Pages

Wednesday, May 9, 2012

Sekarang Aku


Harus kuakui, aku bahagia saat mendengar suaramu yang kecil itu. Meskipun kadang lebih sering mendengar nada-nada sumbang dan sedih tapi aku mulai merindukannya. Setiap mendengarnya aku seolah kamu bawa berkelana ke hidupmu yang tidak mudah. Tapi aku senang dan aku mulai berharap bisa berada di sampingmu untuk melaluinya.
Aku suka saat melihat senyum melengkung di bibirmu sambil menunggu cerita apalagi yang kamu bawa hari ini. Lesung pipi yang terukir disana menunjukkan bagaimana tulusnya kamu merakit senyum itu di depanku.
Satu lagi, aku suka matamu yang selalu berbinar saat aku memberimu sebuah cerita tentang sisi hidupku. Bahkan jika ceritanya begitu sedihpun kamu masih menghadirkan sinar itu untukku. Katamu, cerita sedih tidak boleh disambut dengan raut sedih, tapi harus dengan raut ceria yang menguatkan. Ya, menguatkan, itu yang perlahan mulai kutunggu darimu.
Satu lagi aku suka caramu memandangku. Tatapanmu itu bisa membuatku merasa seolah aku adalah pangeran yang pantas mendapatkan segalanya. Tatapanmu itu membuatku selalu berlaku dengan diriku yang sebenarnya. Menjadi begitu lembut dan melupakan apa yang biasanya membuatku disegani banyak orang.
Satu lagi, ah terlalu banyak yang kusuka darimu. Bahkan aku tak bisa menyebutkannya satu per satu. Bukan, aku bukan lupa aku hanya merasa benar-benar tidak mampu untuk menyebutkannya. Satu yang pasti, kamu yang terbaik dan aku mulai berharap semoga ini selamanya.
“Jangan memandangku seperti itu.” Katamu sambil memainkan sendok pada gelas es krim di hadapanmu.
“Kenapa?” Jujur saja, kamu ini unik, biasanya kaummu selalu ingin aku pandang setiap detik.
“Aku hanya tidak ingin kamu cepat bosan. Lihatlah sewajarnya saja dan simpan dalam ingatanmu.” Kemudian senyummu melengkung lagi di sana.
Tak tahukah kamu, selekat dan sesering apapun aku memandangmu sebenarnya aku takkan bosan. Aku akan merindukan ini saat kamu pergi nanti. Entah kapan.
“Kenapa kamu masih disini sementara aku sudah pergi ke banyak tempat dan menemukan banyak hal?” Aku kehilangan senyummu saat ini, apa aku menanyakan sesuatu yang salah? Berkali-kali aku merutuk diriku sendiri karena berani membuat senyummu hilang.
“Sebenarnya ini tidak seperti yang kamu pikirkan. Aku sudah mencoba untuk pergi, aku juga sudah menemukan hal-hal lain di dunia ini. Tapi entah kenapa aku selalu kembali ke sini setelah berkelana.” Jawabanmu itu membuatku merasa menjadi manusia paling jahat di dunia ini.
Jadi, selama ini kamu sebenarnya masih menunggu walaupun kamu mencoba untuk pergi? Seandainya aku tahu aku takkan pernah pergi sejak sakit itu ada. Sejak kamu berhasil mengobati luka yang dulu itu. Kenapa kamu tidak memaksaku tinggal saat itu? atau karena kamu ingin melihatku bahagia dengan yang lain walaupun kamu sebenarnya menahan sakit?
“Seharusnya biar aku saja yang merasa sakit. Seharusnya biar saja aku mencari jalan untuk bangkit dan temukan jalan pulang lagi. Sendiri.”
“Jadi itu yang kamu inginkan? Baiklah, terserah kamu saja.” Aku melihatmu bangkit dari tempatmu duduk. Meninggalkan es krim tiramisu yang baru kamu habiskan setengahnya.
Jangan pergi, duduklah di sampingku. Berhenti, kumohon berhenti dan kembalilah kesini, duduk bersamaku dan perlahan memapahku untuk melangkah lagi. Ku mohon.
Sekarang giliranku yang merasakan apa yang pernah kamu rasakan. Biar aku saja yang merasakan ini. Sakit yang berlipat ganda. Ditinggalkannya juga kamu yang pernah membawa obat untukku. Seandainya kamu mau tahu, aku belum bisa bangkit apalagi melangkah menemukan jalan pulang.
Tapi biar saja aku yang menunggumu sekarang. Entah selama apapun itu, sama sepertimu yang menungguku tanpa kenal waktu. Toh katamu kamu akan kembali lagi ke sini walau sejauh apapun kamu melangkah. Biar saja aku yang merintih kesakitan disini walaupun banyak yang datang dan mencoba mengobatinya.
Jika aku bertemu denganmu lagi, aku ingin bertanya, inikah yang kamu rasakan dulu? Sekarang aku tahu tak pernah ada yang mudah saat menunggu. Tapi kenapa dulu kamu bertahan? Biarlah aku sekarang yang merasakan ini. Biar aku sekarang merasakan bagaimana kamu dulu harus meluangkan waktumu.
Aku berharap, ketika nanti kamu ingin kembali pilihlah tempat ini lagi. Di sisiku. Mungkin aku ini terlalu egois, mengharapkanmu kembali ke sini sementara dulu entah kamu berharap aku datang lagi atau tidak.

2 comments:

  1. Manusia itu kadang berubah sifatnya saking bertambah nya umur. :)

    salam kenal ya..kunjungan baliknya
    http://madz666.blogspot.com/

    ReplyDelete
    Replies
    1. bener banget, bahkan ada orang yang sengaja merubah(menjadi lebih baik tentunya)

      salam kenal juga, terimakasih sudah berkunjung :)

      Delete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...