Pages

Thursday, May 31, 2012

it's enough


Senam jantung, gempa tremor, gempa bumi, lari-lari dikejar kucing galak, ah apalah itu. Satu yang jelas, rasanya aneh. Jantung berdebar-debar, suaranya aja udah mirip kendang yang ditabuh sembarangan. Nggak kepanasan tapi juga nggak kedinginan. Semuanya tiba-tiba terasa kaku. Bahkan sampai nulis curhatan ini pun sebenarnya aku masih nggak tahu kenapa nulis ini.
Oke, daripada penasaran cerita aja deh...

Wednesday, May 30, 2012

Ingatan Tentang Kalian

gambar dari sini

Dalam ranah yang dulu kalian sebut mimpi
Tentang banyak hal yang dulu kalian anggap tak mungkin
Aku sekarang memilikinya karena Tuhan memeluknya
Ku dekap ingatan tentang kalian agar bertambah bahagiaku
Ku ucap nama kalian satu per satu
Ku biarkan telunjuk menyusuri lekuk wajah kalian melalui sebuah album masa
Yang berani membekukan senyum kalian dalam bingkai wajah manis
Walaupun tak ada kata di bawah potret kalian
Tapi aku bisa mengingat kalian nyaris sempurna

Pada sepenggal waktu yang kita sebut hari

Masih Terlalu Jauh



Takkan ada yang mampu membantah keraguanku pada cinta yang terlalu muda ini. Mata yang baru menemukan dirimu di akhir pertemuan. Getar yang baru muncul ketika kita beranjak menemui perpisahan. Tangan yang baru saja menjabat, tapi itu yang terakhir. Hasrat untuk mencarimu tapi kita sudah berjalan masing-masing.
Menurutmu, pantaskah kalau aku menyalahkan waktu? Yang berjalan angkuh tanpa menunggu reaksi yang berarti dariku. Yang tidak mengizinkan aku mengenalmu lebih jauh lagi melalui serpihan hari kita.
Mungkin juga aku yang salah. Aku yang tak pernah datang padamu saat kamu baru disini. Aku yang percaya begitu saja bahwa kamu adalah orang yang dinginnya mengalahkan kutub. Aku yang begitu malu sehingga tak pernah meneriakkan namamu diantara ayunan pompom, meskipun aku ingin. Aku yang terlalu naif untuk sekedar mengakui bahwa aku penasaran.
Ingin menyerah saja. Tapi, kamu justru menarikku.
“Dia yang tadi duduk disini kan?” tanyamu pada seorang gadis populer di sampingmu. Dia mengangguk mantap padamu ketika kamu menunjuk tempat dudukku.
Percuma. Rencanaku berantakan ketika ekor mata ini tak sengaja melihatmu sedang menunjukku. Mencoba bernegosiasi dengan hati bahwa bukan aku yang kamu tunjuk.
Baru sedetik aku membayangkan bagaimana penasarannya kamu padaku. Tapi, belasan menit kemudian aku dihantui perbedaan yang berani membentang di antara kita. Apa ini berarti aku tak berjodoh denganmu? Atau justru ini yang akan menyatukan kita nanti?
Entahlah, semua masih terlalu rancu untuk sekedar dibicarakan. Terlalu kabur untuk kucari dimana benang merah di antara kita. Sekarang biar saja waktu yang bertindak. Biarkan dia memisahkan kita dan suatu hari nanti biarkan dia yang mempertemukan kita. Ketika kamu sudah tahu apa yang ingin kamu cari dariku. Saat aku sudah punya apa yang kamu mau.
Terlalu jauh untuk ku katakan, aku mencintaimu.

