga bola tepat mengenai kotak ring seraya melompat. Bola yang ingin menuruti arah grafitasi itu kamu lemparkan kepadaku.
“Mainlah, temani aku berlatih dan mencetak point.” Sungguh, itukah caramu membujuk? Kamu berhasil membuatku berasumsi bahwa hanya aku yang kamu inginkan untuk menemani setiap langkahmu.
“Aku akan mengajarimu.” Katamu sambil merebut bola dari pantulan yang setengah hati kulakukan. Lay up. Ya, kamu mengajarkan sesuatu yang belum pernah berhasil kulakukan. Belum sekalipun, dan sekarang aku seolah menjadi siswa perempuan terhebat yang bisa mencetak skor dengan teknik lay up.
Kamu mulai mendribble bola basketmu lagi seraya berucap “Seandainya aku memiliki lapangan basket indoor, kamu tak perlu kepanasan lagi saat menemaniku.” Aku hanya tersenyum menggapi tatapan penuh harapmu.
“Ah, aku juga ingin bisa kembali bermain basket dengan ayahku. Tapi itu mimpi belaka.”
Kamu menggenggam tanganku lagi, membuatku percaya dengan tatapanmu. Membuatku percaya bahwa kakimu akan membawa kita ke tempat yang indah.

“Lihat ke langit sana, ayo lihat.” Katamu sambil menggoyangkan tubuhku yang tertunduk, lelah.
“Iya, aku melihatnya, Rez. Aku suka.” Kulihat senyummu kembali mengembang dan tanpa disadari lenganmu sukses bersandar di pundakku.
“Mana yang lebih kamu suka, bulan atau bintang?” Pertanyaan itu menyambar bagai petir. Aku takut kalau pilihanku berbeda denganmu.
“Bintang.” Jawabku lirih. “Itu bintang yang ku pilih, aku selalu bisa menemukannya. Tak peduli musim yang berganti aku selalu bisa menemukannya.” Kataku sambil mengarahkan jariku ke lautan bintang di atas sana.
“Hmmm...aku juga menyukainya.” Sesaat diam tercipta. “Dia terang, dan selalu ada saat aku butuhkan. Dia seolah selalu berada di sampingku saat aku ingin menceritakan harimu.” Untuk pertama kalinya tanganmu mengenggam tanganku sangat erat dan tatapan tajammu seolah meruntuhkan seluruh pertahananku.
“Dia seperti kamu.” Simple. Hanya itu yang kamu ucapkan dan berhasil membuatku tersipu.

