Nino Hates Club
Pagi itu lumayan cerah untuk sekedar bersepeda. Cukuplah untuk menghilangkan penat selama seminggu. Dengan sepeda gunung yang konon sengaja dipinjam Putri dari sopirnya, ia tampak sangat menikmati kegiatan dadakan yang diadakan Nino. Puluhan lelucon dilontarkan Nino selama dalam perjalanan keluar dari kompleks perumahan. Semua memang sengaja dilakukan Nino untuk mendapatkan apa yang dirindukannya.
Mereka mulai keluar dari kompleks ketika lelucon-lelucon itu mulai tak berefek. Kering oleh angin yang menerpa wajah mereka. Tak ada lagi tawa membahana dari mereka berdua, yang membuat siapapun yang kebetulan melihat akan tersenyum. Putri dan Nino sama-sama terbenam dalam pikiran mereka masing-masing. Putri mulai penasaran dengan apa yang dilakukan Nino. Seolah dejavu, setiap meter jalan yang ia lewati seakan membawanya pada suatu tempat yang sebelumnya sudah pernah ia kunjungi. Dan parahnya, beberapa ruas jalan memang benar-benar membuktikannya.
Pikiran Putri mulai melayang pada kejadian satu tahun lalu. Kejadian yang justru membuatnya ingin kembali ke kota ini dengan segala sisa rasa harap akan kembalinya sahabat kesayangan, meski semua itu mustahil terjadi. Satu tahun lalu, Regina, sahabat kecilnya meninggal dunia karena kanker otak yang dideritanya. Sayang, tak pernah ada orang yang tahu tentang itu, bahkan Regina sendiri baru mengetahui hal itu sebulan sebelum ajal menjemputnya. Putri yang biasanya selalu tahu apapun yang terjadi pada Regina, saat itu juga tak bisa berkata apa-apa ketika mama Regina menatapnya dengan tatapan marah. Keyakinan mama Regina tentang Putri terlalu besar, meski nyatanya Putri memang tak tahu apa-apa.
Putri terus mengayuh sepedanya, berusaha tetap terlihat bahagia meski pikirannya melayang pada sesuatu yang pernah membuatnya tak keluar kamar selama semingu. Terlalu berat untuk melepas sahabat yang selalu ada di sampingnya. Terlalu berat untuk melepas semua kenangan indah di antara mereka. Kenangan menyedihkan itu semakin tergambar jelas seiring bertambahnya jarak yang telah ia tempuh.
Masih tergambar jelas saat itu, Putri datang bersama kedua orang tuanya, tepat saat acara pemakaman dimulai. Suasana haru dan kehilangan terasa kental di tempat itu. Semua orang berpakaian hitam dan mereka hanya mampu menunduk pasrah melihat detik-detik pemakaman Regina. Putri memang sedih, dan yakin semua orang yang menyayanginya pasti juga sedih, tapi setidaknya ia masih bisa menahan diri untuk tidak terlalu membebani kepergian sahabatnya. Ia berusaha tenang, meski nyatanya ingatan tentang ia yang dibentak habis-habisan oleh mama Regina menghasilkan efek yang lain. Seakan kepergian Regina adalah salah Putri yang tidak mau terbuka dengan orangtua Regina.
Masih teringat dalam benaknya, saat itu ia berusaha mencari seseorang yang belum pernah ditemuinya. Seseorang yang selalu dibangnggakan Regina. Seseorang yang pernah dijanjikan akan dikenalkan. Namun harapan itu takkan pernah nyata kecuali Putri berusaha mencarinya sendiri.
“Udah sampai, Put.” Nino berusaha memegang tangan Putri yang mengendalikan stangnya dengan pandangan kosong. Berusaha menyadarkan lamunannya. Sementara itu, Putri yang memang tak konsen, tanpa sengaja melepaskan stangnya, dan tanpa dapat dikendalikan lagi, sepeda pinjaman yang dipakai Putri oleng dan membuat Putri jatuh menimpa sepeda dan Nino yang mengendarai disampinganya.
~*~*~
“Kita sampai di tujuan akhir kita.” Kini, Nino dan Putri berdiri di belakang sebuah batu nisan. Yang membuat Putri hanya terpaku, menundukkan kepala sambil memikirkan apa yang sebenarnya ingin dilakukan Nino, dan menyebutkan ini tujuan akhir mereka.