Thursday, May 24, 2012

Itu Aku yang Ingin Kamu Perhatikan


Itu aku
Yang melangkah tiap saat di dalam bingkai
Terkurung dalam beningnya kaca
Tanpa tahu kapan berhenti

Itu aku

Tuesday, May 22, 2012

Tak CUkup 'Jika'


Jika aku jadi kamu, aku akan dengarkan
Apa yang mereka katakan meski tak selalu pujian
Apa yang mereka teriakkan meski kadang amarah
Jika aku jadi kamu,

Saturday, May 19, 2012

Mungkin Rindu


Mungkin rindu
Saat aku tiba-tiba teringat akan senyummu
Tiba-tiba berhenti dan ingin kembali ke masa itu
Mungkin rindu
Saat aku memilih mengarahkan kaki menujumu
Tak peduli dimana kau sekarang berada
Mungkin rindu

Friday, May 18, 2012

.....


Jika sempat kamu bertanya, kenapa aku masih sering mengingatmu? Aku sendiri belum bisa memastikan apa penyebabnya. Mungkin karena aku hanya kadang merindukan atau memang selalu merindukanmu.
Aku ini kadang seperti nenek-nenek yang pikunnya sudah kelewat batas. Masih saja merasa kamu disini, disisiku, padahal kamu sudah pergi. Padahal aku sendiri yang

Monday, May 14, 2012

Kenangan


Kita pernah menghabiskan ribuan detik di tempat ini. Berbagi cerita tentang potongan puzzle kehidupan. Tak peduli bagian yang mana. Tak peduli bagaimana menyenangkannya tak peduli seberapa menyedihkannya sebuah kisah untuk dibagi. Aku atau kamu tetap melebarkan kuping agar bisa menjadi pendengar yang baik. Menyiapkan sekotak tisu untuk menahan air mata. Dan menguatkan bahu jika nanti ada yang ingin bersandar.
Pernah juga menghabiskan hari hanya dengan saling pandang. Memuji satu sama lain dan saling menertawakan kekonyolan.
Kita pernah

Friday, May 11, 2012

Sekedar Minta


Aku ini, memang bukan teman baikmu disini, di dunia dan lingkunganmu yang baru. Aku ini juga bukan penggemarmu yang setiap saat rela meluangkan waktu untuk memantau keadaanmu lewat jejaring sosial. Bahkan, aku juga bukan kekasihmu yang setiap saat membisikkan kata cinta meski kamu selalu dan terlalu dingin. Sudah, aku sedang tak ingin membahas tentang gadis yang kamu buat malang itu.
Lebih tepatnya aku tidak tahu kenapa aku menulis surat ini untukmu. Mungkin ini surat pertama, kedua, atau berapapun itu aku tidak tahu. Aku hanya sedang ingin menulis sesuatu untukmu. Tapi yang kutahu aku menulis ini untuk sebuah alasan. Untuk seorang gadis cilik yang sangat dekat dengan kehidupanmu dan selalu ingin kupeluk dari sini.
Kamu tahu, aku merindukannya meski aku belum pernah bertemu dengannya. Aku menyayanginya meski aku bukan kakaknya.

