Pages

Monday, May 14, 2012

Kenangan


Kita pernah menghabiskan ribuan detik di tempat ini. Berbagi cerita tentang potongan puzzle kehidupan. Tak peduli bagian yang mana. Tak peduli bagaimana menyenangkannya tak peduli seberapa menyedihkannya sebuah kisah untuk dibagi. Aku atau kamu tetap melebarkan kuping agar bisa menjadi pendengar yang baik. Menyiapkan sekotak tisu untuk menahan air mata. Dan menguatkan bahu jika nanti ada yang ingin bersandar.
Pernah juga menghabiskan hari hanya dengan saling pandang. Memuji satu sama lain dan saling menertawakan kekonyolan.
Kita pernah saling bersandar. Ketika hati hancur karena seseorang atau karena sesuatu yang tak terwujud. Saling menguatkan kemudian menggandeng dan melangkah lagi.
Aku pernah memapahmu saat tiba-tiba kerikil tajam menusuk kakimu. Menghambat langkahmu mewujudkan sisi-sisi mimpimu. Membuatmu berhenti dan sedikit limbung untuk melangkah lagi. Saat itu aku datang. Meminjamkan bahuku untuk kamu jadikan pegangan. Menyiapkan lenganku agar kamu bisa menggamitnya dan kembali melangkah.
Kamu pernah datang saat benang-benang mimpiku menjadi tak karuan. Saat semua warna menjadi satu dan aku tak tahu harus bagaimana mengurainya. Mungkin karena aku terlalu bersemangat dan terlalu berani menggunakan banyak benang dalam waktu bersamaan. Katamu, seseorang tak boleh takut bermimpi. Tak masalah jika harus menggunakan jutaan warna untuk merajutnya.
Aku merasa harus membuat rajutan mimpi baru dari awal. Tapi katamu semua akan baik-baik saja. Kemudian kamu mulai mengajariku mengurainya satu per satu. Lalu perlahan mengajariku bagaimana agar tak ada warna yang mengganggu, yang ada adalah warna yang mendukung.
Kita pernah saling menyandar. Ditemani segelas cola float favoritmu dan es krim tiramisu kesukaanku. Melepaskan lelah di sana setelah berkelana mewujudkan mimpi. Menceritakan apa yang kita temui di persimpangan jalan.
Aku suka bagian ini, menulis surat. Aku menulis surat untuk diriku sendiri dan kamu untuk dirimu sendiri kemudian menukarkannya. Membiarkan setiap kalimat terukir dengan penuh semangat. Membiarkan banyak bahasa menggebu disana.
Memang tak selalu cerah. Pernah melewati banyak cuaca bersamamu. Pernah merasakan seberapa gelapnya mendung di antara kita. Seberapa mengerikannya petir yang menyambar apa yang telah kita bangun kemudian membuatnya tak terlihat lagi. Meskipun belum runtuh.
Pernah juga membiarkan hujan turun di antara kita. Membiarkannya begitu deras hingga udara dingin menyergap. Membekukan jarak antara kita dan juga bibir sampai kita hanya mampu saling pandang tanpa satu kata pun. Membiarkan waktu berlalu tanpa apapun. Tanpa sapa bahkan canda.
Tapi kita pernah bisa menaklukkannya. Memutuskan untuk berbagi lagi. Untuk kembali bersama lagi. Kemudian melukis pelangi dan membangun istana lagi.
Juga pernah mengatakan pada bintang di atas sana. Kita akan bersama selamanya. Saling belajar memahami.
Sadar tidak, semuanya tadi pernah bukan selalu. Dan pernah itu berarti sekarang tidak lagi. Tinggal kenangan. Terselip di antara ribuan kenangan lain. Tertulis dalam cetakan lama, dalam kertas-kertas lusuh yang semakin menua. Dalam buku yang bagian-bagiannya hendak pergi meninggalkan induk.
Foto kita, terpajang pada dinding tua. Memang sudah tak terlalu bagus tapi masih tercetak senyum disana. Bagaimanapun keadaannya, aku bahagia karena pernah melakukan hal-hal indah bersamamu.

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...