Aku menunggumu di lapangan basket, sengaja menghadap ke matahari. Ingin membuktikan indahnya cahaya matahari yang membias di belakang papan ring. Ya, penilaianmu tak pernah salah, Rez, indah memang.
Brukk! Entah kenapa kamu tiba-tiba membanting tasmu di sampingku hingga aku sempat terlonjak dibuatnya. Aku sempat memandangmu dengan tatapan menyelidik. Percuma. Tak ada yang bisa kusimpulkan. Hanya saja kamu terlihat sangat kosong dan berantakan. Entah kemana perginya senyummu, entah kemana semua keceriaanmu.
Kamu menjatuhkan diri di depanku. Menunduk muram, membiarkanku menilik apa yang sebenarnya terjadi. Sebulir air membasahi punggung tanganku yang masih terpaut dengan tanganmu. Air matakah itu, Rez? Kenapa?
“Aku takut.” Kalimatmu masih tetap melahirkan tanda tanya bagiku. “Aku takut tidak bisa membuatnya bahagia.” Kembali air mata turun di punggung tanganku.
Kenapa kamu berani menangis di depanku? Kenapa kamu terkesan sama sekali tidak menyembunyikan apapun dariku. Ya, kamu membuatku berharap lagi, Rez. Untuk sekaian kalinya.
“Aku tahu kamu bisa melakukan yang terbaik untuknya. Kamu tak perlu takut, Rez. Aku percaya kamu bisa, sama seperti ibumu yang percaya kamu bisa melakukan apa yang terbaik dan menjadi penjaganya.”
Berhasil! Kamu menyuguhkan senyummu lagi. Senyum yang sempat tertutup oleh kegalauan hatimu.
Aku beranjak dan mengulurkan tangan untuk mengajakmu. Aku hanya terus mengajak tanpa mengatakan akan kemana kakiku mengantarmu kali ini. Jalanan yang sungguh tak terduga, banyak keajaiban yang membuatmu tersenyum dan menunjukkannya padaku.
“Anak itu seperti aku dulu.” Kamu membawa mataku memandang seorang anak yang sedang berusaha keras merebut bola yang didribble oleh ayahnya. Sementara itu, seseorang yang tampak lebih besar hanya memandang dari jauh sambil merangkul seorang ibu yang menyunggingkan senyum.
“Kamu tahu, Rez, itu sangat indah. Aku ingin merasakannya.” Aku mencoba menebak reaksimu melalui ekor mataku. “Aku ingin melihatmu bergulat dengan anak kecil seperti itu, dan aku akan menjadi pemandu sorak di pinggir lapangan.”
Anggukan ambigu, itulah yang berhasil kutangkap saat kita bertemu pandang.
“Lihat!” katamu sambil menunjuk balon udara berwarna orange bermotif. Mirip seperti bola basket raksasa yang membelah angkasa. “Bisakah kita pergi dengan balon udara itu?”
Aku hanya mengangguk.
Tahukah kamu, Rez, aku merasa seolah menjadi seorang ibu yang berhasil menuruti kemauan anaknya. Aku puas bisa melihat senyum itu, bahkan sekarang aku menguasai bagaimana membuatnya muncul di wajahmu kapanpun aku mau.
“Kamu mau memberiku kejutan?” katamu sambil memandang panorama yang terbentang luas. Pegunungan yang seolah menciptakan batas bumi.
Aku hanya mengangguk lagi, sengaja membuatmu penasaran. “Kalau begitu, boleh aku menutup matamu? Sebentar saja.” Hanya anggukan yang tercipta.
Perlahan aku menuntunnya, menyusuri lorong yang tak pernah ia tahu seramnya. Menyusuri kenangan lama dan takkan kubiarkan ia mengintipnya sedikitpun. Aku takut dia akan ingat, atau kembali.
“Kita sudah sampai?” tanyamu penasaran. Aku hanya berdeham menjawab pertanyaanmu. “Dengan siapa kita disini?”
“Kamu bisa melihatnya sebentar lagi. Peganglah ini dulu.” Tanyaku sambil memberikan bola basket ke tangannya.
“Rez, masih mau bermain dengan ayah?” kalimat itu sedikit membuatmu kaget dan membuka mata. Aku tahu kamu akan menatapku. Iya, itu untukmu, Rez.
“Baiklah, ayah, sekarang aku yakin bisa mengalahkan ayah.”
Aku memandangimu dengan lelaki itu dari ujung lapangan. Membiarkanmu tenggelam dalam permainan. Dengan mudah kamu menciptakan gerakan-gerakan gesit bahkan pengecoh yang membuat ayahmu kewalahan. Pertandingan berakhir dengan adegan pelukan, aku tak mampu lagi menerjemahkan kegembiraanmu.
Kamu berlari menghampiriku sambil mendribble bola, seolah aku adalah lawan yang akan menghalangi larimu. Sedikit zig-zag, melangkah, kemudian melompat setinggu mungkin hingga bola masuk ke ring dan kamu bisa menggelantung di bibir ring.
Turun dari sana tanpa sengaja kamu sedikit kehilangan kendali hingga memelukku. Bukan pelukan kepada pacar yang penuh hasrat, tapi mirip pelukan adik kakak atau pelukan yang ditujukan kepada orang yang diinginkan hinggga akhir hayat. Perlahan dan menjaga.
“Sejak kemarin, kamu tak pernah menjelaskan tempat apa yang kamu tunjukkan. Aku ingin kesana lagi, aku ingin mengunjunginya untuk kedua bahkan keseratus kalinya lagi. Apa nama tempat itu dan dimana kita?” Aku hanya tersenyum menanggapi pertanyaanmu.
Bukankah saat ini hanya di tempat ini aku bisa begitu dekat bahkan merasa saling memiliki denganmu. Tak tahukah kamu, Rez, kita tengah berada di mana? Kita sedang berada di mimpiku, mimpi yang sempurna karena kehadiranmu. Karena inilah aku bisa mewujudkan apa yang kamu inginkan, tanpa memikirkan mungkin atau tidak aku untuk melakukannya dan membuatmu bahagia. 

note: baca aja nggak usah mikir aneh-aneh. thanks

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...