Hai,
kawan, masih dalam suasana ramadhan sih, tapi sayang banget emosiku gak bisa
ditahan. Ada sesuatu, lebih tepatnya ada sebuah tugas yang menurutku iya-iya
gak menyenangkan. Tujuan awalnya positif banget, tapi sekarang aku jadi bingung
ini positif atau gimana.
Seperti
biasanya aja sih, di tempatku tinggal selalu mengadakan piket ramadhan. Ada yang
piket ta’jil juga tadarus. Tugasnya? Simple aja kok, intinya cuma menyiapkan
perabot sebelum acara, bagiin bungkusan, trus mengembalikan perabot yang udah dipakai
biar bersih lagi.
Tahun-tahun
sebelumnya oke banget, rekan kerjaku kebetulan orang yang rajin. Jadi, sampai
semalam apapun acara berakhir tetap aja beresin semuanya sampai selesai.
Hebatnya saat itu, aku bisa merasa enjoy,
gak peduli dengan usia yang lebih tua atau yang lebih muda. Soalnya di
tahun-tahun yang sebelumnya itu pikiran kami dipenuhi dengan keinginan untuk
bertanggungjawab pada tugas apapun keadaannya.
Tahun
ini? Sayang banget, rekan kerjaku adalah orang yang masih ingin main-main. Yah,
maklumlah masih bau seragam esempe gitu. Dia itu masih ingin menikmati hawa
malas. Katanya, mending ngambil konsumsi-lah, gak mau cuci gelas-lah, dan aku
paling gak suka kalau dia udah bilang “gak usah yuk, mbak, aku males”.
Well,
alasannya dia yang ini-itu gak jelas akhirnya berhasil mengusirku dari
lingkungan masjid. Iya, aku pulang, bukan karena aku ikut-ikutan males, tapi
nahan godaan untuk marah.
Disini
aku sama sekali gak nyalahin panitia
yang bikin jadwal kok. Karena sebenarnya ini juga ada manfaatnya buat aku. Masalahnya
terletak pada dia yang ogah-ogahan, dan aku yang sampai sekarang belum tahu
bagaimana caranya untuk mendongkrak kemauan dia membantu. Sebagai orang yang
lebih dewasa, sampai detik ini aku baru bisa maklum kalau dia masih pengen asik
pacaran. Alasan klasik mungkin, tapi aku tahu itu.
Sekian
aja deh ceritanya, besok aku bocorin trobosan biar bisa akur sama rekan kerja
yang nggak searah gini.
Good
night
@SNurjanahh
No comments:
Post a Comment