Pages

Wednesday, February 23, 2011

Nino Hates Club (3)


Nino Hates Club
Suara tepuk tangan membahana ketika Putri sendirian di kelas. Rasti, bersama anggota Nino hates club-nya melangkah mendekati Putri dengan tatapan marah. Putri yang sebenarnya memiliki firasat buruk berusaha mengalihkan perhatiannya dengan mati-matian menatap novel yang masih fresh. Dari tatapan mereka kepada Putri, terlihat jelas mereka tak mempunyai niat baik.
“Heh pengkhianat!! Hal aneh apa yang udah kamu lakuin sampe Nino keliatan terpuruk kemarin?” tuduhan pertama dilakukan oleh Rasti. Gadis yang biasanya selalu haus akan kesengsaraan Nino kali ini justru tampak tak terima dengan apa yang dilakukan Putri.
“Bukannya itu bagus? Itu kan yang kalian inginkan?” Putri mencoba menghadapi Rasti dengan suara datar.
“Bagus? Apanya yang bagus, Put?” Lala kini beraksi dengan suara menjanya. Terdengar berusaha membuat suara memelas, meski tak bisa mengalihkan perhatian Putri dari novelnya. “Kita emang pengen Nino ngarasain apa yang pernah kita rasain, tapi bukan dengan cara yang kamu lakuin.” Lala duduk di samping kursi yang diduduki Putri masih dengan santai.
Hampir semua yang ada di hadapan Putri sekarang hanya mereka yang ingin menyalahkannya. Aneh memang, karena dari awal mereka selalu menginginkan Nino terpuruk, dan sekarang, setelah apa yang terjadi mereka justru menyalahkan orang yang melakukan misi mereka.
“Heh pengecut! Lo masih bisa ngomong ngnggak sih?” Irma, membentak Putri dan juga melayangkan tinjunya di meja Putri, membuat siapapun yang ada di ruangan itu kaget. Gadis tomboy itu sudah mencapai titik kemarahan yang tak bisa dielakkan lagi.
“Ok!! Kalau kalian bener-bener pengen tahu, nanti sore datang ke rumahku. Kalau perlu, kalian boleh ajak semua anak club kalian!!” suara Putri yang membentak membuat anggota Nino hates club yang mendatanginya terperangah. Tak ingin mendapat tuduhan macam-macam lagi, Putri menenteng tas, beranjak dari tempat duduknya dan meninggalkan mereka yang masih tak percaya dengan sikap Putri.
~*~*~
Putri sedang menikmati drama Korea saat ia mendengar bel rumahnya berbunyi. Tahu siapa yang datang, Putri langsung bergegas membukakan pintu, membawa serta kotak yang pernah ditunjukkannya pada Nino.
“Hai, ayo masuk.” Putri menyapa tamu yang sengaja diundangnya untuk meluruskan masalah.
“Makasih, Put.” Secara bergantian, perwakilan Nino hates club memasuki rumah Putri.
“Mau minum apa?”
“Ngnggak usah deh, Put. Nanti aja, kita kesini intinya cuma pengen tahu apa yang buat Nino sampai seterpuruk kemarin.” Rasti mengemukakan maksud kedatangan mereka, yang dianggap Putri terlalu simpel.
“Ok. Semua ada di sini.” Putri menunjukkan kotak yang kini telah berada di hadapan anggota Nino hates club. Sementara itu, mereka justru menatap satu sama lain, berusaha memahami apa yang dimaksud Putri.
“Putri sayang, maksudnya apa nih?” Lala kembali dengan suara manja dan mimik wajah anak kecil.
“Buka aja. La.” Perintah Putri yang kemudian segera dituruti oleh Lala. Mereka yang ada di kanan kiri lala melongok ingin tahu apa yang ada di dalam kotak. Dan seketika, mereka serentak tampak semakin bingung dengan apa yang dimaksud Putri.
Putri menunggu sampai akhirnya mereka berusaha bertanya apa maksud Putri dan mereka terlihat siap mendengarkan. Raut wajah ngeri dan sedih mewarnai wajah cantik mereka. Tanpa jeda yang berarti, mereka hanya manggut-manggut ketika begitu banyak cerita disajikan. Seolah mengerti apa yang telah terjadi, beberapa dari mereka mulai mengambil tisu dari tas dan menggunakannya untuk mengusap air mata yang membasahi pipi mereka. Penjelasan yang terdengar sangat berarti untuk mereka itu menghabiskan banyak waktu sore mereka.