Wednesday, May 9, 2012

Sekarang Aku


Harus kuakui, aku bahagia saat mendengar suaramu yang kecil itu. Meskipun kadang lebih sering mendengar nada-nada sumbang dan sedih tapi aku mulai merindukannya. Setiap mendengarnya aku seolah kamu bawa berkelana ke hidupmu yang tidak mudah. Tapi aku senang dan aku mulai berharap bisa berada di sampingmu untuk melaluinya.
Aku suka saat melihat senyum melengkung di bibirmu sambil menunggu cerita apalagi yang kamu bawa hari ini. Lesung pipi yang terukir disana menunjukkan bagaimana tulusnya kamu merakit senyum itu di depanku.
Satu lagi, aku suka matamu yang selalu berbinar saat aku memberimu sebuah cerita tentang sisi hidupku. Bahkan jika ceritanya begitu sedihpun kamu masih menghadirkan sinar itu untukku. Katamu, cerita sedih tidak boleh disambut dengan raut sedih, tapi harus dengan raut ceria yang menguatkan. Ya, menguatkan, itu yang perlahan mulai kutunggu darimu.
Satu lagi aku suka caramu memandangku. Tatapanmu itu bisa membuatku merasa seolah aku adalah pangeran yang pantas mendapatkan segalanya. Tatapanmu itu membuatku selalu berlaku dengan diriku yang sebenarnya. Menjadi begitu lembut dan melupakan apa yang biasanya membuatku disegani banyak orang.
Satu lagi, ah terlalu banyak yang kusuka darimu. Bahkan aku tak bisa menyebutkannya satu per satu. Bukan, aku bukan lupa aku hanya merasa benar-benar tidak mampu untuk menyebutkannya. Satu yang pasti, kamu yang terbaik dan aku mulai berharap semoga ini selamanya.
“Jangan memandangku seperti itu.” Katamu sambil memainkan sendok pada gelas es krim di hadapanmu.
“Kenapa?” Jujur saja, kamu ini unik, biasanya kaummu selalu ingin aku pandang setiap detik.
“Aku hanya tidak ingin kamu cepat bosan. Lihatlah sewajarnya saja dan simpan dalam ingatanmu.” Kemudian senyummu melengkung lagi di sana.
Tak tahukah kamu, selekat dan sesering apapun aku memandangmu sebenarnya aku takkan bosan. Aku akan merindukan ini saat kamu pergi nanti. Entah kapan.
“Kenapa kamu masih disini sementara aku sudah pergi ke banyak tempat dan menemukan banyak hal?” Aku kehilangan senyummu saat ini, apa aku menanyakan sesuatu yang salah? Berkali-kali aku merutuk diriku sendiri karena berani membuat senyummu hilang.
“Sebenarnya ini tidak seperti yang kamu pikirkan. Aku sudah mencoba untuk pergi, aku juga sudah menemukan hal-hal lain di dunia ini. Tapi entah kenapa aku selalu kembali ke sini setelah berkelana.” Jawabanmu itu membuatku merasa menjadi manusia paling jahat di dunia ini.
Jadi, selama ini kamu sebenarnya masih menunggu walaupun kamu mencoba untuk pergi? Seandainya aku tahu aku takkan pernah pergi sejak sakit itu ada. Sejak kamu berhasil mengobati luka yang dulu itu. Kenapa kamu tidak memaksaku tinggal saat itu? atau karena kamu ingin melihatku bahagia dengan yang lain walaupun kamu sebenarnya menahan sakit?
“Seharusnya biar aku saja yang merasa sakit. Seharusnya biar saja aku mencari jalan untuk bangkit dan temukan jalan pulang lagi. Sendiri.”
“Jadi itu yang kamu inginkan? Baiklah, terserah kamu saja.” Aku melihatmu bangkit dari tempatmu duduk. Meninggalkan es krim tiramisu yang baru kamu habiskan setengahnya.
Jangan pergi, duduklah di sampingku. Berhenti, kumohon berhenti dan kembalilah kesini, duduk bersamaku dan perlahan memapahku untuk melangkah lagi. Ku mohon.
Sekarang giliranku yang merasakan apa yang pernah kamu rasakan. Biar aku saja yang merasakan ini. Sakit yang berlipat ganda. Ditinggalkannya juga kamu yang pernah membawa obat untukku. Seandainya kamu mau tahu, aku belum bisa bangkit apalagi melangkah menemukan jalan pulang.
Tapi biar saja aku yang menunggumu sekarang. Entah selama apapun itu, sama sepertimu yang menungguku tanpa kenal waktu. Toh katamu kamu akan kembali lagi ke sini walau sejauh apapun kamu melangkah. Biar saja aku yang merintih kesakitan disini walaupun banyak yang datang dan mencoba mengobatinya.
Jika aku bertemu denganmu lagi, aku ingin bertanya, inikah yang kamu rasakan dulu? Sekarang aku tahu tak pernah ada yang mudah saat menunggu. Tapi kenapa dulu kamu bertahan? Biarlah aku sekarang yang merasakan ini. Biar aku sekarang merasakan bagaimana kamu dulu harus meluangkan waktumu.
Aku berharap, ketika nanti kamu ingin kembali pilihlah tempat ini lagi. Di sisiku. Mungkin aku ini terlalu egois, mengharapkanmu kembali ke sini sementara dulu entah kamu berharap aku datang lagi atau tidak.

