Jika sempat
kamu bertanya, kenapa aku masih sering mengingatmu? Aku sendiri belum bisa
memastikan apa penyebabnya. Mungkin karena aku hanya kadang merindukan atau
memang selalu merindukanmu.
Aku ini kadang
seperti nenek-nenek yang pikunnya sudah kelewat batas. Masih saja merasa kamu disini,
disisiku, padahal kamu sudah pergi. Padahal aku sendiri yang pernah mengantar
kepergianmu. Aku sendiri yang pernah menunggumu sampai hilang di persimpangan. Aku
sendiri yang memilih untuk tidak mengejar langkahmu yang semakin jauh.
Dalam sepinya
duniaku. Kadang aku mengeja namamu. Lirih. Namun, hatiku tetap bergetar
karenanya. Tak selesai sampai di situ. Bayangmu kemudian hadir meramaikan
benakku. Bayangmu itu membawaku kembali ke lembaran lama. Indah, tapi aku juga
harus rela merasakan perihnya (lagi) saat sadar itu hanya kenangan. Kenangan.
Kadang, aku
seperti orang yang lupa jalan pulang. Tak tahu persimpangan mana yang akan
membuatku kembali padamu. Begitu banyak dan aku harus memilihnya sendiri. Aku
harus berusaha lagi agar bisa menemukanmu. Menyusuri jalanan yang kadang sudah
kulupakan. Bahkan aku juga tak tahu masih bisa bertemu atau tidak.
Menemukanmu tak
pernah mudah.
No comments:
Post a Comment