~*~*~
Hujan deras mengguyur kompleks perumahan Putri. Udara dingin terasa menusuk tulang. Berada dalam ruangan yang rapatpun masih menyisakan rasa tak nyaman, terbayang dalam benak Putri apa yang akan terjadi jika ia keluar rumah. Tapi tak ada gunanya berdiam di atas tempat tidur dan menutup diri dengan selimut, ia harus menemui Nino sebelum semua berakhir.
Kilat terlihat ngeri saat membelah langit malam, begitupun dengan petir yang saling menyambar memecah keheningan malam bersama suara hujan. Putri bergegas membuka pintu garasi rumahnya sebelum ada yang mencegahnya pergi. Pintu yang berdecit tak menjadi masalah, suara hujan dan gelegar petir akan menyamarkannya. Setelah menutup kembali pintu garasi, Putri berjalan pelan ke mobil. Sejenak setelah Putri berada di dalam mobilnya, gerbang otomatis di rumahnya terbuka. Dengan kecepatan rendah, Putri menerjang hujan yang masih deras.
~*~*~
Meski samar, beberapa kali Nino mendengar suara bel. Setelah merasa terganggu, barulah Nino membukakan pintu.
“Putri!” Nino terperangah dengan kehadiran Putri yang tak diduganya. Sementara itu, Putri tersenyum ramah sambil mengucapkan selamat malam kepada tuan rumah. Dia memang salah, bertamu ketika hujan deras mengguyur, dan sebagian besar orang biasanya memilih untuk tidur.
“Ada apa?” Nino memperhatikan Putri yang dibalut sweter merah, namun masih tampak kedinginan. “Kenapa kamu kesini?” pertanyaan menyusul setelah Putri tak menanggapi pertanyaan pertamanya. Dalam hati, Putri berharap Nino cepat-cepat mengajaknya masuk, memberi secangkir teh untuk menghangatkan tubuhnya yang basah.
“Aku boleh masuk ngnggak?” sambil menatap Nino penuh harap, ia melipat tangannya di depan dada, serasa ingin memeluk dirinya sendiri. Tanpa basa-basi Nino memberikan ruang agar Putri bisa melewati pintu.
“Kamu mau ngomong apa?” Nino meraih tangan Putri dan menggenggamnya erat. Berusaha membuat Putri merasa nyaman, mengurangi rasa dingin yang menusuk tulangnya setelah lama menunggu di luar.
“Ada satu permintaan yang aku harap kamu bisa penuhi, sebelum...........”
“Apapun, Put, apapun. Apa yang jadi keinginan kamu, sampai kamu datang kesini?” Nino menyela kalimat inti yang sebenarnya justru belum diutarakan Putri.
“Kamu minta maaf ke semua orang yang pernah kamu sakiti. Ngnggak peduli siapapun mereka, terutama mereka yang kamu sakiti setelah kepergian Regina.”
“Ngnggak bisa, Put. Aku belum siap untuk semua itu.” Nino melepaskan genggaman tangannya, mencampakkan Putri yang masih duduk terdiam. Meninggalkannya ke dekat jendela. “Semua itu terlalu dini untuk dilakuin sekarang, disaat aku malu dengan apa yang telah terjadi.”
“Malu? Kamu bilang malu? Lalu apa yang mereka rasakan, No. Mereka lebih malu daripada kamu!” Putri berjalan mendekati Nino yang berdiri di dekat jendela, menatap sisa-sisa hujan. “Mereka lebih malu, harus menerima kenyataan kalau ternyata cinta mereka bertepuk sebelah tangan. Dan parahnya, mereka harus menaggung itu di hadapan banyak orang!!” Suara gadis manis itu kini mulai meninggi, tak mampu lagi melihat Nino hanya diam memikirkan kapan waktu yang tepat untuk mewujudkan keinginannya.
