Pages

Tuesday, January 18, 2011

Childish Boy - Cp 2


Childish Boy
Chapter 2
Dini masih sering memperhatikan kelakuan Aga meskipun mereka telah putus. Bukan berarti Dini mengharapkan cowok tinggi putih yang jago taekwondo itu kembali padanya, justru sebaliknya. Dini tengah disibukkan dengan misi rahasianya untuk membantu orang-orang yang siap patah hati karena Aga. Layaknya detektif, Dini menjadi rajin mengikuti kemanapun Aga pergi dan juga mengikuti hampir semua kegiatan Aga. Jam istirahat, lebih banyak ia gunakan untuk duduk di depan kelasnya yang berada di lantai dua. Dari tempat itu, Dini bisa leluasa memandang siapapun yang keluar masuk gerbang sekolah maupun yang main basket. Walaupun menurut survei orang yang sempat main basket saat jam istirahat hanya Aga.
“Din!” kata Tika sambil menepuk pundak Dini yang sedang asyik memperhatkan Aga. Spontan Dini teriak dan tanpa sadar melemparkan novelnya. Mendarat anggun di tepi lapangan basket. Secepat kilat, Dini langsung menutup mulut dengan tangan dan membalikkan badan dari lapangan basket.
“Kenapa sih? Emang gue setan apa, sampe lo ketakutan gitu?”
“Bu..bukan gitu maksudku, Tik. Kamu sih datangnya tiba-tiba. Bener juga sih, jadi kaya Jelangkung.” Tawa membahana karena mereka.
“Pantesan aja kamu kaget, lagi mandang Aga kan?”
“Nggak! Ngapain juga aku masih perhatiin dia, kayak gak ada kerjaan lain aja.” Kata Dini sambil berlalu menuju tangga.
*^*^*^*
Sepulang sekolah, Dini langsung menuju masjid. Di tengah perjalanannya, Dini melihat Aga sedang asyik memperhatikan seorang cewek yang tak jauh berada di depan Dini. Ia sempat menghentikan langkahnya, namun kemudian ia berniat untuk mendekati gadis itu.
“Hai, Niss.” Sapa Dini ketika ia berjalan di sebelah Nissa. Gadis cantik yang merupakan pengurus DKM (Dewan Kehormatan Masjid) ini memang selalu menjadi idola bagi sebagian besar orang di sekolah. Bukan hanya karena kecantikannya yang natural, namun juga karena kebaikannya yang tak pernah dibuat-buat. Ia dikenal sebagai orang yang jujur dan rajin beribadah. Prestasi di bidang keagamaan tak perlu diragukan lagi. Ia pernah mengharumkan nama sekolah melalui lomba MHQ dan MTQ hingga tingkat nasional, dengan berhasil membawa pulang juara pertama.
“Hai, Din. Udah mau pulang?” dengan senyum manisnya yang khas Nissa membalas sapaan Dini.
“Udah, kebetulan hari ini aku gak ada ekskul tapi mau shalat dulu, daripada ditunda-tunda. Nanti kamu pulang bareng aku aja ya? Rumah kita kan searah.” Dengan tatapan memohon, Dini berusaha membujuk Nissa agar gadis cantik nan sederhana itu mau pulang bersamanya.
“Ok deh.” Jawab Nissa singkat. Susana hening sedikit menyelimuti mereka ketika mereka akan memasuki masjid. “Din, boleh tanya sesuatu gak?” Nissa akhirnya kembali membuka pembicaraan.
“Boleh boleh aja. Silahkan.”
“Kenapa sih Aga tega-teganya mutusin kamu? Padahal kamu itu gadis yang baik, dan kamu sosok yang sempurna.” Pertanyaan Nissa bagaikan menyayat kembali luka dalam hati Dini yang bahkan belum sempat sembuh.
Dengan senyum getir yang tentu saja setengah hati akhirnya Dini mencoba menjawab pertanyaan itu. Walaupun sama saja itu akan membuatnya seolah berjalan dengan satu kaki. “Aku melakukan kesalahan yang fatal.” Raut wajah Nissa berubah ketika mendengar jawaban Dini yang terkesan blak-blakan. “Setidaknya kesalahanku ini fatal menurut Aga.” Meski enggan, toh akhirnya Dini menceritakan apa yang telah terjadi padanya. Wajah Nissa seketika tampak kaget dan tampak menakutkan karena rasa panasaran.
“Sabar ya, Din. Cowok bukan cuma dia kok. Dan moga aja Aga bisa tobat dari sikapnya yang gak banget itu.” Nissa sambil meletakkan tangan kanannya di pundak Dini yang hanya mampu menunduk setelah menceritakan apa yang terjadi pada Nissa.
*^*^*^*
Aga sengaja berdiri di dekat tempat wudhu, karena disanalah ia memprediksikan bisa mendengar sekaligus melihat apa yang terjadi. Ia telah melihat semua kejadian dan semua pembicaraan yang terjadi antara Nissa dan Dini. Sikap Nissa yang berusaha menenangkan Dini di tengah kesedihannya memang membuat Aga semakin terkesan dengan Nissa. Namun di sisi lain, semua itu juga membuat Aga semakin membenci Dini. Ia sama sekali tak mengira Dini membeberkan semua masalahnya kepada Nissa. Semua yang dilihatnya membuat Aga ragu Nissa akan menerimanya walau sebesar  apapun perasaan Aga untuk Nissa.
