Pages

Wednesday, December 1, 2010

childish boy - Cp 1

Aga langsung membanting pintu kamarnya ketika baru saja pulang dari sekolah. Suara pintu masih terdengar keras hingga dapur, padahal jarak antara kamar Aga dengan dapur tak bisa dibilang dekat. Harus melewati ruang tamu kedua dan ruang keluarga yang cukup luas serta ruang makan besar. Semua yang dilakukan Aga membuat mamanya yang tengah memasak buru-buru mematikan kompor dan mendatangi kamar Aga.
Tok tok tok!!!! Mama Aga mulai mengetuk kamar Aga. Tak ada jawaban sama sekali dari dalam kamar Aga.
“Aga... kamu sudah pulang nak?” suara mama Aga yang terdengar merajuk ingin tahu tetap tak mendapat jawaban dari Aga. Mamanya kemudian kembali mengetuk daun pintu kamar Aga. Setelah beberapa saat kemudian, ketika mama Aga berpikir untuk meninggalkan kamar Aga, barulah terdengar suara Aga dari dalam kamar. Aga mempersilahkan mamanya untuk masuk. Dengan tenang, mama Aga mulai membuka pintu dan melangkah menghampiri Aga, anak bungsunya yang tengah memainkan rubik mirror di kursi malasnya.
“Kenapa Ga? Ada masalah?” mama Aga mengambil posisi duduk di dekat Aga agar dapat mendengarkan suara Aga yang kecil jika tenagh bercerita. Dengan malas, Aga hanya menjawabnya dengan anggukan.
“Masalah apa?” mamanya kembali menunjukkan sikap ingin tahu akan apa yang terjadi pada Aga.
“Biasa, Ma, beda pendapat lagi sama Dini.” Mendengar jawaban anak bungsunya, mama Aga hanya mampu tersenyum sambil membelai rambut Aga yang hitam nan halus. “Kok mama malah tersenyum, seharusnya mama bantu Aga supaya masalah Aga cepat selesai.” Suaranya terdengar jengkel sebagai penolakan akan sikap mamanya.
“Semua masalah yang kamu hadapai tentang beda pendapat, itu terjadi karena kesalahan kamu sendiri.....”
“Coba kalau kamu berubah menjadi sedikit lebih dewasa. Mau ngalah sama orang lain, apalagi dengan kaum hawa, mereka ingin mendapat perhatian. Ingat, kamu nantinya akan memimpin perempuan pilihanmu. Kamu memang anak bungsu yang selalu mendapat perhatian lebih dari kami, tapi di luar sana kamu adalah seorang individu ynag sedang mengalami masa perkembangan.” Perkataan Aga membuat mamanya hanya mampu tersenyum malu, ketika menyadari Aga telah bosan dengan kalimat panjang itu. “Mama mau mengatakan itu semua kan?”
“Iya, kamu udah hafal ya, Ga? Syukur deh kalau gitu. Tapi mama akan lebih seneng kalau kamu mau mengamalkan semua itu, nak. Berubahlah menjadi kamu yang lebih baik dari sekarang. Jangan pernah malu untuk mengakui bahwa pendapat orang lain itu lebih baik dari kamu sendiri. Dan jangan pernah takut untuk mengadakan perubahan dalam kebaikan.” Mama Aga memutuskan untuk meninggalkan Aga yang masih terlihat serius memikirkan nasehatnya. “Mama yakin kamu pasti bisa,Ga” kata mama Aga sambil melangkahkan kaki keluar tanpa menengok Aga yang masih terdiam membisu karena tak yakin.
***
Malam yang panjang selalu Aga temui setelah ia baru saja bertengkar dengan pacarnya, Dini. Seorang gadis cantik yang menyukai berbagai olahraga seperti Aga. Selain itu ia juga termasuk dalam gadis yang selalu berpenampilan modis. Dini memang selalu bersikap dan memang memiliki sifat yang lebih dewasa dibanding Aga. Beruntunglah Aga memiliki pacar seperti Dini, karena Aga adalah tipikal orang yang keras kepala dan tak pernah mau ngalah seperti layaknya anak kecil. Yah, bisa dibilang Aga ini childish, meskipun tak pernah ada orang yang berani mengatakannya secara langsung. Tapi seperti apapun sikap yang ditunjukkan Aga, Dini tetap berusaha untuk mempertahankan hubungannya dengan Aga. Satu-satunya cowok yan pas dengan tipe Dini secara hobi.
