Kita pernah
menghabiskan ribuan detik di tempat ini. Berbagi cerita tentang potongan puzzle
kehidupan. Tak peduli bagian yang mana. Tak peduli bagaimana menyenangkannya
tak peduli seberapa menyedihkannya sebuah kisah untuk dibagi. Aku atau kamu
tetap melebarkan kuping agar bisa menjadi pendengar yang baik. Menyiapkan sekotak
tisu untuk menahan air mata. Dan menguatkan bahu jika nanti ada yang ingin
bersandar.
Pernah juga
menghabiskan hari hanya dengan saling pandang. Memuji satu sama lain dan saling
menertawakan kekonyolan.
Kita pernah
saling bersandar. Ketika hati hancur karena seseorang atau karena sesuatu yang
tak terwujud. Saling menguatkan kemudian menggandeng dan melangkah lagi.
Aku pernah
memapahmu saat tiba-tiba kerikil tajam menusuk kakimu. Menghambat langkahmu
mewujudkan sisi-sisi mimpimu. Membuatmu berhenti dan sedikit limbung untuk
melangkah lagi. Saat itu aku datang. Meminjamkan bahuku untuk kamu jadikan
pegangan. Menyiapkan lenganku agar kamu bisa menggamitnya dan kembali
melangkah.
Kamu pernah
datang saat benang-benang mimpiku menjadi tak karuan. Saat semua warna menjadi
satu dan aku tak tahu harus bagaimana mengurainya. Mungkin karena aku terlalu
bersemangat dan terlalu berani menggunakan banyak benang dalam waktu bersamaan.
Katamu, seseorang tak boleh takut bermimpi. Tak masalah jika harus menggunakan
jutaan warna untuk merajutnya.
Aku merasa
harus membuat rajutan mimpi baru dari awal. Tapi katamu semua akan baik-baik
saja. Kemudian kamu mulai mengajariku mengurainya satu per satu. Lalu perlahan
mengajariku bagaimana agar tak ada warna yang mengganggu, yang ada adalah warna
yang mendukung.
Kita pernah
saling menyandar. Ditemani segelas cola float favoritmu dan es krim tiramisu
kesukaanku. Melepaskan lelah di sana setelah berkelana mewujudkan mimpi. Menceritakan
apa yang kita temui di persimpangan jalan.
Aku suka
bagian ini, menulis surat. Aku menulis surat untuk diriku sendiri dan kamu
untuk dirimu sendiri kemudian menukarkannya. Membiarkan setiap kalimat terukir
dengan penuh semangat. Membiarkan banyak bahasa menggebu disana.
Memang tak
selalu cerah. Pernah melewati banyak cuaca bersamamu. Pernah merasakan seberapa
gelapnya mendung di antara kita. Seberapa mengerikannya petir yang menyambar
apa yang telah kita bangun kemudian membuatnya tak terlihat lagi. Meskipun belum
runtuh.
Pernah juga
membiarkan hujan turun di antara kita. Membiarkannya begitu deras hingga udara
dingin menyergap. Membekukan jarak antara kita dan juga bibir sampai kita hanya
mampu saling pandang tanpa satu kata pun. Membiarkan waktu berlalu tanpa
apapun. Tanpa sapa bahkan canda.
Tapi kita
pernah bisa menaklukkannya. Memutuskan untuk berbagi lagi. Untuk kembali
bersama lagi. Kemudian melukis pelangi dan membangun istana lagi.
Juga pernah
mengatakan pada bintang di atas sana. Kita akan bersama selamanya. Saling belajar
memahami.
Sadar tidak,
semuanya tadi pernah bukan selalu. Dan
pernah itu berarti sekarang tidak
lagi. Tinggal kenangan. Terselip di antara ribuan kenangan lain. Tertulis dalam
cetakan lama, dalam kertas-kertas lusuh yang semakin menua. Dalam buku yang
bagian-bagiannya hendak pergi meninggalkan induk.
Foto kita,
terpajang pada dinding tua. Memang sudah tak terlalu bagus tapi masih tercetak
senyum disana. Bagaimanapun keadaannya, aku bahagia karena pernah melakukan
hal-hal indah bersamamu.
No comments:
Post a Comment