Tanpa menunggu jawaban Nino lagi, Putri berbalik meninggalkannya dan berjalan menerjang hujan menuju mobilnya. Ia tinggal menunggu tindakan yang entah akan dilakukan Nino atau tidak. Karena Nino hanya memandangnya dari jendela, menatapnya yang basah kuyup sebelum masuk mobil dan Nino menutup tirai.
~*~*~
Istirahat pertama saat sekolah mulai gempar. Bukan karena ada pemilihan ketua OSIS baru, atau sesuatu yang buruk menimpa murid. Mereka gempar karena Nino rela minta maaf pada semua orang yang pernah disakitinya.
“Ras, please, maafin gue.” Nino terlihat memohon pada Rasti, orang terakhir dari Nino hates club yang dimintai maaf. Beberapa kali Nino mengatakan kalimat yang sama hingga membuat Rasti semakin tak ingin membahasnya.
“Setelah sekian lama lo sakitin gue, lo sakitin kita semua cuma gara-gara sakit hati sama mantan lo yang udah meninggal.” Rasti sejenak menghentikan protesnya. Menatap prihatin teman-temannya yang sudah bersedia menerima permintaan maaf Nino. “Lo liat sekarang, mereka semua terlalu baik untuk lo sakiti.” Rasti menunjuk segerombol orang dari Nino hates club yang hanya mampu menunduk setelah Rasti melakukannya.
Setelah sekian lama Nino merelakan diri untuk mendengarkan omelan Rasti. Akhirnya ia menemui titik terang. Rasti menerima permintaan maaf yang didambakannya sejak jam istirahat dimulai. Putri tengah berjalan santai menuju perpus dengan beberapa novel dalam dekapannya. Teriakan dan tepuk tangan yang terdengar keras berhasil menyita perhatiannya. Putri memutuskan untuk mencari celah di antara kerumunan itu, dan ia sempat terperangah ketika melihat Nino menjabat tangan Rasti yang tampak bersahabat.
~*~*~
“Hai, Tan.” Nino menyapa Tania ramah, saat melihatnya membaca buku di tempat yang juga biasa dipakai Putri. “Tumben sendirian aja?” Nino mulai penasaran setelah sapaannya hanya ditanggapi dingin.
“Ya iyalah, No. Mau sama siapa lagi?” Tania menutup buku tebal yang dibacanya dengan kesal. Nino hanya menatapnya heran. “Aku bakal jadi orang yang dibilang cupu lagi. Jadi orang cuma punya temen ketika banyak tugas. Yang cuma punya temen ketika guru-guru mencari siapa pelaku pelanggaran tatib. Dan......” suara Tania terputus, ia menutup muka dengan kedua tangannya.
“Tunggu tunggu, maksud kamu apa sih, Tan?” Nino berusaha mencari informasi, meski pertanyaannya diabaikan. “Dimana Putri?” sambil tengok kanan kiri,
“Dia pergi, No.” Suara Tania yang terhenti tetap ditunggu oleh Nino untuk menyampaikan informasi untuknya. “Dia pindah ke Kalimantan.” Tania kembali menghentikan informasinya, membuat Nino tak sabar lagi.
“Kalimantan? Kenapa?” Nino yang tak sabar lagi mengguncang pundak Tania, dan membuatnya marah.
“Jangan tanya aku!” Tania yang memaksakan diri untuk marah justru terlihat semakin terpuruk di hadapan Nino, karena matanya memerah, tak kuasa lagi menahan air mata. “Dia take off jam dua belas, siang ini.” sambil mengusap air mata yang membasahi pipinya, Tania menahan suaranya agar tetap terdengar jelas.
Tanpa pikir panjang, Nino menarik Tania dari tempat duduknya. Meski ia sempat menerima penolakan tegas dari Tania yang belum usai mengusap air matanya. Meski beberapa orang yang ada di perpus saat itu berteriak karena mereka merasa terganggu oleh teriakan Tania saat meolak ajakan Nino.
~*~*~
Nino mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju bandara. Tinggal setengah jam lagi sebelum pesawat yang ditunggangi Putri akan take off. Ketegangan tampak jelas di wajah Tania maupun Nino. Hanya suara merdu Pasha yang mampu memecah kesunyian, meski itu juga tak bisa membuat mereka sedikit rileks. Jalanan menuju bandara yang selalu macet semakin membuat suasana mencekam.