Aga sedang duduk di depan meja komputernya, mencari bahan tambahan untuk belajar seminggu kedepan dengan memanfaatkan koneksi internet rumahnya. Ia teringat hal-hal manis dan pahit yang telah ia lalui bersama Dini. Masih teringat jelas di benak Aga, ketika pertama kali ia bertemu dengan Dini ketika latihan taekwondo, dan setelah beberapa kali bertemu kemudian jadian. Selain itu, Aga juga mengingat semua pertikaian ala orang pacaran yang pernah mereka hadapi. Setelah melewati perenungan panjang, Aga menyadari bahwa selama ini, setiap permusuhan yang terjadi karena kesalahannya sendiri. Tanpa pikir panjang, Aga langsung memasukkan alamat sebuah situs jejaring sosial pada addres bar. Aga bergegas untuk memasukkan user name beserta password. Beberapa notifications muncul ketika Aga pertama kali membukanya. Beberapa di antaranya adalah pertanyaan yang selalu muncul ketika ia berseteru dengan Dini. Pikirannya tertuju pada sebuah akun yang juga mengirimkan pesan ke profil Aga.
‘Dini Anggara Putri’ > Aga Royyan P
Maafin Dini, kalo hari ini bikin Aga marah, maaf juga kalo banyak teman-teman Dini yang mengirim pesan ke profil Aga. Tapi Dini gak pernah nyuruh mereka untuk melakukan itu. Dini benar-benar minta maaf. Gak papa kalu Dini memang harus bolos latihan agar bisa pergi bareng Aga.
Sebentuk senyum terbentuk di bibir Aga setelah membaca pesan dari Dini. Ia hanya sempat membalasnya lewat comment. Dia menyatakan penyesalannya atas kejadian siang tadi, dia juga berjanji untuk tidak mengulanginya lagi. Entah apa ynag akan dilakukan Dini. Mungkin ia akan percaya, tapi mungkin juga tidak. Karena selama ini, Dini sudah terlalu sering mendegar kata maaf dan janji yang tak pernah dipenuhi.
***
Dini hanya mampu duduk terdiam di atas tempat tidur sambil merangakai kata yang akan ia katakan esok ketika bertemu Aga. Dia ditemani kakaknya yang masih setia menunggu unek-unek yang akan dikatakan Dini sambil mengutak-atik tugas kuliahnya. Pandangan Dini kosong dan pikirannya hanya terfokus pada apa yang akan ia katakan pada Aga. Kakaknya terus menerus memberikan petuah, namun seolah semua itu tak ada gunanya lagi. Dini juga tak menyerap apa yang dikatakan kakaknya. Meski nyatanya, kadang Dini juga mengggapi kata-kata kakaknya dengan suara malasnya.
Semua yang dikatakan kakaknya, seolah justru membuat Dini semakin berat untuk melancarkan rencananya. Dini baru terbangun dari lamunannya ketika kakaknya menapuk bahu Dini dengan kerasnya. Memberitahu bahwa Aga memberikan comment pada situs jejaring sosialnya. Sebentuk senyum yang diikuti dengan wajah yang murung, terlihat jelas di wajah Dini. Tak mampu lagi ia menyembunyikan sesuatu yang menyakitkan itu dari kakaknya.
***
Dini menunggu Aga, duduk di bawah suatu pohon yang rindang di taman yang telah dijanjikan Aga menjadi tempat ketemuan. Wajah Dini masih menyisakan sebuah kekecewaan, kesedihan, dan pucat yang sulit ia ganti dengan wajah ceria. Bagi mereka yang sempat memperhatikan wajah Dini, masih terlihat matanya begitu sayu dan sembab karena tangis tadi malam. Tak mungkin ia menangis jika bukan karena suatu alasan yang membuat hatinya begitu sakit. Tak mungkin Dini yang terkenal tomboy rela meneteskan air matanya hanya karena cowok, jika bukan karena cowok itu keterlaluan. Tak mungkin Dini akan sanggup menyulut kemarahan kakaknya yang memiliki pacar seorang atlet taekwondo nasional. Jika itu terjadi, bukan hanya cowok yang menyakiti Dini yang jadi tumbal, namun keluarganya juga bisa ikut menjadi tumbal.
