Aku masih
ingat bagaimana aku dengan tidak sadar telah membuat kalian memunculkan wajah
kecewa, bahkan mungkin aku tak akan pernah melupakannya. Bahkan detik itu aku
sama sekali tak mampu melihatnya. Harapan kalian yang membuncah begitu besarnya
pada hasil yang seharusnya kucapai melalui suatu jalan yang keren itu ternyata
justru membuat kalian terhempas begitu saja.
Maaf
karena aku tak bisa mewujudkan mimpi kecil kalian. Maaf untuk rasa kecewa yang
harus kalian tanggung beberapa saat. Maaf atas segala kekhilafanku yang mungkin
ikut menjadi akar kenapa aku tak bisa mewujudkan mimpi kita.
Mungkin
sempat terbesit dalam benak kalian bahwa aku terlalu datar untuk menghadapi
kenyataan pahit ini. Satu hal yang perlu kalian tahu, jauh dari itu sebenarnya
aku adalah orang yang paling siap dan tidak siap. Kenapa aku terlalu sulit
untuk menatap kalian adalah karena aku terlalu lama untuk meredam kekesalan
sekaligus kecewa yang bahkan aku sendiri tak tahu harus melampiaskannya pada siapa.
Bidadariku,
Bunda, aku bersyukur karena pada akhirnya kamu bisa menerima apa yang telah
digariskan untukku. Bersyukur karena sekarang kamu pun mengerti, sama seperti
aku, bahwa ini hanyalah sedikit jalan yang berbelok agar aku nantinya bisa
lebih bersyukur.
Ayah,
memang malaikatku, terimakasih karena selalu ada di sisiku. Untuk ukuran
pertemuan yang singkat, disanding olehmu dalam keadaan yang sulit kemarin
adalah anugrah. Bahkan mungkin ini satu alasan kenapa aku tak pernah merasa
jauh darimu walaupun kadang ribuan kilometer memisahkan kita.
Kali ini
aku tak hanya berjanji pada diriku sendiri, tapi juga kalian sebagai saksinya,
bahwa aku akan berhasil kali ini. Tentu saja dengan kerendahan hati juga
memohon pada Yang Maha Kuasa agar cita-cita luhurku tercapai.
*BIG HUG*
No comments:
Post a Comment