Sembilan
belas. Mungkin kalian lupa aku sudah sebesar ini. Ya, besar belum dewasa. Sudah
selama ini kita hidup bersama dalam satu atap meski kadang harus dipisahkan
oleh puluhan kilometer penguji kesetiaan dan kepercayaan.
Ini
hadiah kecil yang ku berikan untuk kalian. Sebenarnya kalian sendiri yang
mengukir cerita-cerita yang ku tulis disini. Kalian juga yang menciptakan
kata-kata indah, sedang aku hanya merangkainya agar oranglain lebih mudah
membacanya. Kadang senyum, kadang juga tangis. Hidup kita terlalu indah dan
terlalu ‘nyeni’ jika hanya kita nikmati sendiri.
Jadi,
izinkan aku (orang yang susah mengungkapkan perasaan) ini untuk menceritakan
hal-hal penting yang telah kulalui bersama kalian. Kalian bisa membacanya kapan
saja, bahkan dimana pun kalian bisa membacanya. Jika kalian rindukan aku nanti
disaat aku sudah tak bersama kalian, kalian bisa baca ini. Mungkin ini juga
obat untuk lupa yang akan datang lebih sering bersamaan dengan umur kalian yang
semakin bertambah.
Banyak
terimakasih juga banyak maaf yang kuucapkan. Lebih dari sekedar sikap ego di
masa mudaku, aku mengagumi kalian lebih dari mengagumi artis manapun. Aku
mencintai kalian lebih dari cintaku untuk Pangeran Kacamata meskipun tak bisa
melebihi dari cinta kepada Tuhan juga tak mungkin menandingi kasihmu, Ibu,
untukku. Aku berharap memiliki seorang imam yang sebijaksana kau, Ayah.
Terimakasih
untuk kebersamaan selama ini. Baik di akhir minggu maupun di hari-hari lain
melalui dunia maya.
No comments:
Post a Comment