Pages

Wednesday, February 23, 2011

Nino Hates Club (1)


Nino Hates Club
Putri, seorang siswi baru di salah satu SMA terkenal di Yogya. Pindahan dari Singapura yang ngotot melanjutkan sekolah di kota pelajar itu dengan alasan tak jelas.
“Makasih ya, mas.” Kata Putri saat ia hendak keluar dari New Honda Jazz hitam yang ditungganginya.
“Sama-sama, non. Mau dijemput jam berapa?”
“Itu sih gampang, mas. Nanti Putri tinggal telpon mas Ardi.” Ardi, sopir yang masih muda, yang sedang menunggu cita-citanya sebagai reporter tercapai itu adalah andalan dari keluarga Bakhdim sekaligus bodyguard untuk Putri, anak semata wayang mereka. Mengangguk takzim mendengar jawaban Putri.
Putri mulai memasuki gerbang sekolah barunya, sejenak ia berhenti, terpesona akan keindahan sekolah barunya. Dengan bangunan Belanda yang masih sangat kental melekat di bangunan baru membuat Putri semakin jatuh cinta pada sekolah barunya. Sekolah yang sangat terawat, yang mampu mempertahankan bangunan lamanya di samping bangunan modern yang tak kalah megah nan mempesona. 07.15 bel berdentang menyambut kedatangan pertama Putri. Ia yang sempat terpesona dengan bangunan sekolah akhirnya harus rela berlarian menuju kelas barunya. Seolah tak ingin mendatangkan anggapan buruk, seorang siswi baru berani telat.
Brukk!! Putri yang terlalu bersemangat, tanpa sengaja menabrak seorang cowok yang sedang membaca beberapa lembar kertas sambil berjalan di koridor dengan arah berlawanan.  Cowok berwajah indo dengan postur tubuh proposional itu membantu Putri berdiri, menampakkan senyumnya yang manis nan tulus, bahkan minta maaf. Padahal jelas bahwa Putri yang salah. Namun sebelum Putri sempat berkata apa-apa, cowok itu berlalu meninggalkan Putri yang tak tahu dimana kelas barunya.
~*~*~
Bel berdentang tepat pukul dua siang, pelajaran hari ini berhasil dilalui Putri dengan baik. Beberapa cewek di depan kelas sana sedang asyik ngobrol dengan menduduki beberapa bangku kelas. Entah apa yang mereka bicarakan, sebagai murid baru meski Putri memahami bahasa Indonesia dengan baik, namun ia merasa bukan urusannya untuk mengetahui urusan orang lain. Dia memang selalu seperti ini, menganggap orang lain akan datang padanya jika memang membutuhkan, hingga ia tak ingin repot-repot bertanya.
“Kita harus mempertahankan eksistensi Nino hates club ini. Kita harus sama-sama mencari tahu siapa korban Nino selanjutnya, dan mengajaknya bergabung dengan club ini. Nggak peduli siapa mereka. Nggak peduli apa mereka udah disakiti atau bahkan sedang menikmati manisan palsu Nino.” Tiga cewek  tampak manggut-manggut penuh arti ketika Putri lewat.
Di gerbang sekolah, Putri bertemu dengan Tania. Teman baru Putri dengan kacamata silindris tipis menghiasi wajahnya dan menambah ia tampak imut.
“Belum pulang, Tan?”
“Belum. Kamu sendiri?”
“Aku belum begitu mengerti dengan daerah sekitar sini. Jalan ke rumah aja aku masih lupa-lupa ingat. Oya, aku boleh tanya sesuatu nggak? ‘Nino hates club’ tuh apaan sih?”
“Itu sih club yang nggak masuk ekskul manapun.”
“Hah? Maksudnya.” Putri tampak kebingungan.
“Iya. Club itu didirikan oleh beberapa cewek yang konon mereka semua adalah mantan Nino. Tapi pentolannya sih cewek cantik yang ada di kelas kita. Rasti, namanya. Bahkan kabarnya club ini juga punya beberapa cabang di sekolah lain.” Putri manggut-manggut mendengarkan penjelasan Tania yang panjang lebar. “Kenapa nih?”
“Ah nggak papa, cuma penasaran aja. Kalau kamu nggak keberatan aku mau tahu siapa yang namanya Nino.” Mendengar keinginan teman barunya, Tania hanya mengiyakan.
