Hari
ini, tepat sembilan belas tahun usiamu. Ya, sembilan belas. Aku tak mungkin
salah menghitung bagaimana usiamu bertambah seiring dengan kedewasaan yang ku
harapkan.
Sederhana
saja, seperti tahun-tahun sebelumnya, aku cukup mengingat tanggal lahirmu
kemudian siap-siap bangun pagi-pagi sekedar untuk mengirim pesan untukmu. Memang
hanya sebatas “Pagi, selamat ulangtahun ya... Semoga segala cita dan harapanmu
terkabul”, tapi kamu belum tahu proses di balik semua itu.
Dulu,
saat untuk pertama kalinya aku mengirim pesan semacam itu padamu, aku harus
mengetik berulang kali. Membuang yang gagal ke draft, kemudian sibuk memilih
satu per satu hanya untuk mengirim yang terbaik untukmu.
Sekarang,
dua tahun sejak kita berada di tempat berbeda dalam meraih mimpi dan aku masih
ingat hari ulangtahunmu. Lengkap dengan segala persiapan yang kulakukan. Mulai dari
menyiapkan kalimat paling sederhana (karena kamu tidak suka orang-orang ribet).
Kemudian mulai menunggu balasan hampir sepanjang siang. Tersenyum saat sore
hari kamu membalas pesanku. Lalu sekejap kebingungan bagaimana harus menjawab
tanyamu “Ini siapa?”.
Seandainya
bisa, ingin ku katakan dengan cara paling sederhana, aku adalah orang yang
lebih dari mengagumimu. Tapi jawaban setiap tahunku pun sama. “Adik kelasmu
kak.”
Pangeran,
apapun itu, bagaimanapun itu. Satu yang pasti, selamat ulangtahun. Terserah
kamu mau berharap apa tahun ini, aku akan bantu untuk mengamininya. Layaknya makmum
yang mengamini setiap doa baik dari imamnya.

No comments:
Post a Comment