“Aku belum mau mati, No. Masih banyak yang mau aku kejar.” Putri berusaha memberontak tak jelas. Sementara itu, Nino hanya mampu menatapnya heran, seolah apa yang dimaksudnya benar-benar tak terfikir oleh Putri. “Kamu nggak mau ngajak aku dikubur dalam satu liang, kan? Aku maunya dimakamkan di makam keluarga aja.” Pernyataan aneh dari Putri semakin membuat Nino tertawa hingga Putri menonjok perutnya.
“Ok ok...sini deh.” Nino menggandeng tangan Putri, meski gandengan itu sempat mendapat penolakan tegas. Mengajak Putri berdiri di bagian samping nisan yang terawat itu agar Putri bisa melihat nama dari jasad yang dikubur di dalamnya. Namun sayang, usahanya tak berhasil. Terlalu banyak dedaunan kering yang menutup bagian itu meski gundukan tanah itu terawat.
“Ini, makam mantanku. Mantan yang sampai sekarang masih aku cintai, dan mungkin rasa ini nggak pernah berkurang sampai kapanpun.” Nino tak berani melakukan kontak mata dengan Putri, ia hanya menunduk sambil mengambil beberapa daun kering yang mengotori gundukan tanah. Menghilangkan daun pada kepala batu nisan dengan sekali usap, namun cukup bersih, hingga nama di yang terukir di sana dapat dengan mudah dibaca. Regina Putri Yoga, itulah nama yang tertera di sana, nama yang membuat Putri kaget. Namun membuatnya sedikit bersyukur. Dengan bertemunya ia dengan bukti bahwa Nino adalah mantan Regina, maka ia mengangagap misinya akan segera usai. Namun ia tetap menunggu apa yang ingin dikatakan Nino.
“Namanya bagus ya.” Putri memuji sambil mengambil daun yang baru saja jatuh menimpa nama Regina. “Kenapa dia meninggal?” pertanyaan yang dilontarkan Putri justru membuat Nino semakin enggan menatapnya.
Nino hanya menggeleng karena ia memang tak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Meski begitu, ia berusaha menjelaskan apa yang diketahuinya. Beberapa kali ia hanya sempat mendengar berita dari teman-temannya bahwa cinta pertamanya itu meninggal karena kecelakaan bersama pacar berunya. Namun kabar itu justru membuat Nino merasa dikhianati dan tak semakin tak mampu menerima kenyataan. Bertolak dari cerita Nino justru membuat Putri terperangah, ia sama sekali tak pernah mendengar kabar sama dengan Nino.
“Sabar ya, aku turut berduka.” Hanya anggukan untuk menjawab apa yang dikatakan Putri.
“Semua ini yang buat aku bersikap semena-mena sama pacar, atau mantan-mantanku.” Nino mulai menatap Putri setelah sekian lama hanya memandang rumput hijau di atas gundukan tanah. “Semua ini yang akan jelasin ke kamu, semua alasan yang selama ini kamu cari.” Putri hanya mengerutkan keningnya, heran. Namun sikap itu justru membuat Nino menceritakan apa yang dialaminya.
Perlakuan Nino yang bisa dibilang kurang ajar kepada mantan-mantannya hanya karena ia ingin melampiaskan rasa sakit hatinya. Patah hati yang dialaminya memang bukan patah hati biasa. Orang lain mungkin bisa saja membalas orang yang membuat hati mereka sakit dengan yang lebih menyakitkan. Namun tidak untuk Nino, ia takkan pernah bisa melakukan itu. Meski sebenarnya, apa yang dilakukan Nino salah namun Nino selalu berdiri di atas keyakinannya, bahwa dengan terus menyakiti siapapun orang yang terlalu menyayanginya maka akan menghapuskan rasa sakit hatinya. Meski Nino juga harus mennggakui bahwa apa yang dilakukan hanya akan berefek sebentar, mennggakui bahwa semua itu terlalu tidak adil. Namun, keadaannya yang tak pernah mendapatkan kembali orang seperti cinta pertamanya, Regina, membuat Nino mengorbankan perasaan orang lain.
Putri menyimak dengan seksama apa yang dikatakan Nino. Berusaha menjadi pendengar terbaik meski sebenarnya ia juga memikirkan langkah untuk membuat Nino sadar apa yang dilakukannya salah. Terbesit keinginan untuk menjelaskan pada Nino apa yang sebenarnya telah terjadi. Sebagai bagian akhir dari misinya, mau tak mau Putri harus melakukannya. Pikirannya tak hanya terpusat pada Nino dan misi pribadinya, kadang kenangan indahnya bersama Regina membuatnya tak mendengar apa yang dikatakan Nino.