~*~*~
Hari kedua di sekolah baru, Putri lebih memilih untuk menghabiskan waktu istirahatnya di perpus untuk mencari materi belajar. Tania, yang selalu menjadi juara umum bersedia untuk membantu Putri ketika menemui kesulitan dalam pelajaran.
“Put, Nino.” Tania berbisik untuk menunjukkan sosok Nino, ketika cowok berwajah indo itu berjalan di depan mereka. Merasa diamati, tak lama kemudian Nino menoleh ke arah Putri dan Tania. Mendekati tempat duduk mereka, dengan langkah yang dihiasi senyum maut. Tanpa disangka-sangka, ia duduk tepat di depan Putri yang masih berusaha keras mengalihkan pandangan bersama Tania. Nino menatap Tania penuh arti yang membuatnya mau tak mau harus meninggalkan Putri bersama cowok yang sama sekali belum diketahui.
“Mau kemana, Tan?” Putri mulai kelimpungan ketika melihat Tania beranjak dari sampingnya. Meski begitu Nino tetap tersenyum penuh arti pada Tania, membuatnya terpaksa berbohong.
“Umb...aku mau ke toilet sebentar.” Meski Tania mengucapkannya dengan auara yang terbata-bata, namun toh Putri menganggukkan kepalanya.
Senyum maut Nino mengawali pembicaraan dengan Putri. “Hai.” Sapa Nino singkat.
“Hai juga.” Sapaan manis itu membuat Putri salah tingkah di hadapan Nino.
“Kamu yang tabrakan sama aku di koridor tempo hari, kan?” tanya Nino menyelidik. Duh kenapa sih ni cowok masih ingat aja? Batin Putri.
“I..iya. maaf banget ya, seharusnya aku yang minta maaf waktu itu, tapi kamu berlalu sebelum aku sempat mengucapkannya.”
“Udahlah nggak apa-apa kok. Aku juga salah. Waktu itu aku hanya memperhatikan kertas, bukan jalan yang ada di depanku.” Putri hanya mampu diam seribu bahasa mendengar penjelasan Nino. “Oya, aku Nino.” Mengulurkan tangannya yang tampak kekar degan jari-jari panjangnya.
“Aku Putri. Kamu anak mana?”
“Oh. Aku anak XI A1. Kamu anak XI A3 kan?” Putri kembali mengangguk, meski hatinya bertanya-tanya bagaimana Nino bisa mengetahuinya. “Nggak usah pasang tampang bingung gitu kali, Put. Aku tahu semua tentang seluk beluk sekolah ini lengkap dengan isinya.” Bukan membuat Putri mengerti, tapi Nino justru membuatnya semakin bingung.
~*~*~
“Ras, Nino punya mangsa baru tuh. Pertunjukan masih berlangsung di perpus.” Chika, si gendut yang merupakan salah satu pelapor pribadi Nino hates club, kembali menyampaikan informasi bagi club patah hati itu pada Rasti. Teman-teman Rasti yang solid langsung mendonnggak di tengah keasyikan menikmati bakso di mangkuk masing-masing.
”Yakin??”
“Ya iyalah, ngapain juga kalau nggak yakin aku kasih tahu ke kalian? Mana bayarannya?
“Tuh makan aja bekas kita. Yuk guys kita selidiki siapa yang akan jadi korban si predator cinta itu selanjutnya. Siapa tahu kita masih bisa manfaatin dia.” Rasti dengan perasaan benci yang telah memenuhi hatinya mengajak teman-temannya beranjak dari kantin.
“Rasti??!” Chika masih berusaha memperjuangkan haknya hingga ia sampai duduk di lantai, dan bersikap seperti anak kecil. Tapi itu toh tak penting untuk Rasti. Ia hanya sempat menoleh ke arah Chika sambil tersenyum jahil melihat Chika yang menampakkan wajah sedih.
~*~*~
Bel istirahat berdentang tepat pukul sembilan pagi. Rasti segera memberi komando kepada tiga orang temannya yang merupakan anggota Nino Hates Club. Serempak mereka mengangguk menanggapi perintah boss-nya. Semalam mereka merencanakan jalan untuk mengambil perhatian Putri agar gadis cantik itu mau membantu misi mereka.
“Hai, Putri.” Sapa Rasti dan teman-temannya keroyokan.