Amarah memenuhi benak Aga. Benar-benar marah hingga tanpa sadar, kaki Aga menyentuh terban. Suara terban yang benar-benar nyaring membuat hampir seluruh orang yang ada di masjid menatap Aga dengan tatapan ingin tahu. Aga tak menyempatkan diri untuk membereskan tumpukan terban, sebaliknya ia meninggalkan tempat kejadian bagaikan orang yang tak punya dosa setelah menabrak seorang setengah baya.
Aga tak mau lagi kembali ke dalam masjid meskipun guru PKn yang kebetulan saat itu telah usai shalat sibuk meneriaakkan namanya. Tak sedikitpun ia hiraukan panggilan itu dan terus berlari menuju parkiran.
*^*^*^*
Sikap Aga yang tak mau mempertanggungjawabkan kesalahannya perlahan membuat Nissa mengambil kesimpulan, bahwa Aga memang bersikap layaknya anak kecil. Tak seharusnya seorang cowok keren yang terlihat badung melarikan diri dari sebuah kesalahan yang sebenarnya bisa langsung diselesaikan. Argumen-argumen tentang Aga mulai memenuhi memori otak Nissa. Sampai ia berniat untuk memberi pelajaran pada cowok itu.
Nissa tak bisa hanya diam saja menanggapi kelakuan Aga. Dengan sisa keberanian yang masih ada dalam lubuk hatinya, setelah dimarahi guru pembina DKM, Nissa berniat untuk mengirim SMS pada Aga. Isinya simpel saja, ia hanya ingin Aga meluangkan waktunya untuk menemui Nissa.
*^*^*^*
Konsentrasi Nissa mulai buyar ketika seseorang dengan lantang meneriakkan namanya dari depan kelas yang paling ujung. Aga berdiri di depan kelasnya, dengan tangan melambai-lambai untuk menggapai perhatian Nissa yang tengah duduk di lantai depan kelasnya sambil membaca buku tentang filosofi Islam. Senyum setengah hati sempat terlihat menghiasi wajahnya yang putih bersih sebelum akhirnya kembali ke buku. Tak lama kemuadian, Aga sudah duduk di sampingnya, mencoba mengajaknya berbicara meskipun Nissa tak pernah menanggapi.
“Kenapa?” tanya Aga dengan suara yang tak menentu bagi Nissa.
“Aku cuma mau kamu tanggungjawab.” Nissa masih setia menatap tulisan yang ada di buku dan tak terlihat ia berniat untuk memalingkan wajah dari bukunya.
“Tanggungjawab??” TanyaAga dengan penuh rasa penasaran. “Tapi kita belum pernah ngapa-ngapain.” Spontan pernyataan Aga membuat Nissa memukul kepala Aga.
“Dasar cowok ngeres. Bukan itu.” Kesunyian yang penuh kecanggungan sempat terjadi. “Kamu harus merapikan hati Dini lagi.”
“Maksudnya?”
“Yah, kamu inget? Kamu kemarin udah merusak susunan terban. Membuatnya berserakan dan berbunyi nyaring seolah seseorang melemparkannya dari lantai dua.” Sejenak Nissa berhenti. “Setidaknya, itulah yang terjadi pada Dini, hatinya hancur waktu kamu ninggalin dia.” Aga menampakkan wajah cupunya.
 “Kalo aku tahu kamu cuma mau ngomongin Dini, aku gak akan kesini.” Aga mulai beranjak dari tempat yang didudukinya. Berniat kembali lari dari masalah.
 “Jangan harap kamu bisa deket sama aku kalau kamu masih kaya gini.” Nissa berusaha menatap Aga di setiap kata yang keluar dari mulutnya. “Aku gak mau deket sama orang yang hanya mementingkan diri sendiri.” Perlahan, tangannya melepas genggaman yang kemudian disesalinya itu.
Dalam setiap langkah Aga, ia sibuk menimbang-nimbang apa yang harus dilakukannya. Karena setidaknya dua hal yang dihadapkan padanya saling berkaitan. Hingga akhirnya terbesit niat dalam hatinya untuk memperbaiki segalanya.
&,,,,,,,,,,,,,,,,&

4 comments:

  1. This is made me laugh so hard
    “Aku cuma mau kamu tanggungjawab.” Nissa masih setia menatap tulisan yang ada di buku dan tak terlihat ia berniat untuk memalingkan wajah dari bukunya.
    “Tanggungjawab??” Tanya Aga dengan penuh rasa penasaran. “Tapi kita belum pernah ngapa-ngapain.” Spontan pernyataan Aga membuat Nissa memukul kepala Aga.
    Woi, Aga such a pervert... He's, you know not only childish but also some dirty minded...
    ILUSFM for this...... <3

    ReplyDelete
  2. YYYYYYYeeeeeeeeeessssssssssssssss
    but Aga in the real life is so quiet, like Kui Xian. One time he's playing game and a second later, he had his brother's head on the ground.
    Don't believe it? Ask Disa.

    ReplyDelete
  3. Haha...i'm not believe if he's like Kui Xian..

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...