~*~*~
“Gue denger, lo kemarin pergi berdua sama Nino ya?” kata Rasti mulai mengintrogasi Putri yang sedang asyik membaca buku. “Ngapain aja?” merasa diabaikan, dengan lancang, Rasti mengambil buku yang tengah dibaca Putri dengan paksa.
“Nggak ngapa-ngapain kok, Ras. Cuma diajakin sepedaan aja.” Jawab Putri sesingkat mungkin. Berharap jawaban yang dikatakannya tak memancing pertanyaan yang lebih spesifik lagi.
Keheningan sempat menyelimuti mereka berdua. Seakan merasa bosan, Rasti berdecak dan membuat Putri mendonnggak penasaran.
“Lo beneran, nggak diajak ke suatu tempat sama Nino? Gue sih sebenernya nggak percaya, karena biasanya Nino nggak mungkin ngajak pergi tanpa tujuan yang jelas.” Rasti berusaha memancing Putri untuk bercerita, namun semua itu tak berhasil membuat Putri membuka mulut.
“E.. beneran kok, Ras.” Jawab Putri dengan suara yang diusahakan bisa meyakinkan Rasti. “Aku ke kelas duluan ya, Ras.” Sebelum Rasti sempat menjawab pamitnya, Putri bergegas meninggalkan tempat duduknya sambil membawa buku yang terganggu saat Rasti menarik dari tangannya.
Dengan pandangan yang masih tak percaya, Rasti memandang langkah Putri meninggalkan perpus. Putri terlihat sangat tergesa-gesa, bahkan ia juga nampak seperti berjalan setelah melakukan kesalahan yang sangat fatal.
~*~*~
Putri duduk santai menikmati pemandangan sore yang nampak begitu indah dari salah satu kursi taman yang ada di dekat rumahnya. Taman yang berada di tengah komplek itu memang selalu dikunjungi penghuni yang ingin melepas lelah setelah seharian bekerja. Tak hanya itu, mereka yang disibukkan dengan urusan belajar juga meluangkan waktu ke tempat ini. Bukan tanpa alasan, Putri duduk di sana untuk menunggu Nino datang. Siang tadi selepas pulang sekolah, Putri mengirimkan SMS kepada Nino yang berisi pesan untuk menemuinya di taman.
Nino melambatkan mobilnya, dan berhenti di pinggiran taman. Sesaaat ia tampak sibuk tengok kanan kiri mencari sosok yang mau tak mau dirindukannya. Tak lama kemudian, ia melihat siluet seorang gadis berambut panjang yang tampak asyik memandang langit sore, meski cahaya matahari cukup menyilaukan. Hanya siluet dan itu sudah cukup membuat Nino yakin akan keberadaan Putri.
“He, Put.” Sapa Nino singkat, namun efektif membuat Putri memandangnya dengan senyum tulus. “Sorry lama, aku tadi latihan basket dulu.” Putri hanya mengangguk karena Nino memang masih tampak lengkap dengan seragam kebanggaan dan sepatu basket kesayangannya.
“Duduk, No.” Putri mengangkat tasnya agar Nino bisa duduk di sebelahnya. “Nih, minum dulu. Tadinya sih nggak sengaja, ya cuma buat jaga-jaga aja.” Sebotol air mineral diberikan Putri kepada Nino. Spontan Nino yang memang belum minum selepas latihan basket yang menyita seluruh tenaga dan pikirannya, langsung meminum setengah botol itu sekali teguk.
“Thanks ya buat minumannya. Anyway, ada apa kamu nyuruh aku dateng ke sini?” sementara Nino menunggu jawaban, Putri sibuk mengeluarkan barang yang telah ia siapkan.
“Aku nyuruh kamu ke sini untuk liat semua ini. Dan aku berharap semua ini bisa kasih penjelasan ke kamu. Mungkin bisa ngerubah sikap buruk kamu.” Putri menyerahkan sebuah kotak berwarna ungu bermotif balok pada Nino. Dengan ragu Nino menerima kotak itu dan membukanya.
Nino yang kaget saat itu sangat terlihat dari wajahnya. Ia mengangkat sebuah foto dari dalam kotak tersebut. Memperhatikannya dengan seksama, ia masih merasa perlu banyak penjelasan agar ia mengerti apa yang dimaksud Putri. Nino berkali-kali menatap Putri, namun percuma, Putri hanya menunduk pasrah.
“Apa ini, Put?” tanya Nino penasaran. Beberapa kali Nino mengulang pertanyaannya, namun tetap, Putri hanya diam seribu bahasa meski masih duduk di sampingnya. “Put, ayolah, sebenarnya apa maksud semua ini. Aku nggak ngerti, Put. Semua ini terlalu sulit untuk dipahami.”
