Senam jantung, gempa tremor, gempa
bumi, lari-lari dikejar kucing galak, ah apalah itu. Satu yang jelas, rasanya
aneh. Jantung berdebar-debar, suaranya aja udah mirip kendang yang ditabuh
sembarangan. Nggak kepanasan tapi juga nggak kedinginan. Semuanya tiba-tiba
terasa kaku. Bahkan sampai nulis curhatan ini pun sebenarnya aku masih nggak
tahu kenapa nulis ini.
Semalem, aku online di facebook. Pertama
buka sih ada sekitar dua puluh empat teman yang online, tapi aku lagi nggak
minat chating. Jadi, abaikan saja. Sampai tiba-tiba, jeenng jeenngg jeengg Dia
online..... Antara seneng, canggung, ragu, bingung, jadi satu. Sampai lima
menit berlalu aku cuma mondar-mandir buka profil ->> beranda ->>
chat sampai bosen.
Akhirnya Dia offline. Senengnya minta
ampun. Otot yang sempet tegang kembali longgar, pikiran yang sempet beku
mencair lagi, dan aku langsung terbang bebas. Bagus banget kan ya udah bisa
lepas dari bayang-bayang kecanggungan. Baru aja menikmati kesenangan, eh ternyata
Dia online lagi. Dipikir-pikir males juga maen facebook kalau cuma buat liat
dia online tapi nggak berani ngapa-ngapain.
Coba deh chat dia duluan. Itung-itung
ngilangin rasa penasaran, gimana rasanya chating sama orang yang sering bikin adek kelas insomnia tapi nggak pernah sadar itu. Eh dia bukannya nggak
pernah sadar, tapi dia cuma terlalu datar.
Basa-basi kelas VIP banget isinya. Akunya
cuma berani tanya “mau kuliah dimana?” sampai akhirnya dia blak-blakan tentang
apa yang mau dia ambil. Abis itu??? Nggak ada kelanjutannya. Ibarat sinetron,
sekali tayang langsung tamat. Ceritanya bubar dengan akhir yang menggantung dan
nggak ada pihak yang bisa melanjutkan cerita termasuk dua pemeran utamanya.
But, it’s enough for me. Paling nggak
aku udah pernah bener-bener ngrasain seberapa datarnya dia. Mungkin itu karena
dia nggak kenal aku atau justru karena dia sebenarnya penasaran tapi juga
bingung mau ngapain? Entahlah.
No comments:
Post a Comment