Friday, May 4, 2012

Menemuinya, Itu Mimpiku


Aku ini, memang bukan teman baikmu disini, di dunia dan lingkunganmu yang baru. Aku ini juga bukan penggemarmu yang setiap saat rela meluangkan waktu untuk memantau keadaanmu lewat jejaring sosial. Bahkan, aku juga bukan kekasihmu yang setiap saat membisikkan kata cinta meski kamu selalu dan terlalu dingin. Sudah, aku sedang tak ingin membahas tentang gadis yang kamu buat malang itu.
Lebih tepatnya aku tidak tahu kenapa aku menulis surat ini untukmu. Mungkin ini surat pertama, kedua, atau berapapun itu aku tidak tahu. Aku hanya sedang ingin menulis sesuatu untukmu. Tapi yang kutahu aku menulis ini untuk sebuah alasan. Untuk seorang gadis cilik yang sangat dekat dengan kehidupanmu dan selalu ingin kupeluk dari sini.
Kamu tahu, aku merindukannya meski aku belum pernah bertemu dengannya. Aku menyayanginya meski aku bukan kakaknya. Dan aku ingin memeluknya meski kamu tahu kan, ada jarak panjang yang memisahkan. Sulit untukku membayangkan dia ada di hadapanku.
Kapan kamu pulang menemuinya? Ajaklah aku kapanpun itu. Aku janji, aku akan mengikuti apa katamu. Yang penting aku bisa menemuinya. Melihat senyumnya yang dari hati. Biarkan aku melihat keceriaan yang selalu ia inginkan selama ini saat jauh darimu. Izinkan aku memeluknya saat ia kesepian ketika ia merindukanmu dan kamu tak bisa hadir. Aku yang akan hadir. Bukan menggantikan, tapi hanya menenangkan dan membuatnya kembali tersenyum.
Mungkin ketika membaca surat ini, kamu berpikir aku sedang mendekatimu dengan melumpuhkan adikmu dulu. Iya? Kalau itu pertanyaanmu, aku menjawab tidak. Aku hanya menginginkannya, bukan kamu. Jujur saja, melihatnya memilikimu itu membuatku merasa nyaman. Setidaknya ia masih memiliki orang sepertimu yang sekalipun sangat jauh tapi kalian masih mungkin saling berkunjung dan kembali berpelukan.
Agar kamu percaya, biarkan aku bercerita sedikit tentang masa laluku. Aku dulu seperti dia, gadis cilikmu itu. memiliki orang sepertimu. Orang yang tangguh dan bisa diandalkan. Dia dulu juga melindungiku, sama seperti yang selalu kamu lakukan ke gadis cilikmu itu.
Tapi sayang, dia pergi untuk mengejar cita-citanya. Dia memilih tinggal dekat dengan tempatnya mencari ilmu. Sama kan sepertimu, yang rela meninggalkannya karena ingin memperjuangkan mimpi. Aku tahu, kamu akan kembali padanya sejauh apapun kamu melangkah. Karena itulah manusia, suatu saat akan kembali ke tempat semula entah alasan apa yang membawanya.
Aku sering merasa aku dan gadis cilikmu itu sama sekarang. Sama-sama sedang menunggu orang yang sangat disayang. Orang yang akan melakukan apapun asal senang. Orang yang akan menjaga meski kadang harus terluka. Untuk itulah, aku ingin mendengar cerita darinya. Aku ingin bersama dengannya, menunggu. Hanya itu.

Note: untuk seseorang di seberang sana. Aku harap kamu membaca ini dan suatu saat kamu membawa gadis itu padaku. Agar aku tak lagi merindukannya dan bisa melangkah bersamanya.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...