“Hai.” Jawab Putri singkat meski terdengar canggung. Rasa takut sebenarnya mulai menjalar di tubuhnya karena yang menyapanya bukanlah sembarang orang.
“Sendiri aja? Kok nggak keluar?” Rasti kembali melontarkan pertanyaan basa-basi.
“Iya. Tania udah ke perpus duluan. Bentar lagi aku mau ke sana. Kalian mau ikut?”
“Kayaknya ngnggak deh, Put. Kita-kita mau ke kantin aja.” Tiara yang bisa dibilang alergi perpus buru-buru menolak ajakan Putri sebelum Rasti menerima ajakan yang baginya konyol itu. Tanpa disadari Putri, Rasti melayangkan tatapan jengkelnya kepada Tiara yang berani mendahuluinya.
“Oke deh aku ke perpus dulu ya.” Putri segera beranjak dari tempat duduknya yang masih dikerumuni oleh empat anggota Nino hates club dengan membawa beberapa novel terjemahan dalam dekapannya.
“Kenapa, La?” Rasti tampak kebingungan ketika melihat raut wajah Lala yang murung.
“Gimana kalau Nino benar-benar suka sama Putri?” Lala menjawab dengan suaranya yang terdengar manja. “Secara Putri kan cantik gitu.”
“Terus kenapa?! Jangan bilang kalau loe nggak rela Nino jadian dengan orang lain!” Olivia dengan suaranya yang tegas tak segan membentak Lala yang tampak rapuh.
“Lala emang nggak rela. Trus kenapa?!” Merasa haknya tak dihargai, Lala pun balas membentak. Olivia yang tak terima dengan perlakuan Lala beranjak dari tempat duduknya dengan wajah menantang Lala. Sementara itu Lala yang biasanya berlaku lemah lembut dan terkesan manja memberanikan diri untuk menerima tantangan Olivia. Meski hanya diam, namun tatapan mereka penuh kebencian.
Braaaakk!! Rasti melayangkan kepalan tangannya ke meja. “Udah deh jangan kayak anak kecil gini!!”
“Siapa yang anak kecil?” Kata Lala dan Olive serempak.
“Olive, lo tahu Lala sampai sekarang belum bisa melepaskan Nino dari pikirannya. Dan kamu Lala, kamu harus tetap ingat misi awal kita. Kita seharusnya memikirkan bagaimana langkah selanjutnya, bukan memikirkan diri sendiri.” Rasti memelankan suaranya, mencoba terdengar bijaksana, meski itu juga tak berhasil membuat Lala dan Olive meredam amarahnya.
~*~*~
Rasti terus melancarkan aksinya untuk mendekati Putri hingga ia mendapatkan simpati. Tidak mudah memang, karena Putri terlanjur mengenal Nino dari sisi baiknya, dan cenderung tidak mau tahu apa sisi buruk dari Nino. Rasti yang benar-benar ingin Putri bekerja sama dengannya, tak segan-segan membuktikan keburukan Nino.
Lala melangkahkan kakinya keluar dari perpus sambil membawa setumpuk buku hingga pandangannya sedikit tertutup. Di saat yang sama, saat yang tepat untuk Lala, Nino masuk melalui pintu yang sama dengan Lala. Tabrakan itupun terjadi sama seperti apa yang diinstruksikan Rasti untuk menarik perhatian Putri. Semua buku yang dibawa Lala jatuh berserakan, Lala jatuh tertimpa beberapa buku tebal.
“Heh! Jalan tuh pake mata!” Nino tergelitik untuk memarahi Lala  tanpa memperhatikan bahwa semua orang yang ada di perpus tengah menatapnya, termasuk Putri. Lala hanya mengaduh kesakitan sambil menggerutu, gimana caranya jalan pake mata?, yang ternyata terdengar oleh Nino justru membuatnya semakin marah.
Putri yang tak tega melihat Lala diperlakukan layaknya orang yang tak berguna oleh Nino, beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri Lala yang tengah mengaduh kesakitan sambil berusaha menggapai buku-buku yang berserakan. “Nino!” Bentakan Putri membuat Nino terperangah, seolah sesuatu menyumbat tenggorokannya hingga tak mampu mengatakan apa-apa. “Sakit, La? Sini, biar aku bantu.” Dengan susah payah Putri membantu Lala untuk berdiri, sementara Nino yang berdiri di dekatnya sama sekali tak berbuat apa-apa, kecuali melihat.
