Pages

Monday, March 4, 2013

Kamu dan Semua Kalimat Itu

Dear, kamu selaku penasihat jiwa ini
Aku sering seterpuruk ini, bahkan kadang keadaanku lebih mengerikan dari seseorang yang ditinggalkan kekasihnya saat menjelang pernikahan. (naudzubillah).
Aku sering semudah ini digoyahkan oleh sebuah keraguan. Seolah keraguan adalah angin topan, sementara aku hanya pohon ilalang yang mencoba tetap tegak disaat yang lain menyerah pada kuatnya terpaan angin.
Kadang aku juga terlalu tak memikirkan, pikiranku menjangkau terlalu jauh sementara yang sebenarnya ada hal yang lebih dekat meminta perhatian. Kadang mataku seolah tak melihat hal yang justru lebih dekat seolah hidung dan mulut, tapi mataku sudah berani menatap mata kaki.
Kadang aku mengharap kesempurnaan, tapi aku sendiri tak kunjung beranjak dari kursi empuk untuk menciptakan kesempurnaan itu.
Mungkin ini bukti kalau Tuhan tak pernah berhenti mengingatkan manusia. Di saat semua hal sulit menghampiriku, di saat keraguan akhirnya muncul tanpa pernah diharapkan, kamu didatangkan. Duduk berdua denganku kemudian aku mulai menceritakan (lebih tepatnya mengeluh) tentang apapun. Tentang aku, dia, mereka, bahkan dia yang kadang membuatku bertanya akan ada atau tidaknya tugas pada pundakku ini. Itu saja, tapi itu lebih dari cukup.
Aku tak pernah mampu membayangkan bagaimana jika tak ada kamu. Kamu bukan lagi terlalu berguna, tapi kamu terlalu berharga. Kamu, juga perempuan terhebat yang pernah aku temui.
Semua kalimat yang kamu lontarkan layaknya cambuk yang melukai goresan-goresan kemalasan. Kalimat yang seolah menunggu aku menjadi orang yang sukses. Kalimat-kalimat yang begitu hebatnya membuatku bertahan lebih lama dalam kondisi yang kadang lebih mengkhawatirkan dari sebuah sekarat.
Kali ini bukan sajak, aku sudah lelah seharian mengerjakan banyak tugas. Hanya sebuah untaian kata terimakasih karena kamu mau mendengar apa yang aku katakan, meskipun dengan gaya bahasa yang kadang sulit diterima manusia biasa. Ada nada-nada sumbang yang kadang mewakili kekecewaan, tapi kamu tetap bertahan mendengarkan.
Kalau aku hebat, itu juga karena kamu. Itu saja.

seseorang yang kekanak-kanakkan ini membutuhkanmu :)

Tuesday, February 26, 2013

Sembilan Belas


Sembilan belas. Mungkin kalian lupa aku sudah sebesar ini. Ya, besar belum dewasa. Sudah selama ini kita hidup bersama dalam satu atap meski kadang harus dipisahkan oleh puluhan kilometer penguji kesetiaan dan kepercayaan.
Ini hadiah kecil yang ku berikan untuk kalian. Sebenarnya kalian sendiri yang mengukir cerita-cerita yang ku tulis disini. Kalian juga yang menciptakan kata-kata indah, sedang aku hanya merangkainya agar oranglain lebih mudah membacanya. Kadang senyum, kadang juga tangis. Hidup kita terlalu indah dan terlalu ‘nyeni’ jika hanya kita nikmati sendiri.

Tuesday, November 6, 2012

Rapuh


Apa lagi yang bisa kuharapkan dari sebuah kisah yang rapuh?
Kisah yang koma dan menyimpan lebih dari ribuan tanya kenapa kita dipertemukan

Kemana saja kita?
Sibuk dengan urusan masing-masing?
Mengejar mimpi masing-masing sampai lupa menyapa?
Sibuk dengan hati masing-masing?
Mengejar cinta yang kadang menjatuhkan?

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...