Harus kuakui, aku bahagia saat
mendengar suaramu yang kecil itu. Meskipun kadang lebih sering mendengar
nada-nada sumbang dan sedih tapi aku mulai merindukannya. Setiap mendengarnya
aku seolah kamu bawa berkelana ke hidupmu yang tidak mudah. Tapi aku senang dan
aku mulai berharap bisa berada di sampingmu untuk melaluinya.
Aku suka saat melihat senyum
melengkung di bibirmu sambil menunggu cerita apalagi yang kamu bawa hari ini.
Lesung pipi yang terukir disana menunjukkan bagaimana tulusnya kamu merakit senyum
itu di depanku.
Satu lagi, aku suka matamu yang selalu
berbinar saat aku memberimu sebuah cerita tentang sisi hidupku. Bahkan jika
ceritanya begitu sedihpun kamu masih menghadirkan sinar itu untukku. Katamu,
cerita sedih tidak boleh disambut dengan raut sedih, tapi harus dengan raut
ceria yang menguatkan. Ya, menguatkan, itu yang perlahan mulai kutunggu darimu.
Satu lagi aku suka caramu memandangku.
Tatapanmu itu bisa membuatku merasa seolah aku adalah pangeran yang pantas
mendapatkan segalanya. Tatapanmu itu membuatku selalu berlaku dengan diriku
yang sebenarnya. Menjadi begitu lembut dan melupakan apa yang biasanya
membuatku disegani banyak orang.
Satu lagi, ah terlalu banyak yang
kusuka darimu. Bahkan aku tak bisa menyebutkannya satu per satu. Bukan, aku
bukan lupa aku hanya merasa benar-benar tidak mampu untuk menyebutkannya. Satu
yang pasti, kamu yang terbaik dan aku mulai berharap semoga ini selamanya.
“Jangan memandangku seperti itu.”
Katamu sambil memainkan sendok pada gelas es krim di hadapanmu.
“Kenapa?” Jujur saja, kamu ini unik,
biasanya kaummu selalu ingin aku pandang setiap detik.
“Aku hanya tidak ingin kamu cepat
bosan. Lihatlah sewajarnya saja dan simpan dalam ingatanmu.” Kemudian senyummu
melengkung lagi di sana.
Tak tahukah kamu, selekat dan sesering
apapun aku memandangmu sebenarnya aku takkan bosan. Aku akan merindukan ini
saat kamu pergi nanti. Entah kapan.
“Kenapa kamu masih disini sementara
aku sudah pergi ke banyak tempat dan menemukan banyak hal?” Aku kehilangan
senyummu saat ini, apa aku menanyakan sesuatu yang salah? Berkali-kali aku
merutuk diriku sendiri karena berani membuat senyummu hilang.
“Sebenarnya ini tidak seperti yang
kamu pikirkan. Aku sudah mencoba untuk pergi, aku juga sudah menemukan hal-hal
lain di dunia ini. Tapi entah kenapa aku selalu kembali ke sini setelah
berkelana.” Jawabanmu itu membuatku merasa menjadi manusia paling jahat di
dunia ini.
Jadi, selama ini kamu sebenarnya masih
menunggu walaupun kamu mencoba untuk pergi? Seandainya aku tahu aku takkan pernah
pergi sejak sakit itu ada. Sejak kamu berhasil mengobati luka yang dulu itu.
Kenapa kamu tidak memaksaku tinggal saat itu? atau karena kamu ingin melihatku
bahagia dengan yang lain walaupun kamu sebenarnya menahan sakit?
“Seharusnya biar aku saja yang merasa
sakit. Seharusnya biar saja aku mencari jalan untuk bangkit dan temukan jalan
pulang lagi. Sendiri.”
“Jadi itu yang kamu inginkan? Baiklah,
terserah kamu saja.” Aku melihatmu bangkit dari tempatmu duduk. Meninggalkan es
krim tiramisu yang baru kamu habiskan setengahnya.
Jangan
pergi, duduklah di sampingku. Berhenti, kumohon berhenti dan kembalilah kesini,
duduk bersamaku dan perlahan memapahku untuk melangkah lagi. Ku mohon.
Sekarang giliranku yang merasakan apa
yang pernah kamu rasakan. Biar aku saja yang merasakan ini. Sakit yang berlipat
ganda. Ditinggalkannya juga kamu yang pernah membawa obat untukku. Seandainya
kamu mau tahu, aku belum bisa bangkit apalagi melangkah menemukan jalan pulang.
Tapi biar saja aku yang menunggumu
sekarang. Entah selama apapun itu, sama sepertimu yang menungguku tanpa kenal
waktu. Toh katamu kamu akan kembali lagi ke sini walau sejauh apapun kamu
melangkah. Biar saja aku yang merintih kesakitan disini walaupun banyak yang
datang dan mencoba mengobatinya.
Jika aku bertemu denganmu lagi, aku
ingin bertanya, inikah yang kamu rasakan dulu? Sekarang aku tahu tak pernah ada
yang mudah saat menunggu. Tapi kenapa dulu kamu bertahan? Biarlah aku sekarang
yang merasakan ini. Biar aku sekarang merasakan bagaimana kamu dulu harus
meluangkan waktumu.
Aku berharap, ketika nanti kamu ingin
kembali pilihlah tempat ini lagi. Di sisiku. Mungkin aku ini terlalu egois,
mengharapkanmu kembali ke sini sementara dulu entah kamu berharap aku datang
lagi atau tidak.