“Put, aku minta maaf, aku nggak tahu kalau........”
“Udah. Udah. Kamu mau bilang kalau kamu nggak tahu aku ada di perpus, kan? Udah deh No, pergi sana.” Putri terus membereskan buku-buku yang tadi berjatuhan, sambil mengabaikan apapun yang dikatakan Nino.
“La, kamu udah bisa jalan?” Tanya Putri khawatir.
“Udah kok, Put, makasih banyak, ya.” Lala memijit-mijit kakinya yang tertimpa buku, sambil sesekali mengaduh. Nino masih saja tak melakukan kegiatan selain melihat apa yang terjadi.
“Iya, sama-sama. Aku anter ke kelas, ya?” Tanpa basa-basi Lala langsung mengangguk setuju. “Bawa tuh buku!” Tanpa embel-embel nama, Putri menyuruh Nino membantu. Dan tanpa penolakan, Nino bergegas mengambil tumpukan buku, dan berjalan pelan di belakang Putri yang tertatih memapah Lala.
~*~*~
Nino melangkah cepat memasuki rumah setelah turun dari mobil sport-nya. Mengabaikan semua sapaan dari puluhan pembantunya, bahkan terkesan menolak untuk disapa. Ia langsung melangkahkan kaki menuju kamar, membanting pintu kamar keras-keras. Membuat para pembantu yang mendengarnya berkumpul dan sama-sama menanyakan penyebab keanehan sikap Nino.
“Akh!!!” Nino berteriak terlalu keras sampai terdengar keluar kamar dan menghentikan siapa pun yang mendengarnya. Nino yang kesal dengan dirinya sendiri, yang tak bisa meraih maaf Putri, mengobrak-abrik kamarnya. Hanya dalam waktu 10 menit, keadaan kamar besar nan megah itu mirip dengan kapal yang pecah karena menghantam batu karang. Semua koleksi bukunya tersebar di lantai, tak ada lagi buku di rak koleksi. Meja belajarnya juga tampak bersih tanpa buku-buku pelajaran di atasnya. Dan tempat tidur Nino tak kalah berantakan dengan semua bagian utama kamar itu.
Setelah puas membuat keadaan kamarnya sehancur hatinya, Nino tampak kebingungan, seperti orang yang tengah mencari sesuatu. Namun beberapa saat kemudian ia melangkahkan kakinya ke pojok ruangan. Sebuah figura berisi foto seorang gadis cantik yang sedang naik sepeda, kebahagiaan tersirat jelas dalam wajah gadis itu. Meski enggan Nino memungut figura itu, tanpa disadari air mata mengalir pelan dari mata indahnya.
“Kenapa kamu buat aku jadi seperti ini, Re? Kenapa? Kenapa sekarang?” Nino terus melancarkan pertanyaannya sambil memandang foto Pinky. “Setidaknya jangan buat aku terpuruk dalam keadaan yang selama ini sulit ku temui. Kamu tau, terlalu sulit untuk cari pengganti kamu, dan sekarang semuanya harus berantakan.” Nino mulai putus asa hingga kakinya tak mampu lagi menopang berat badan proposionalnya. Akhirnya, ia terjatuh sambil memeluk foto Regina dengan raut wajah yang mengenaskan. Menit demi menit berlalu dan tanpa sadar ia terlelap dan masih memeluk foto Regina.
~*~*~
Tiga hari setelah kejadian tak menyenangkan itu, Putri masih sangat sulit untuk ditemui. Hingga akhirnya Nino menemukannya tanpa sengaja di perpus.
“Put.” Sapa Nino singkat.                       
“Hmmmph.” Hanya itu yang dikatakan Putri ketika ia tengah serius membaca buku.
“Sampai kapan kamu marah sama aku?”
“Sampai kamu bisa bersikap baik sama mantan-mantan kamu.” Tanpa memalingkan wajah dari buku, Putri mencoba menjawab pertanyaan Nino yang mencoba berubah. Bagai bicara pada benda mati, Nino terus membicarakan apa yang diinginkannya, rencananya untuk mengajak Putri ke suatu tempat meski Putri hanya selalu berkata “Hmmmph” tanpa pergi dari buku.
~*~*~

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...