“Kenapa ada foto kamu bersama Regina? Kenapa semua foto-fotoku bersama Regina ada disini? Dan kenapa barang yang berharga bagi Regina bisa sampai ke tangan kamu? Kenapa, Put? Kenapa??!” suara Nino mulai meninggi, tak sabar ingin mendengar jawaban Putri. Meski Putri masih terpaku sambil menundukkan wajahnya. “Oh...atau jangan-jangan, kamu mau jadi orang yang bisa gantiin Regina? Sampai kamu rela melakukan semua ini? Bikin seolah-olah foto kamu bersamanya ini nyata. Iya??” pertanyaan bertubi-tubi terus menghujani Putri meski ia hanya menunduk.
“Kenapa? Kamu udah mulai jatuh cinta sama aku? Sampai kamu tega nglakuin semua ini ke aku setelah apa yang aku kasih ke kamu. Berusaha memanfaatkan kerapuhanku?!!” Nino tak bisa lagi mengotrol emosinya. Sementara itu, Putri berdiri juga tak bisa mengontrol emosi.
“Kamu salah!! Salah, No!!”
“Salah? Aku salah??” Nino yang tak percaya berusaha berdiri di depan Putri dan mencari celah untuk bisa menatap mata Putri. Tapi sia-sia Putri kembali menunduk.
“Kamu salah. Dari awal kamu salah!!” Putri terdengar berusaha membuat suaranya semakin meninggi karena marah. Namun yang terjadi, suaranya semakin bergetar dan terdengar berat.
“Kenapa, Put?” Nino mengangkat wajah Putri, memandang tepat ke dalam mata gadis itu. Semakin lama Nino memandangnya, mata Putri semakin merah dan akhirnya ia tak mampu lagi menahan air matanya. Seolah ia tak punya penopang lagi, tubuhnya rubuh dada bidang Nino. Sementara Nino yang tak siap, hanya membiarkan Putri menangis sejadi-jadinya.
Setelah lima belas menit, tangis Putri pun reda. Namun keadaannya begitu mengkhawatirkan. Ia tampak sangat hancur, dan dia juga terlihat sangat berantakan. Semua itu cukup membuat Nino tak kuasa menanyakan apa yang pernah tejadi.
~*~*~
“Regina itu sahabatku sejak kecil.” Putri memulai penjelasannya yang sempat tertunda. “Dia dulu sering cerita tentang kamu, dan aku sempat iri dengan apa yang dia ceritakan.” Putri mencoba memancing perhatian Nino.
“Iri?”
“Ya. Cerita cinta kalian terlalu manis, dan parahnya waktu itu aku sedang patah hati, sampai aku merasa bahwa cinta adalah oksigen.” Nino tersenyum sejenak. “Baginya, kamu seakan makhluk paling sempurna di dunia ini, sampai dia bilang dia nggak mungkin bisa berpaling dari kamu.” Nino kembali membentuk senyum tulus di bibirnya.
“Trus, gimana dengan barang-barang ini?” Nino membuka kotak yang berada di pangkuannya.
“Setelah Regina mengetahui penyakitnya, dia memberikan barang-barang itu. Saat itu aku juga nggak tahu apa alasan dia. Regina cuma bilang, aku harus jaga barang-barang itu, merawatnya seperti yang pernah dilakukannya sampai aku bertemu dengan tuannya.” Nino hanya mengangguk mengerti, pikirannya menampilkan kenangan-kenangan masa lalu yang indah bersama Regina.
“Kamu bilang dia sayang sama aku, cinta sama aku, dia nggak akan berpaling dariku, tapi kenapa dia nglakuin ini semua?” keheningan sejenak membuat Putri merasa tak nyaman. “Kenapa semua orang bilang dia punya pacar baru?” Kemarahan mulai menjalari tubuh Nino, ia beranjak dari tempat duduknya, memandang ke halaman rumah Putri yang tampak asri.
“Dia nggak pernah punya pacar, No. Nggak sejak dia memilih ninggalin kamu di kota ini. Dia hanya nggak kuat lihat kamu sedih dan nggak rela dia pergi.”
“Tentang kecelakaan itu?”
“Sama sekali nggak ada kecelakaan. Dia sakit, dan selama sebulan itu dia menghabiskan hari-harinya di rumah sakit.” Putri tampak menjelaskan sementara Nino masih tampak bingung dengan semua penjelasan yang diterimanya. “Kanker, yang dia derita tanpa pernah disadarinya, mendekatkannya pada maut.”
~*~*~
No comments:
Post a Comment