Cinta tak boleh dinyatakan terlalu cepat, agar nanti kau tak menyesal. Tapi jangan pernah memendamnya agar kau tak membuang waktu.
Kamu,
mulai membuatku penasaran sekaligus galau di hari pertama kita bertemu. Tatapanmu
yang tajam itu seolah menegaskan ada sesuatu yang bisa membuat siapa saja
datang kemudian meramaikan hatimu. Menyembuhkan luka dalam batinmu karena
seseorang di masa lalumu.
Kamu
ingat senyummu tadi pagi? Ya senyum yang kau suguhkan bersamaan dengan sebuah
lagu tadi. Memang tanpa petikan gitar, tapi aku tahu bagaimana indahnya. Mungkin
yang ingin kamu katakan sekarang, senyum dan semua yang kamu berikan hari ini
hanya bagian dari tugas.
Itu
salahmu. Kamu sendiri yang sok nggak mau mengerti bagaimana kamu membius
ratusan pasang mata di hadapanmu. Mungkin seharusnya kamu belajar bagaimana
caranya mengerti bahwa setiap pasang mata di luar sana bukan hanya menunggu
tapi lebih dari itu.
Jika
ada jabatan yang paling pantas kusandang sekarang, mungkin aku hanya pantas
menyandang jabatan sebagai penggemarmu. Meskipun itu kukira juga terlalu dini. Mungkin
saja nanti aku hanya akan jadi korban harapan palsu yang kuciptakan sendiri.
Jika
kita dipertemukan lagi, aku ingin lupa bagaimana caranya mengagumi senyummu. Aku
ingin kehilangan ingatan tentang suaramu yang tegas. Dan semoga aku sudah bisa
melupakan apapun yang indah darimu.
No comments:
Post a Comment