Sekitar sepuluh menit kemudian, barulah Aga muncul dengan membawa sebuah rangkaian bunga lili favorit Dini. Sebentuk senyum sempat terlihat samar ketika Dini menyambut kedatangan Aga. Meskipun sebenarnya Dini harus menahan rasa sakit dalam hatinya ketika berusaha sekuat tenaga membuat senyum itu terlihat natural. Namun tak seperti biasanya, Dini yang biasanya berdiri menyambut kedatangan Aga, tetap duduk di kursi bawah pohon tanpa bergeser sedikitpun. Seolah tak ingin membuat masalah baru, tak ingin apa yang ia lakukan salah di mata aga.
“Untuk kamu, Din” kata Aga sambil menyerahkan rangkaian bunga yang dibawanya khusus untuk Dini. Senyum setengah hati yang kian terlihat dipaksakan tersirat di wajah Dini ketika mengulurkan tangannya untuk menerima rangkaian bunga.
“Ga, Dini mau ngomong serius” kata Dini setelah Aga duduk di kursi yang telah mereka klaim menjadi milik mereka.
“Ngomong apa?”
“Maaf, kalau selama ini Dini sering buat kamu marah. Maaf kalau selama ini Dini gak bisa jadi pacar yang baik. Maaf kalau Dini sering buat kamu marah setiap kali Dini gak bisa menemani kamu.” Aga mencoba untuk menyerap apa yang dikatakan Dini, mencoba mengerti apa yang dikatakan pacarnya. Suara Dini berhenti sampai Aga menatap lekat kedua mata gadis itu. “Dini sayang sama kamu, tapi Dini rasa cukup sampai disini hubungan kita.” Aga tampak bingung dengan apa yang dikatakan gadis tomboy itu, ia sampai menautkan kedua alisnya untuk agar Dini berkenan menjelaskannya. Namun Dini tak mau lagi menatap mata Aga, ia hanya mampu menunduk dan terus menunduk.
“Tapi aku gak mau putus sama kamu, Din. Aku masih sayang sama kamu.”
“Dini tahu itu, tapi Dini juga gak mau terus-terusan seperti ini. Terus-terusan ngalah sama kamu. Sekali lagi maaf.” Dini mengembalikan rangakaian bunga kembali kepada Aga, dan meninggalkan Aga dengan langkah berat sebelum Aga sempat menjawab apakah ia setuju dengan keputusan yang Dini buat. Kalaupun Aga tidak menerima keputusan Dini, mungkin Dini juga akan tetap melanjutkan apa yang telah menjadi keputusannya.
“KAMU BOLEH TINGGALIN AKU, DIN! TAPI JANGAN HARAP KITA AKAN PUNYA HUBUNGAN BAIK SETELAH INI! JANGAN HARAP!!! Aga berteriak dengan keras, entah karena marah atau memang karena ia ingin Dini mendengarnya.
Gadis tomboy itu tetap berjalan, tak melambatkan langkahnya sedikitpun bahkan menghentikannya. Baginya, sesuatu yang telah dilakukan, tabu untuk dibatalkan. Ia telah memutuskan untuk tak pernah mengingat Aga lagi. Seolah ia ingin hilang ingatan untuk melenyapkan semua kenangan dengan seseorang yang telah menyakitinya. Seseorang yang hampir saja membuatnya depresi, jika saja ia tidak mengambil keputusan yang tepat. 
Saat perjalanan pulangnya, Dini sibuk memikirkan segala sesutu yang patut dijadikan pengalaman berharga. Apapun yang akan terjadi setelah kejadian di taman akan menjadi pengalaman yang mungkin juga akan berguna bagi oranglain. Dini telah menyiapkan mental agar dapat mengatasi segala sesuatu yang akan terjadi di hari-hari yang menantinya. Baginya, tak masalah jika ia harus merasakan sakit sekarang, daripada ia harus merasakannya ketika ia sudah benar-benar mencintai Aga. Semua yang dialami Dini bersama Aga telah membuatnya menjadi orang yang selalu punya tekad bulat. Tak mungkin ia melakukannya jika bukan karena tekanan batin yang ia rasakan selama ini.