Sejenak setelah Nino berhasil memarkir mobilnya, dengan diikuti Tania, mereka bergegas keluar dari mobil kemudian berlari dengan sedikit harapan masih bisa menemui Putri. Waktu yang hanya beberapa menit itu harus bisa digunakan Nino dengan baik untuk menyatakan perasaannya. Sementara Tania harus memberikan novel pertamanya yang telah diusahakannya untuk diterbitkan secara mandiri sebagai kenang-kenangan.
Ardi, yang selama ini setia sebagai bodyguard Putri tampak murung ketika Putri berpamitan. Begitu pula dengan mbak Sumi, pembantu satu-satunya yang telah mengabdi selama 10 tahun, sampai menumpahkan air mata. Dengan sabar, Putri berusaha menenangkan mbak Sumi. Ia juga berpesan untuk menjaga rumah dan sebagainya.
Putri mulai melangkahkan kakinya ketika mendengar suara yang diharapkannya berteriak memanggil. Sejenak ia berhenti, namun kemudian hatinya tiba-tiba meyakini bahwa itu hanya halusinasi. Tanpa pikir panjang, ia melanjutkan langkahnya sambil menyeret koper hitamnya ketika sebuah tangan menariknya erat. Menahannya untuk tidak melangkah. Dalam hitungan detik, Putri menoleh ke arah orang yang menahnnya.
Nino masih memegang tangannya, sementara Putri memandangi raut wajah Nino yang tampak memelas. Putri juga sempat mengarahkan pandangannya kepada Tania yang menatapnya sambil memperlihatkan novelnya, berusaha tersenyum meski air mata membasahi pipinya. Sejenak kemudian, Tania melangkah mendekati Putri yang menatap seakan menyuruhnya untuk mengucapkan salam perpisahan. Pipi Tania semakin basah oleh air mata ketika ia menyerahkan novel amatirnya kepada Putri.
“Kamu kenapa harus pergi secepat ini?”
“Udah, Tan. Jangan tanya hal yang sama terus, udah seratus kali kamu tanya ini.” pernyataan Putri membuat Tania menghapus air matanya. Setelah berhasil melepaskan genggaman Nino, Putri mulai memeluk Tania sambil menatap Nino yang tampak terpukul dan hanya menundukkan kepalanya.
“Hei, aku masih selalu ada di sini kan?” Putri meletakkan telapak tangannya tepat di dada Nino. Membuat Nino menatapnya bingung. “OK, mungkin aku yang terlalu PD sampai-sampai berharap kamu serius sama aku. Sekarang aku tahu kalau semua itu palsu.” Putri membalikkan badannya lalu berkata “Jaga diri kalian baik-baik.” Putri mulai menyeret kopernya dan menjauh dari Tania yang masih terpaku dan Nino yang tak mengusahakan apa-apa.
“Bodoh kamu, No. Kamu bahkan ngnggak mau mengusahakan cintamu sendiri, padahal dia berusaha untuk buat kamu percaya lagi bahwa cinta itu masih ada.”
Nino berlari mengejar Putri yang melangkah enggan. Tanpa panggilan apapun, Nino menarik tangan kiri Putri yang bebas dari koper dan sedikit memeluknya. “Ngnggak pernah ada yang palsu. Dan ngnggak akan pernah ada.” Nino melepaskan pelukannya. “Kamu akan tetap ada di sini.” Nino menepuk dadanya.
Putri hanya tersenyum menanggapinya, lidahnya kelu untuk sekedar mengucap kata terima kasih. “Setidaknya biarkan aku membawa cintamu bersamaku.” Anggukan dari Nino membuat langkah Putri semakin ringan untuk meninggalkannya. Di belakang mereka, banyak orang yang nantinya akan berada dalam satu pesawat dengam Putri menyaksikan semuanya. Bagaikan menonton sebuah drama percintaan, mereka pun bertepuk tangan untuk para tokoh utama. Terlihat pula seorang nenek yang sampai menitihkan air matanya yang kemudian dihapus dengan lembut oleh suaminya.
@@@

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...