***
Aga masih duduk di bangku yang mengingatkannya dengan semua kenangan bersama Dini. Sambil setengah berharap Dini akan kembali padanya, pikirannya terus menampakkan kenangan masa lalu layaknya sebuah film. Semakin banyak kenangan yang muncul dari pikirannya, maka hal itu juga akan semakin membuat Aga marah. Dibuangnya rangkaian bunga lili yang indah itu. tak ingin lagi menatapnya apalagi membawanya pulang.
***
Bel dua kali telah terdengar dari semua ruangan di sekolah. Tanda jam istirahat telah dimulai. Siswa keluar dari ruangan masing-masing menuju kantin atau tempat lain yang bisa membuat pikiran mereka lebih fresh ketika kembali ke kelas. Sedangkan para guru menuju ruang guru untuk mengadakan breefing selama istirahat berlangsung.
Aga memilih lebih memilih untuk pergi ke lapangan basket, sekadar memainkan bola basket kesayangannya untuk mengurangi rasa bosan dan kesal pasca putus dengan Dini. Ke kantin adalah suatu kegiatan yang sama sekali tak menguntungkan baginya, terlebih saat ia sedang marah. Suasana hati yang sedang panas bisa membuat porsi makannya bertambah. Bukan karena Aga tak mampu membayarnya, tapi karena ia ingin mempertahankan berat badannya untuk kejuaraan taekwondo.
***
Dini berjalan santai menuju kantin bersama kedua sahabatnya. Tawa terdengar ketika salah satu dari mereka membuat lelucon. Dini tampak bahagia ketika berada bersama sahabatnya, tak terlihat sedikitpun rasa sdih sisa kemarin. Hanya kebahagiaan yang nampak di wajah cantiknya. Seolah ia kembali menemukan sesuatu  yang lebih baik untuk dinikmati daripada merasa sedih pasca putusnya dari Aga. Seolah ia telah melupakan semua hal buruk yang kemarin sempat menimpanya.
Tawa Dini berhenti seketika ketika seorang cowok mendrible bola basket warna hitam. wajah Dini telah berubah merah padam karena marah. Berani-beraninya cowok itu menghentikan kebahagiaannya. Belum sempat Dini memaki cowok itu, ia telah melihat tampang si cowok dan langsung mengurungkan niat untuk memarahi cowok itu. dini lebih memilih untuk diam dan mengalihkan pandangannya dari Aga. Sementara Aga lebih memilih untuk meninggalkan Dini sambil berlari membawa bola dalam dekapan.
“Kamu gak papa, Din?” kata Tika, seorang cewek yang jago tari meskipun tubuhnya bisa dibilang berisi.
“Gak papa kok. Jalan lagi yuk. Dah laper nih.”
***
Entah mimpi buruk apa yang selalu datang dalam tidur Dini setelah ia putus dengan Aga. Jangankan untuk menyapa Aga, sekadar menatapnya pun Dini tak punya keberanian. Bukan karena Dini takut keputusannya salah, namun karena Aga selalu menatapnya dengan tatapan mengerikan. Aga tak pernah menatap Dini dengan biasa-biasa saja, karena ia selalu menatap Dini dengan tatapannya yang paling garang. Seolah ia selalu ingin menyakiti Dini dengan jurus-jurus taekwondonya. Ingin meratakan wajah Dini dengan tendangan nario chagi, ingin membuat Dini muntah dengan tendangan dolyo atau yap chagi. Serta sederet gerakan lain yang selalu mampu memunculkan resiko jika tidak digunakan pada seseorang yang memiliki ilmu minimal sama.
Setiap kali Aga melayangkan pandangan sinisnya, Dini tak pernah menghindar. Ia tak ingin Aga semakin merasa puas dengan apa yang ia lakukan. Ingin rasanya Dini melihat Aga memperlakukan cewek lain. Mungkinkah Aga masih akan bersikap layaknya anak kecil dengan gadis lain?
,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,

1 comment:

  1. hehehe, typosnya masih banyak tu...
    Coba deh seblum di posting di beta-ed-kan dulu ama Bilqish ato siapa kek, Yen-yen maybe. ^^
    Nek aqu ra iso, malah keganti ntar jlan critanya.
    satuuuuuuu lagi, kok nyatut-nyatut nama orang di dunia nyata, wuuu
    Minta lisensi dlu sana, 1 juta/nama oke?
    Dibayarnya ke tempat quw, tnang bsa kredit.... XD
    Thanks for such great story^^
    *You don't comment in mine, =(*

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...